Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyiapkan sejumlah program konkret sebagai tindak lanjut kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pendampingan desa berdaya, pengembangan padi organik, penguatan ketahanan pangan, hingga sektor pariwisata dan perudangan menjadi bagian dari rencana tersebut.
Rencana pengembangan program itu dibahas dalam pertemuan Rektor UMM dengan Gubernur NTB di Kantor Gubernur NTB pada Rabu (26/8/2026).
Pertemuan tersebut menjadi kelanjutan kerja sama yang telah terjalin antara UMM dan Pemerintah Provinsi NTB dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi daerah.
Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., mengatakan sejumlah bidang menjadi fokus tindak lanjut kerja sama.
“Ada beberapa aspek yang akan ditindaklanjuti UMM. Pertama, pendampingan desa melalui konsep desa berdampak atau desa berdaya. Kedua, pengembangan padi organik di NTB dengan mengadopsi pengalaman UMM dalam pengembangan padi organik di Bondowoso. Ketiga, ada potensi kerja sama di bidang perudangan melalui CoE Kelas Profesional udang yang dimiliki UMM,” ujarnya.
Menurut Salis, pengembangan program di NTB dapat memanfaatkan pengalaman dan praktik baik yang selama ini telah dilakukan UMM di sejumlah daerah.
Salah satunya pengembangan padi organik di Tabanan, Bali. Program tersebut menjadi bagian dari praktik baik yang dijalankan UMM hingga perguruan tinggi tersebut dipercaya sebagai UNESCO Chair.
Selain itu, UMM juga memiliki pengalaman dalam penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kontribusi tersebut turut mengantarkan UMM memperoleh penghargaan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga).
Berbagai pengalaman tersebut menjadi modal dalam menyusun model pendampingan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah di NTB. Pendekatan yang dilakukan akan mempertimbangkan potensi, kebutuhan, serta persoalan yang dihadapi masing-masing daerah.
Selain pendampingan desa dan ketahanan pangan, sektor pariwisata turut menjadi bagian dari peluang kerja sama. Potensi wisata di berbagai wilayah NTB akan dipetakan untuk melihat kemungkinan pengembangan berbasis masyarakat dan potensi lokal.
Sektor perudangan juga menjadi perhatian. UMM memiliki Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Udang yang dapat mendukung pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas di bidang tersebut.
Salis menjelaskan, tahap awal kerja sama akan dimulai dengan survei di sejumlah daerah yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Tahap awalnya kami akan melakukan survei di beberapa daerah potensial. Setelah itu dilakukan pemetaan dan perencanaan untuk menentukan bagaimana implementasi program kerja yang paling sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing daerah,” jelasnya.
Hasil survei dan pemetaan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan lokasi prioritas serta bentuk program yang paling relevan. Setelah tahap tersebut selesai, UMM bersama pemerintah daerah akan menyusun perencanaan dan tahapan implementasi.
Melalui langkah tersebut, kerja sama antara UMM dan Pemerintah Provinsi NTB diharapkan tidak berhenti pada kesepakatan, tetapi berlanjut menjadi program nyata untuk mengurangi kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan pariwisata, serta mengoptimalkan potensi daerah.





0 Tanggapan
Empty Comments