Ada malam-malam ketika tubuh terasa begitu lelah. Seharian bekerja, mengurus keluarga, menghadapi berbagai persoalan, lalu tubuh hanya ingin segera berbaring. Rasanya ingin menutup mata dan membiarkan malam berlalu begitu saja.
Namun, justru pada saat seperti itulah ada satu kesempatan yang jangan terlalu mudah kita tinggalkan: salat malam.
Tidak harus panjang. Tidak harus berlama-lama. Dua rakaat pun cukup untuk mengetuk pintu langit dengan kerendahan hati.
Sahabat mulia Abu ad-Darda’—‘Uwaimir bin Malik radhiyallahu ‘anhu—pernah berkata “Salatlah (walaupun hanya) dua rakaat di tengah kegelapan malam, agar kelak menjadi cahaya yang akan menerangi kegelapan di alam kubur kalian nanti..” (Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, syarah hadis no. 23)
Kalimat itu sederhana, tetapi dalam. Dua rakaat yang mungkin terasa ringan dilakukan pada malam hari dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika manusia kelak berhadapan dengan kehidupan setelah kematian.
Ketika Rumah Sudah Sunyi
Bayangkan sebuah rumah pada tengah malam. Lampu sebagian besar sudah dipadamkan. Anak-anak tertidur. Televisi sudah lama dimatikan. Telepon genggam yang sejak pagi tak pernah lepas dari tangan akhirnya diletakkan di atas meja.
Di luar, jalanan mulai sepi. Saat itulah seseorang terbangun. Ia sebenarnya masih mengantuk. Selimut terasa nyaman. Udara malam membuat kasur terasa semakin nikmat. Ada dua pilihan: kembali tidur atau bangun mengambil wudu.
Tidak ada orang yang melihat ketika ia bangun. Tidak ada yang memuji ketika ia berdiri di atas sajadah. Tidak ada kamera yang merekam ketika dahinya menyentuh lantai. Hanya ia dan Allah.
Di situlah mungkin letak keistimewaan salat malam. Ia adalah ibadah yang sangat mungkin dilakukan dalam kesunyian, jauh dari perhatian manusia.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS Adz-Dzariyat: 17–18)
Ayat ini menggambarkan orang-orang yang memiliki hubungan khusus dengan malam. Mereka tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk tidur. Sebagian malam digunakan untuk berdiri di hadapan Allah dan memohon ampun kepada-Nya.
Mereka mungkin sama-sama lelah seperti kita. Mereka juga mempunyai pekerjaan, keluarga, persoalan dan beban kehidupan. Tetapi ada sesuatu yang membuat mereka rela meninggalkan kenyamanan tempat tidur: kerinduan untuk menghadap Allah.
Dua Rakaat di Tengah Kegelisahan
Kadang-kadang seseorang tidur bukan karena tenang, melainkan karena tidak tahu harus berbuat apa.
Ada orang yang membawa persoalan pekerjaan sampai ke tempat tidur. Ada yang memikirkan cicilan. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga.
Ada yang menunggu kabar dari seseorang. Ada pula yang siang harinya terlihat baik-baik saja, tetapi malamnya justru menjadi waktu paling berat karena semua kegelisahan datang bersamaan.
Dalam keadaan seperti itu, salat malam bisa menjadi ruang untuk berhenti sejenak. Bangun. Ambil wudu. Bentangkan sajadah. Kemudian berdiri menghadap kiblat.
Tidak semua masalah langsung selesai setelah dua rakaat. Utang mungkin masih ada. Pekerjaan belum tentu berubah. Persoalan keluarga belum tentu seketika menemukan jalan keluar.
Tetapi hati bisa menjadi lebih lapang. Sebab dalam salat malam, seseorang sedang belajar menyerahkan sesuatu yang tidak mampu ia kendalikan kepada Dzat yang Mahakuasa.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Kemudian Allah berfirman: “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS As-Sajdah: 16–17)
Ada sesuatu yang menarik dalam ayat tersebut: balasan itu disembunyikan. Manusia tidak mengetahui secara pasti seperti apa kenikmatan yang Allah persiapkan bagi mereka.
Allah Menyimpan Balasan
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sesuatu yang sangat indah. Beliau mengajak kita merenungkan bagaimana Allah membalas amal yang mereka sembunyikan.
Mereka menyembunyikan salat malam dari pandangan manusia. Maka Allah pun menyembunyikan balasan untuk mereka—balasan yang tidak diketahui oleh jiwa.
Mereka menahan rasa kantuk. Allah menggantinya dengan kenikmatan.
Mereka meninggalkan hangatnya tempat tidur. Allah menyiapkan tempat kembali yang jauh lebih baik.
Mereka melawan rasa malas dan lelah. Allah menjanjikan kesenangan jiwa di dalam surga.
Seakan-akan ada sebuah pesan yang sangat lembut: apa yang kita korbankan untuk Allah tidak pernah benar-benar hilang.
Mungkin tidak ada manusia yang tahu bahwa malam tadi kita bangun untuk salat.
Mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui doa yang kita bisikkan setelahnya. Mungkin tidak ada yang melihat air mata yang jatuh ketika kita bersujud. Tetapi Allah melihat semuanya.
Jangan Menunggu Menjadi Sempurna
Karena itu, jangan menunggu menjadi orang saleh terlebih dahulu untuk memulai salat malam. Jangan pula berpikir harus mampu melakukan salat malam berjam-jam.
Mulailah dari yang sederhana. Jika belum mampu banyak, lakukan dua rakaat. Jika tidak sanggup setiap malam, berusahalah membangun kebiasaan sedikit demi sedikit.
Yang penting jangan sampai kita kehilangan kesempatan untuk memiliki waktu khusus bersama Allah ketika sebagian besar manusia sedang terlelap.
Sebab hidup ini terlalu singkat untuk hanya diisi dengan kesibukan siang hari. Kita mengejar pekerjaan. Mengejar penghasilan. Mengejar jabatan. Mengejar berbagai keinginan. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: mengejar kedekatan dengan Allah.
Barangkali suatu malam kita terbangun bukan karena alarm. Bukan karena suara orang lain. Bukan pula karena ada keperluan.
Bisa jadi Allah sedang memberi kita kesempatan. Kesempatan untuk mengambil wudu. Kesempatan untuk menggelar sajadah. Kesempatan untuk berdiri dalam sunyi.
Dan kesempatan untuk berkata kepada-Nya tentang segala sesuatu yang tidak sanggup kita ceritakan kepada siapa pun. Maka, jangan tinggalkan salat malam. Walaupun hanya dua rakaat.
Sebab boleh jadi dua rakaat yang kita lakukan dalam kesunyian malam itulah yang kelak menjadi cahaya ketika kita berada dalam kegelapan alam kubur.
Dan boleh jadi, pada saat manusia sudah tidak lagi peduli kepada kita, amal yang diam-diam kita lakukan pada malam hari justru menjadi salah satu yang paling kita butuhkan. Bangunlah. Berwudulah. Dirikanlah dua rakaat.
Malam mungkin gelap. Tetapi jangan biarkan hati kita ikut gelap.
Semoga Allah menjadikan langkah kecil kita menuju sajadah pada malam hari sebagai jalan menuju cahaya-Nya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments