Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen Unmuh Jember Soroti Dampak Karhutla terhadap Kesehatan Masyarakat

Iklan Landscape Smamda
Dosen Unmuh Jember Soroti Dampak Karhutla terhadap Kesehatan Masyarakat
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr Ns Cipto Susilo MKep. (Sukron Kasyir/PWMU.CO).
pwmu.co -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat membawa berbagai polutan dan menyebar dalam wilayah yang luas, sehingga masyarakat yang berada jauh dari titik kebakaran pun tetap berpotensi terdampak.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr Ns Cipto Susilo MKep menjelaskan bahwa dampak kesehatan akibat karhutla terutama berasal dari paparan asap.

Asap tersebut mengandung berbagai polutan, salah satunya partikulat halus berdiameter 2,5 mikrometer atau PM2,5 yang dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru.

“Karhutla tidak tepat dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan. Ketika asap telah mencemari udara yang dihirup masyarakat, kebakaran tersebut telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat” jelasnya dalam kajiannya mengenai dampak karhutla terhadap kesehatan.

Menurutnya, tingkat keparahan dampak kesehatan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lama paparan, frekuensi paparan, hingga aktivitas masyarakat di luar ruangan.

Seseorang yang bekerja di luar ruangan selama berjam-jam, misalnya, berpotensi menerima dosis paparan lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang lebih banyak berada di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik.

Gangguan Pernapasan hingga Kardiovaskular

Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan pernapasan.

Keluhan yang dapat muncul antara lain mata merah dan berair, hidung tersumbat, batuk, sesak napas, mengi, hingga rasa berat di dada.

Pada masyarakat yang telah memiliki penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.

Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat meningkatkan risiko gangguan respirasi yang lebih berat dan kebutuhan rawat inap.

Dampaknya juga tidak berhenti pada sistem pernapasan. Partikulat PM2,5 dapat memicu inflamasi dan stres oksidatif sistemik yang berpotensi memengaruhi sistem kardiovaskular.

Sementara itu, paparan komponen asap tertentu seperti karbon monoksida dapat menimbulkan keluhan berupa sakit kepala, pusing, lemah, mual, kelelahan, hingga gangguan konsentrasi.

Karhutla juga berpotensi memberikan dampak psikologis, terutama bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, maupun harta benda atau harus menjalani evakuasi.

Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, stres, gangguan tidur, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma.

Anak Jadi Kelompok Rentan

Cipto menekankan bahwa kerentanan terhadap asap karhutla tidak hanya ditentukan oleh usia. Namun juga kondisi kesehatan, tingkat paparan, pekerjaan, kondisi sosial ekonomi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti asma, PPOK, dan penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Pekerja luar ruangan juga memiliki risiko tinggi karena menghabiskan waktu lebih lama di lingkungan yang tercemar.

SMPM 5 Pucang SBY

Petugas pemadam kebakaran dan relawan bahkan menghadapi risiko lebih besar karena dapat berada dekat dengan sumber asap dan api.

“Kelompok rentan tidak boleh hanya ditentukan berdasarkan usia. Seorang pekerja dewasa yang sehat tetapi terpapar asap selama berjam-jam dapat mempunyai dosis pajanan yang lebih tinggi dibandingkan seorang lansia yang berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih” ungkapnya.

Asap Menghilang, Risiko Tidak Berakhir

Menurutnya, masyarakat juga perlu memahami bahwa risiko kesehatan akibat karhutla tidak selalu berakhir ketika asap sudah tidak terlihat.

Risiko jangka pendek umumnya berupa iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak, mengi, peningkatan produksi dahak, serta memburuknya kondisi penderita asma dan PPOK.

Sementara itu, paparan yang berulang atau berkepanjangan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi paru, penyakit respirasi, mortalitas, serta gangguan kesehatan mental. Karena itu, hilangnya asap secara visual tidak selalu berarti seluruh dampak kesehatan telah berakhir.

Jangan Mengandalkan Masker Semata

Dengan demikian, ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, Cipto menyarankan masyarakat untuk memprioritaskan pengurangan paparan, terutama terhadap PM2,5.

Masyarakat perlu memantau informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan kebakaran.

Aktivitas luar ruangan, khususnya olahraga dan aktivitas fisik berat, juga perlu dikurangi ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.

Selain itu, kelompok rentan perlu mendapatkan perlindungan lebih.

Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dan memiliki kecocokan dengan wajah. Namun, penggunaan masker bukan pengganti upaya mengurangi paparan.

Kualitas udara di dalam rumah juga perlu dijaga dengan mengurangi masuknya asap, menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara luar sangat buruk, serta menghindari sumber polusi tambahan seperti merokok dan membakar sampah di dalam ruangan.

Penderita penyakit kronis juga perlu memastikan obat rutin tetap tersedia dan digunakan sesuai instruksi tenaga kesehatan.

Tidak ketinggalan, masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, napas cepat atau kesulitan bernapas, nyeri dada, penurunan kesadaran, kebingungan, bibir atau kulit kebiruan, mengi berat, serangan asma  tidak membaik, maupun perburukan penyakit kronis.

Ia menilai penanganan karhutla dari perspektif kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara menyeluruh.

Penanganan tidak cukup hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga perlu mencakup upaya promotif, preventif, responsif, dan rehabilitatif.

“Dalam perspektif kesehatan masyarakat, penanganan karhutla harus bergerak dari paradigma kuratif menuju pendekatan promotif, preventif, responsif, dan rehabilitatif” tutupnya.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 27/08/2026 01:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu