Kemerdekaan adalah nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang diperoleh atas rahmat-Nya. Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan melalui perjuangan panjang, pengorbanan harta, jiwa, dan raga, serta semangat yang kuat untuk bebas dari penjajahan.
Para pejuang dahulu tidak berjuang dengan memikirkan apa yang akan mereka peroleh setelah merdeka. Mereka merasakan betapa tidak enaknya hidup dalam penjajahan. Bangsa Indonesia saat itu hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan.
Karena itulah, semboyan merdeka atau mati menjadi penyemangat perjuangan. Kemerdekaan menjadi cita-cita yang diperjuangkan dengan pengorbanan besar.
Penjajah Itu Kejam
Penjajahan selalu membawa penderitaan. Sejak dahulu hingga sekarang, penjajah memperlakukan bangsa yang dijajah dengan kekerasan dan tindakan yang merendahkan martabat manusia.
Contohnya dapat dilihat dari penderitaan rakyat Palestina akibat pendudukan dan konflik yang berlangsung hingga saat ini. Hal tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat sipil dapat mengalami penderitaan panjang ketika hidup dalam situasi penindasan dan kekerasan.
Sifat penguasa yang melakukan kerusakan dan merendahkan penduduk suatu negeri dapat dipahami melalui Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 34:
قَالَتْ إِنَّ ٱلْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا۟ قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوٓا۟ أَعِزَّةَ أَهْلِهَآ أَذِلَّةً ۖ وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ
“Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang digunakan secara zalim dapat membawa kerusakan dan merendahkan martabat manusia.
Menjaga Nikmat Kemerdekaan
Kemerdekaan adalah anugerah Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang harus dijaga. Jangan sampai anugerah tersebut justru diperebutkan seperti kue yang mahal harganya dan diperebutkan hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Jika hal itu terjadi, kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar dapat kehilangan maknanya.
Secara catatan sejarah, sebuah bangsa mungkin telah merdeka. Namun, dalam kenyataannya, masyarakatnya dapat saja masih mengalami berbagai bentuk ketidakmerdekaan. Karena itu, kemerdekaan harus disyukuri dengan memanfaatkan segala potensi dan fasilitas negeri tercinta untuk sebesar-besarnya kemaslahatan.
Para pejuang kemerdekaan telah memberikan teladan tentang jiwa yang merdeka. Mereka berjuang dengan ikhlas dan memiliki satu tujuan utama, yakni kemerdekaan.
Bersyukur Menuju Jiwa Merdeka
Mensyukuri nikmat kemerdekaan yang paling utama adalah bertauhid. Hanya kepada Allah kita patuh dan taat, serta tidak berlaku syirik kepada-Nya.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۚ هَٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ
“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.”
QS. Maryam: 36
Jiwa tauhid yang bersemayam dalam hati seorang mukmin akan membawa manusia menuju kemerdekaan. Setidaknya, ada tiga bentuk penjajahan diri yang harus dihadapi.
Pertama: Merdeka dari Hawa Nafsu
Hawa nafsu cenderung mendorong manusia untuk melakukan keburukan. Karena itu, hawa nafsu harus dikendalikan.
Siapa saja yang diperbudak oleh hawa nafsu dapat tersesat dari jalan yang benar. Seorang pemimpin yang diperbudak hawa nafsunya berarti belum memiliki jiwa yang merdeka.
Pemimpin seperti itu tidak akan mampu menjalankan amanah dengan baik dan menyejahterakan rakyatnya. Karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’ala memperingatkan dalam QS. Shod ayat 26:
وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ
“… Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang pedih, karena lupa hari pembalasan.”
Karena itu, berbahagialah orang-orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Naziat ayat 40–41:
وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى
“…Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal (nya).”
Kedua: Merdeka dari Godaan Dunia
Dunia merupakan tempat untuk beramal saleh dan menjadi jalan menuju kehidupan akhirat. Di dunia inilah manusia diuji, baik melalui kesenangan maupun kesulitan.
Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya selama hidup di dunia.
Karena itu, manusia harus mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan menaati-Nya di mana pun berada.
Allah memperingatkan dalam Surat Al-Hadid ayat 20:
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.”
Kehidupan dunia tidak kekal. Karena itu, manusia tidak boleh diperbudak oleh gemerlap dunia hingga melupakan tujuan hidup dan tanggung jawabnya kepada Allah.
Ketiga: Merdeka dari Godaan Syetan
Syetan adalah musuh manusia. Ia memiliki tujuan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.
Syetan mendorong manusia melakukan perbuatan jahat dan keji, termasuk berkata tentang Allah tanpa pengetahuan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 169:
إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
Siapa saja yang mengikuti langkah-langkah syetan berarti sedang membiarkan dirinya diperbudak dan kehilangan kemerdekaan.
Hakikat Kemerdekaan yang Sesungguhnya
Para pemimpin yang tidak merdeka dari hawa nafsu, tergoda oleh gemerlap dunia, dan mengikuti langkah-langkah syetan tidak akan mampu mensyukuri kemerdekaan dengan sesungguhnya.
Mereka dapat disibukkan oleh kepentingan pribadi dan urusan perut, sementara kepentingan rakyat terabaikan.
Sejarah telah menunjukkan bagaimana penjajahan membawa penderitaan dan kesengsaraan. Karena itu, kemerdekaan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan bangsa lain.
Kemerdekaan juga harus dimaknai sebagai kemampuan untuk membebaskan diri dari hawa nafsu, keserakahan dunia, dan godaan syetan.
Semoga para pemimpin negeri ini menyadari hakikat kemerdekaan dan mampu mensyukurinya dengan menjalankan amanah, memperjuangkan keadilan, serta mengutamakan kesejahteraan rakyat.
Sebab, merdeka itu bukan sekadar tidak dijajah oleh bangsa lain, tetapi juga tidak membiarkan diri dijajah oleh hawa nafsu, dunia, dan syetan.





0 Tanggapan
Empty Comments