Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Hidup Berjalan di Antara Masjid dan Rumah Sakit

Iklan Landscape Smamda
Ketika Hidup Berjalan di Antara Masjid dan Rumah Sakit
Foto: Pexels
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Suatu pagi, selepas azan subuh berkumandang, seorang lelaki tua berjalan perlahan menuju masjid. Langkahnya pendek-pendek. Tangan kirinya menggenggam tongkat, sementara tangan kanannya sesekali memegang dada, mengatur napas yang tak lagi sepanjang dulu.

Di setiap beberapa meter, ia berhenti sejenak, bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya meminta waktu untuk beristirahat.

Di waktu yang lain, pada pagi yang berbeda, lelaki yang sama duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di tangannya bukan lagi tasbih, melainkan map berisi hasil laboratorium, resep obat, dan jadwal kontrol berikutnya.

Nomor antrean dipanggil bergantian. Wajah-wajah yang menunggu hampir serupa: rambut memutih, langkah melambat, dan mata yang menyimpan banyak cerita.

Begitulah wajah kehidupan di masa lansia. Semakin bertambah usia, ruang kehidupan seakan mengecil. Perjalanan jauh mulai jarang dilakukan. Ambisi perlahan ditinggalkan.

Kesibukan yang dahulu memenuhi hari berganti dengan rutinitas yang sederhana. Bagi banyak orang tua, hari-harinya kini lebih sering berputar di antara dua tempat yang semakin akrab: masjid dan rumah sakit.

Langkah di masa tua memang tak lagi panjang, tetapi justru di situlah arah menjadi semakin terang.

Bukan lagi soal ke mana kaki melangkah, melainkan ke mana jiwa akan pulang. Masjid adalah panggilan yang lembut. Rumah sakit adalah panggilan yang tak bisa ditunda.

Di masjid, manusia masih memiliki pilihan untuk datang. Ketika azan berkumandang, seseorang bisa menjawab panggilan itu dengan kesadaran dan kerinduan.

Sebaliknya, ke rumah sakit sering kali seseorang datang bukan karena ingin, melainkan karena dipanggil oleh rasa sakit, oleh tekanan darah yang naik, oleh gula darah yang tak terkendali, oleh jantung yang mulai melemah, atau oleh tubuh yang perlahan mengingatkan bahwa usia tidak bisa ditawar.

Di usia senja, jadwal salat sering berdampingan dengan jadwal kontrol dokter. Tasbih berada di saku yang sama dengan obat-obatan. Al-Qur’an terletak bersebelahan dengan buku rekam medis.

Tidak sedikit lansia yang selepas salat Subuh langsung meminum obat pagi. Setelah salat Zuhur, mereka memeriksa tekanan darah. Selepas Asar berjalan pelan mengelilingi halaman rumah sebagai terapi ringan. Menjelang Magrib kembali menghadap Allah, lalu malam harinya beristirahat lebih awal agar esok masih diberi kekuatan menjalani hari.

Hidup menjadi lebih sederhana, tetapi sekaligus lebih bermakna. Sajadah mengajarkan manusia untuk tunduk sebelum tubuh benar-benar tak mampu berdiri.

Sementara ranjang perawatan mengajarkan kepasrahan ketika seluruh tenaga telah ditarik pergi.

Di masa lansia, hidup memang seperti dipersempit pada dua ruang: ruang ibadah dan ruang perawatan.

Namun sesungguhnya, yang sedang diuji bukanlah kekuatan tubuh. Melainkan kesadaran.

Kesadaran bahwa waktu yang dahulu terasa sangat panjang kini melaju begitu cepat.

Kesadaran bahwa kesempatan yang dahulu sering ditunda ternyata tidak pernah benar-benar menunggu.

Kesadaran bahwa umur bukanlah jumlah tahun yang dimiliki, melainkan kesempatan yang tersisa.

Masa tua bukan sekadar fase menua. Ia adalah fase pembuktian. Apa yang dahulu ditanam, kini dituai tanpa bisa ditawar.

SMPM 5 Pucang SBY

Orang yang sejak muda membiasakan dirinya mendengar azan akan merasa ada yang hilang ketika tidak bisa melangkah ke masjid. Bahkan saat lutut mulai nyeri, tongkat menjadi teman berjalan, dan napas mulai pendek, mereka tetap berusaha memenuhi panggilan itu semampunya.

Bukan karena tubuhnya kuat. Tetapi karena hatinya telah lama terbiasa pulang ke rumah Allah.

Sebaliknya, ada pula yang sepanjang hidup terlalu sibuk mengejar dunia. Ketika usia senja datang, yang tersisa sering kali hanyalah penyesalan. Harta memang ada, jabatan pernah diraih, tetapi hati terasa asing dengan masjid. Salat yang dahulu mudah ditunda kini ingin dikejar, sementara tubuh sudah tidak lagi sekuat dulu.

Jika masa muda dipenuhi ambisi dunia semata, masa tua sering dihantui kegelisahan.

Namun jika masa muda disirami iman, masa lansia dapat menjelma menjadi taman ketenangan meskipun tubuh mulai rapuh.

Ada yang tetap melangkah menuju masjid dengan kaki gemetar karena hatinya telah lama menetap di sana.

Ada pula yang terbaring di ruang perawatan, dipenuhi selang infus dan monitor detak jantung, tetapi lisannya tak berhenti melafalkan dzikir. Tubuhnya mungkin lemah, namun jiwanya tetap teguh bersama Allah.

Di titik inilah perbedaan fisik menjadi tidak lagi penting. Yang menentukan adalah kebiasaan jiwa.

Sebab pada akhirnya, masjid dan rumah sakit bukanlah dua dunia yang saling bertentangan.

Keduanya justru menjadi dua ruang yang mengingatkan manusia akan satu tujuan yang sama: pulang kepada Allah.

Bedanya, masjid mengajak manusia datang dengan kesadaran. Sedangkan rumah sakit sering kali menjadi peringatan ketika kesadaran itu terlambat tumbuh.

Karena itu, pesan yang tersisa sesungguhnya sangat sederhana, tetapi justru paling sering diabaikan.

Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah. Jangan menunggu lemah untuk memperbaiki sujud. Jangan menunggu tubuh renta untuk mulai mencintai masjid.

Sebab ketika badan masih sehat, kaki masih ringan melangkah, mata masih terang membaca Al-Qur’an, dan suara masih mampu mengucapkan dzikir, semua itu bukan sekadar tanda kesehatan. Itu adalah undangan.

Dan ketika tubuh mulai terbaring, ketika dokter lebih sering ditemui daripada sahabat lama, ketika obat menjadi teman sehari-hari, itu pun bukan semata-mata ujian.

Ia adalah teguran yang penuh kasih sayang agar manusia kembali mengingat tujuan akhirnya.

Resonansi kehidupan itu sebenarnya sederhana. Masjid memanggil sebelum kita benar-benar dipanggil. Rumah sakit menahan sebelum kita benar-benar dipulangkan.

Di antara keduanya hanya ada satu pembatas yang tak kasatmata, tetapi menentukan segalanya. Kesadaran. Dan waktu. Tidak pernah menunggu kesadaran itu tumbuh.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 07/08/2026 06:16
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu