Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Hari Bersih-Bersih Sedunia, Mengurangi Pemborosan Pangan dari Sepiring Nasi

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Hari Bersih-Bersih Sedunia, Mengurangi Pemborosan Pangan dari Sepiring Nasi
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Andi Hariyadi Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya

Islam menempatkan kebersihan pada posisi penting. Bahkan, kebersihan ditingkatkan menjadi kesucian, terutama dalam menjalankan ibadah.

Dari sini kita belajar bahwa kebersihan bukan hanya urusan pakaian, badan, atau tempat ibadah. Ia melekat dalam kehidupan seorang Muslim, termasuk dalam hubungan dengan sesama dan lingkungan.

Prinsip thaharah menyatu dalam kehidupan seorang Muslim. Bersuci bukan sekadar membersihkan tubuh, tetapi juga membangun kesadaran untuk menjaga kebersihan hati, sikap, dan perilaku.

Karena itu, pribadi yang bersih semestinya tidak berhenti pada penampilan fisik. Kebersihan juga tercermin dalam kejujuran, ketulusan, kepedulian, dan akhlak yang baik.

Komitmen Hidup Bersih

Pada 20 September 2026, masyarakat dunia memperingati World Cleanup Day atau Hari Bersih-Bersih Sedunia. Jauh sebelum gerakan kebersihan menjadi agenda global, Islam telah mengajarkan prinsip bersuci dan menjaga kebersihan melalui berbagai tuntunan, seperti wudu, tayamum, mandi besar, dan istinja.

Semua dilakukan dengan tata cara yang jelas dan penuh kesadaran. Bukan sekadar ritual, melainkan pendidikan kedisiplinan.

Komitmen hidup bersih memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan hanya bentuk ketaatan dalam menjalankan ibadah, tetapi juga dapat membangun relasi sosial yang sehat melalui ketulusan, kejujuran, persaudaraan, dan kepedulian.

Hidup bersih juga tidak cukup dimaknai sebagai upaya menghilangkan najis dan kotoran. Seorang Muslim dituntut menjadi pribadi yang bersih secara jasmani dan rohani sekaligus mampu mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi.

Al-Qur’an menegaskan: “… Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah: 222)

Ayat tersebut meneguhkan pentingnya kesucian dan kebersihan dalam kehidupan. Ketika melakukan kesalahan, manusia dianjurkan segera bertobat dan menyucikan diri. Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.

Kebersihan sebagai Kesalehan Sosial

Pola hidup bersih tidak hanya memperkuat kesadaran spiritual dalam menjalankan ibadah. Ia juga seharusnya melahirkan kepedulian terhadap kebersihan fisik dan lingkungan.

Di sinilah keberagamaan menemukan bentuk sosialnya.

Lingkungan yang kotor, kumuh, dan tidak terkelola bukan hanya mengganggu kenyamanan. Ia juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Karena itu, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan merupakan bagian dari kesalehan sosial.

Al-Qur’an dalam Surah Al-Maidah ayat 6 memberikan tuntunan tentang wudu, mandi bagi orang yang junub, dan tayamum dalam kondisi tertentu.

Pada bagian akhir ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa Dia tidak hendak menyulitkan manusia, tetapi hendak menyucikan dan menyempurnakan nikmat-Nya agar manusia bersyukur.

Petunjuk itu bukan sekadar tata cara bersuci. Di dalamnya terdapat pendidikan tentang pentingnya kebersihan, kedisiplinan, dan kesadaran menjaga kesucian.

Kesadaran tersebut semestinya diperluas. Bersih di tempat ibadah, tetapi abai terhadap lingkungan, tentu belum mencerminkan makna kebersihan secara utuh.

Dari Piring yang Bersih

World Cleanup Day 2026 mengangkat tema “From Clean Plates to Clean Cities”—dari piring yang bersih menuju kota yang bersih.

Tema ini menarik karena persoalan kebersihan kota ternyata bisa dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita: piring.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Piring adalah tempat makanan yang kita konsumsi setiap hari. Namun, di balik sepiring makanan terdapat persoalan yang jauh lebih besar: ketahanan pangan.

Gagal panen, lonjakan harga, keterbatasan lahan, distribusi pangan, hingga persoalan gizi merupakan bagian dari tantangan ketahanan pangan. Di tengah berbagai keterbatasan itu, kita masih menyaksikan perilaku boros makanan.

Dalam berbagai pesta atau jamuan, misalnya, beragam menu disajikan. Orang mengambil makanan sebanyak-banyaknya karena ingin mencoba semua hidangan. Tidak semuanya habis. Sisa makanan kemudian menumpuk di atas piring dan akhirnya dibuang.

Di sinilah persoalannya. Makanan yang tersisa bukan sekadar urusan kebersihan piring. Ia berkaitan dengan penghargaan kita terhadap pangan.

Sepiring nasi yang terbuang mungkin terlihat kecil. Namun, jika terjadi setiap hari dan dilakukan oleh jutaan orang, jumlahnya menjadi persoalan besar. Sisa makanan berubah menjadi sampah. Sampah yang tidak dipilah dan dikelola dengan baik akhirnya menambah beban lingkungan.

Karena itu, mengurangi pemborosan pangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: mengambil makanan secukupnya.

Tidak perlu memenuhi piring hanya karena makanan tersedia. Jika masih ingin menambah, kita bisa mengambilnya kemudian.

Kebiasaan kecil semacam ini merupakan bentuk tanggung jawab. Kita menghargai makanan, menghormati proses panjang di balik hadirnya makanan di atas meja, sekaligus mengurangi sampah.

Dari Rumah Menuju Kota

Kota yang bersih tidak lahir begitu saja. Ia dimulai dari rumah, dari kebiasaan sehari-hari, bahkan dari sepiring makanan.

Jangan membiasakan makanan tersisa. Jangan pula membuang sisa makanan begitu saja tanpa dipilah dan dikelola. Sebab, sisa dari satu piring mungkin tampak kecil. Tetapi ketika dikumpulkan dari ribuan bahkan jutaan piring, ia dapat menjadi persoalan lingkungan yang besar.

Kebersihan lingkungan kini menjadi bagian penting dalam penataan kota. Kota yang bersih bukan hanya enak dipandang, tetapi juga mendukung kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

Namun, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Kebersihan kota membutuhkan kesadaran warga. Membutuhkan kebiasaan yang dimulai dari rumah, dari meja makan, dari piring masing-masing.

Dari piring yang bersih menuju kota yang bersih. Begitulah semestinya kita memaknai Hari Bersih-Bersih Sedunia. Bukan sekadar membersihkan lingkungan dalam satu hari, melainkan membangun kebiasaan hidup bersih yang berlangsung setiap hari.

Mengambil makanan secukupnya. Menghabiskan makanan yang sudah diambil. Memilah sisa makanan. Mengelola sampah. Menjaga lingkungan.

Hal-hal sederhana itu dapat menjadi bagian dari fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Sebab, kebersihan bukan hanya soal lingkungan yang terlihat bersih. Ia juga tentang kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan nikmat, kepedulian kepada sesama, dan tanggung jawab menjaga bumi.

Dari sepiring makanan, kita belajar menghargai pangan. Dari rumah, kita belajar menjaga lingkungan. Dari kebiasaan kecil, kita membangun kota yang lebih bersih.

Selamat Hari Bersih-Bersih Sedunia. (*)

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu