Ada orang yang semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hatinya. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, semakin ia merasa masih banyak yang belum diketahuinya. Semakin luas pengaruhnya, semakin ia berhati-hati agar tidak merendahkan orang lain. Itulah salah satu wajah tawaduk.
Tawaduk adalah sikap rendah hati, sopan dalam pergaulan, dan tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ia lahir dari kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Apa pun yang kita miliki—ilmu, jabatan, harta, popularitas, kecerdasan, bahkan kesehatan—sesungguhnya adalah titipan Allah.
Karena itu, orang yang tawaduk tidak sibuk membanggakan dirinya. Ia tahu bahwa hari ini dirinya mungkin berada di atas, tetapi bukan berarti selamanya akan berada di atas. Hari ini ia memiliki kesempatan, tetapi esok belum tentu. Hari ini ia dipuji, tetapi suatu saat mungkin dilupakan.
Kita mungkin pernah melihat seseorang yang ketika belum memiliki jabatan begitu mudah menyapa. Ia tidak sungkan duduk bersama siapa saja. Ia ramah kepada orang yang lebih tua maupun lebih muda. Bahkan kepada orang yang secara sosial berada jauh di bawahnya pun ia tetap menghormati.
Namun, setelah mendapatkan jabatan, sikapnya berubah. Dulu mudah ditemui, sekarang sulit disapa. Dulu mau mendengarkan, sekarang lebih suka didengarkan. Dulu tersenyum kepada siapa saja, kini hanya ramah kepada orang-orang yang dianggap penting. Padahal jabatan tidak semestinya mengubah hati.
Justru ketika seseorang memperoleh kedudukan lebih tinggi, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Begitu pula dengan ilmu. Orang yang benar-benar berilmu biasanya tidak merasa paling pintar. Ia memahami bahwa ilmu yang dimilikinya hanyalah sebagian kecil dari luasnya pengetahuan Allah.
Karena itu, semakin berilmu seseorang, semestinya semakin santun lisannya. Ia tidak mudah mengatakan orang lain bodoh. Ia tidak tergesa-gesa meremehkan pendapat orang lain. Ia bersedia mendengar, bahkan dari orang yang lebih muda darinya.
Sebab ilmu yang tidak melahirkan kerendahan hati bisa berubah menjadi kesombongan.
Tawaduk sebenarnya tidak membutuhkan panggung besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
Ketika kita bersedia mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu kita. Ketika kita meminta maaf meskipun kita merasa memiliki kedudukan lebih tinggi. Ketika kita tidak memotong pembicaraan orang lain. Ketika kita tetap menyapa tetangga meskipun kita memiliki pekerjaan dan kesibukan yang jauh lebih tinggi.
Bahkan seorang pemimpin bisa menunjukkan tawadhu dengan hal sederhana: mau mengangkat sendiri barang yang terjatuh, bersedia duduk bersama bawahannya, atau tidak sungkan meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Ada pula orang yang setiap hari bekerja keras di balik layar. Ia mungkin tidak pernah disebut namanya. Tidak ada fotonya di media sosial. Tidak ada tepuk tangan untuknya.
Namun, pekerjaan orang itulah yang membuat banyak hal berjalan. Orang yang tawaduk tidak terlalu membutuhkan tepuk tangan manusia. Ia cukup berharap Allah mengetahui apa yang dikerjakannya. Di situlah letak keindahan tawaduk.
Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
Tawadhu juga tidak sama dengan minder.
Rendah hati bukan berarti menganggap diri tidak memiliki kemampuan. Bukan pula berarti membiarkan diri direndahkan orang lain.
Seseorang boleh memiliki prestasi, tetapi tidak menjadikan prestasinya sebagai alasan untuk meremehkan orang lain. Boleh memiliki harta, tetapi tidak menjadikan hartanya sebagai ukuran kemuliaan manusia.
Boleh memiliki jabatan, tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk berlaku semena-mena. Boleh memiliki ilmu, tetapi tidak menjadikan ilmu sebagai senjata untuk mempermalukan orang lain.
Tawaduk adalah ketika seseorang mengetahui kelebihan dirinya, tetapi tetap menyadari bahwa semua itu berasal dari Allah. Karena itu, ia lebih banyak bersyukur daripada membanggakan diri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS Al-Furqan: 63)
Ayat ini menggambarkan bagaimana seorang hamba Allah menjalani kehidupan. Ia tidak berjalan dengan kesombongan. Bahkan ketika berhadapan dengan orang yang menyapanya dengan cara yang tidak baik, ia tidak membalas dengan keburukan. Rendah hati bukan kelemahan. Justru ia menunjukkan kematangan jiwa.
Kesombongan sering kali tumbuh secara perlahan. Awalnya hanya merasa lebih pintar. Kemudian merasa lebih layak didengar. Lalu merasa pendapat orang lain tidak penting. Setelah itu mulai meremehkan orang lain.
Pada akhirnya, seseorang tidak lagi melihat manusia sebagai sesama hamba Allah, melainkan sebagai orang yang berada di bawah dirinya. Inilah yang harus diwaspadai.
Allah mengingatkan: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)
Kesombongan dapat membuat seseorang lupa bahwa semua yang dimilikinya bisa hilang dalam sekejap.
Harta bisa berkurang. Jabatan bisa berakhir. Kekuatan tubuh bisa melemah. Popularitas bisa menghilang. Bahkan orang-orang yang hari ini memuji kita mungkin suatu saat tidak lagi mengingat nama kita.
Lalu apa yang tersisa? Yang tersisa adalah amal. Yang tersisa adalah bagaimana kita memperlakukan manusia.
Yang tersisa adalah apakah kita pernah menjadi sebab kebaikan bagi orang lain. Dan yang paling penting, apakah Allah rida kepada kita.
Rasulullah saw adalah manusia paling mulia. Namun kemuliaan itu tidak menjadikannya sombong.Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu sehingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap orang lain dan tidak berbuat zalim kepada orang lain.” (HR Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim)
Betapa indah janji tersebut. Manusia mungkin mengira bahwa merendahkan hati akan membuat seseorang kehilangan wibawa. Tetapi di hadapan Allah, justru tawadhu menjadi jalan menuju kemuliaan.
Orang yang tidak sibuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, Allah yang akan meninggikan derajatnya.
Karena itu, tidak perlu selalu menunjukkan bahwa kita lebih hebat. Tidak perlu setiap kebaikan diceritakan. Tidak perlu setiap keberhasilan dipamerkan.
Tidak perlu setiap perbedaan pendapat berubah menjadi pertarungan untuk membuktikan siapa yang paling benar.
Kadang-kadang, memilih diam adalah bentuk tawaduk. Mendengarkan adalah bentuk tawaduk. Mengakui kesalahan adalah bentuk tawaduk. Memuji keberhasilan orang lain tanpa merasa tersaingi juga bentuk tawaduk. Dan bersedia belajar dari siapa saja adalah tanda bahwa hati kita masih terbuka.
Kita Semua Hanya Hamba Allah
Pada akhirnya, setinggi apa pun kedudukan seseorang, ia tetap seorang hamba. Sebanyak apa pun hartanya, ia tetap membutuhkan Allah.
Setinggi apa pun ilmunya, masih ada banyak hal yang tidak diketahuinya. Sebesar apa pun pengaruhnya, ia tetap tidak berkuasa atas hidup dan matinya sendiri.
Rasulullah saw bersabda: “Aku hanyalah seorang hamba Allah. Maka panggillah aku: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR Abu Dawud)
Kalimat itu seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Kita boleh menjadi direktur, guru, pejabat, pengusaha, dosen, tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, atau siapa pun yang memiliki kedudukan. Tetapi di hadapan Allah, kita tetap seorang hamba.
Maka jangan biarkan jabatan membuat kita lupa diri. Jangan biarkan ilmu membuat kita merendahkan orang lain. Jangan biarkan harta membuat kita merasa paling mulia. Dan jangan biarkan pujian membuat kita lupa bahwa segala kelebihan hanyalah amanah.
Mari belajar tawadhu dari hal-hal sederhana. Belajar menyapa lebih dahulu. Belajar mendengarkan. Belajar meminta maaf. Belajar mengakui kelebihan orang lain. Belajar menerima kritik. Belajar tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Dan yang paling penting, belajar menyadari bahwa apa pun yang kita miliki hari ini adalah karunia Allah.
Semoga Allah Al-Majid, Yang Maha Mulia, menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang dimuliakan karena ketawadhuan, bukan karena kesombongan; diangkat derajatnya karena ketakwaan, bukan karena jabatan; serta dicintai manusia karena akhlaknya, bukan karena kekayaan dan kedudukannya.
Semoga Allah melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari sifat angkuh dan sombong, serta membimbing kita untuk senantiasa berserah diri kepada-Nya dan berbuat baik kepada sesama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments