Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Tunjungan, Belajar Menjaga Martabat Bangsa

Iklan Landscape Smamda
Dari Tunjungan, Belajar Menjaga Martabat Bangsa
Ilustrasi
Oleh : Anang Dony Irawan Oleh: Anang Dony Irawan Wakil Ketua PCM Sambikerep, Penikmat Sejarah, Dosen FH Umsura

Apa yang membuat arek-arek Suroboyo berani mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan?

Pertanyaan itu layak diajukan kembali setiap mengenang 19 September 1945. Sebab, peristiwa di Hotel Yamato bukan hanya cerita tentang sekelompok pemuda yang merobek warna biru pada bendera Belanda. Di baliknya ada harga diri, keberanian, dan kesadaran bahwa Indonesia telah menjadi bangsa merdeka.

Pada 19 September 1945, para pemuda Surabaya mendatangi Hotel Yamato setelah bendera Belanda berwarna merah-putih-biru dikibarkan di atas bangunan tersebut.

Sejumlah pemuda kemudian menaiki bagian atas hotel, menurunkan bendera itu, merobek warna birunya, lalu mengibarkan kembali Merah Putih. Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu simbol perjuangan arek-arek Surabaya mempertahankan kemerdekaan.

Siapa persisnya sosok yang merobek bagian biru bendera tersebut masih menjadi bagian dari perbedaan kesaksian dalam narasi sejarah. Sejumlah sumber mencatat nama dan peran tokoh yang berbeda.

Karena itu, kesaksian mengenai keterlibatan Muhammad Nur Sidik, aktivis Muhammadiyah dari Kaliasin, sebagaimana disebut dalam tulisan ini, dapat ditempatkan sebagai salah satu kesaksian yang memperkaya narasi sejarah, bukan sebagai satu-satunya versi yang telah disepakati.

Kemerdekaan sebagai Amanah

Namun, apa maknanya bagi kita hari ini?

Kita memang tidak lagi berhadapan dengan penjajah yang datang membawa senjata. Bentuk perjuangan telah berubah.

Tantangan bangsa justru hadir dalam kehidupan sehari-hari: menjaga persatuan di tengah perbedaan, melawan informasi palsu, mencegah ujaran kebencian, membangun keadilan, dan memastikan kekuasaan benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, kehidupan sebagian masyarakat masih tidak mudah. Kebutuhan ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan biaya hidup menjadi persoalan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, masyarakat tentu berharap mereka yang memperoleh amanah jabatan mampu menunjukkan keteladanan. Kesederhanaan dan kepekaan sosial bukan sekadar pilihan moral, tetapi bagian dari tanggung jawab ketika seseorang diberi kepercayaan mengelola urusan publik.

Jabatan seharusnya membuat seseorang semakin dekat dengan persoalan rakyat, bukan semakin jauh dari kehidupan mereka.

Berbagai kasus yang melibatkan pejabat negara juga jangan sampai dianggap sebagai tontonan biasa. Ketika perilaku penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, atau gaya hidup yang tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat terus muncul dalam ruang publik, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik seseorang, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Di sinilah semangat Tunjungan menemukan maknanya.

SMPM 5 Pucang SBY

Dahulu arek-arek Suroboyo mempertahankan martabat bangsa dari ancaman penjajahan. Hari ini, kita harus mempertahankan martabat bangsa melalui integritas.

Berani berarti berani jujur ketika kesempatan untuk berlaku curang terbuka. Berani berarti menolak penyalahgunaan kekuasaan. Berani berarti membela kepentingan masyarakat ketika suara rakyat tidak terdengar.

Perjuangan tidak harus selalu dilakukan dengan tindakan besar. Guru berjuang melalui pendidikan. Dosen melalui ilmu. Aparatur melalui pelayanan. Pemimpin melalui keteladanan. Masyarakat melalui kepedulian dan gotong royong.

Itulah cara mengisi kemerdekaan.

Merah Putih dalam Perilaku

Merah Putih tidak cukup hanya dikibarkan di tiang. Nilai yang dilambangkannya harus hidup dalam perilaku kita.

Kemerdekaan yang dipertahankan dengan pengorbanan para pendahulu harus melahirkan kehidupan yang menghargai manusia, menjunjung keadilan, dan menjaga persatuan.

Maka, mengenang Peristiwa Tunjungan jangan berhenti pada romantisme sejarah.

Mari bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah menjadi bagian dari bangsa yang menjaga martabatnya?

Para pejuang dahulu memberikan teladan dengan keberanian. Tugas kita meneruskannya dengan kejujuran, kesederhanaan, ilmu, kerja keras, dan pengabdian.

Sebab, kemerdekaan bukan sekadar warisan. Kemerdekaan adalah amanah.

Dari Tunjungan, kita belajar bahwa menjaga Indonesia bukan hanya soal mempertahankan wilayah, tetapi juga menjaga nilai, martabat, dan kepercayaan rakyat.

Semangat arek-arek Suroboyo harus tetap menyala, bukan dalam kebencian, tetapi dalam keberanian untuk berbuat benar bagi Indonesia.

Revisi Oleh:
  • Satria - 20/09/2026 13:08
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu