Ada orang yang sudah lama tidak kita temui. Tetapi anehnya, namanya masih membuat hati terasa panas.
Padahal orang itu mungkin sudah menjalani kehidupannya sendiri. Sudah lupa pada pertengkaran yang pernah terjadi. Sudah tidak memikirkan kata-kata yang dulu membuat kita terluka. Tetapi kita masih menyimpannya.
Satu kesalahan terus diingat. Satu ucapan terus diputar dalam kepala. Satu peristiwa yang sebenarnya sudah berlalu masih kita bawa ke mana-mana.
Begitulah kebencian bekerja. Ia tidak selalu datang dalam bentuk amarah yang meledak-ledak. Kadang ia hanya berupa rasa tidak suka yang dipelihara diam-diam.
Kita tidak lagi mau menyebut namanya. Tidak mau bertemu dengannya. Bahkan nasihat yang datang darinya pun terasa salah hanya karena keluar dari mulut orang yang kita benci.
Di situlah kebencian menjadi berbahaya. Kita mulai melupakan kebaikan orang tersebut kepada kita. Sebaliknya, kebaikan yang pernah kita lakukan kepadanya terus kita hitung.
“Kapan dulu saya membantunya?”
“Berapa banyak yang sudah saya lakukan untuk dia?”
“Kalau bukan karena saya, dia tidak akan seperti sekarang.”
Kita hafal semua kebaikan kita. Tetapi anehnya, kita sering lupa pada kebaikan orang lain kepada kita. Kita juga begitu mudah mengingat kesalahannya. Tetapi sulit mengingat kesalahan kita sendiri.
Padahal, boleh jadi orang yang kita benci itu pernah menolong kita ketika tidak ada orang lain yang datang.
Pernah mengulurkan tangan ketika kita sedang kesulitan. Pernah menjadi tempat bertanya ketika kita tidak tahu harus melangkah ke mana. Hanya karena sebuah persoalan, semua kebaikan itu seolah-olah hilang.
Kebencian memang punya cara sendiri untuk membuat ingatan menjadi tidak adil. Yang lebih berbahaya, kebencian bisa membuat kita kehilangan kemampuan untuk menerima kebenaran.
Bayangkan seorang teman mengingatkan kita tentang sesuatu. Nasihatnya benar. Tetapi kita tidak mau menerimanya. Bukan karena nasihat itu salah. Kita menolaknya karena kita tahu siapa yang mengucapkannya.
“Dia kok yang menasihati saya?”
Kalimat seperti itu sering muncul dalam hati. Kita sibuk melihat siapa yang berbicara, lalu lupa mendengarkan apa yang dibicarakan. Padahal kebenaran tetaplah kebenaran, siapa pun yang menyampaikannya.
Jika orang yang kita benci mengatakan sesuatu yang benar, apakah kebenaran itu tiba-tiba berubah menjadi salah?
Tidak.
Yang berubah hanyalah hati kita. Hati yang dipenuhi kebencian sering kali lebih sibuk menolak orang daripada menerima kebenaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat betapa panjang usia sebuah kebencian. Dua saudara berselisih karena persoalan warisan.
Awalnya hanya soal tanah. Lalu berubah menjadi soal harga diri. Kemudian anak-anak mereka ikut tidak saling berkunjung. Pernikahan keluarga mulai dihindari. Lebaran tidak lagi menjadi kesempatan untuk berkumpul.
Tahun berganti tahun. Tanah mungkin sudah tidak lagi menjadi persoalan. Tetapi hubungan keluarga telanjur retak. Yang hilang bukan hanya hubungan dua orang.
Kebencian bisa merambat kepada orang-orang yang sebenarnya tidak pernah terlibat dalam masalah.
Karena itu, kebencian bukan sekadar perasaan. Ia bisa menjadi pintu bagi banyak keburukan lain. Dendam. Fitnah. Permusuhan. Memutus silaturahmi. Menolak nasihat. Bahkan berharap orang lain mendapatkan keburukan.
Padahal belum tentu orang yang kita benci itu menderita karena kebencian kita. Bisa jadi justru kita sendiri yang setiap hari hidup bersama luka itu.
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan nasihat yang sangat dalam kepada Aslam.
“Wahai Aslam, janganlah rasa cintamu berlebihan dan jangan sampai kebencianmu membinasakan.”
Ketika ditanya bagaimana maksudnya, Umar menjelaskan bahwa ketika mencintai seseorang, jangan mencintainya secara berlebihan. Begitu pula ketika membenci seseorang, jangan sampai kebencian itu membuat kita menginginkan orang tersebut celaka atau binasa.
Nasihat itu terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Sebab manusia mudah berlebihan.
Hari ini mencintai seseorang sedemikian rupa sampai menganggapnya tidak mungkin salah. Besok, ketika hubungan berubah, orang yang sama bisa dianggap sebagai manusia paling buruk.
Padahal manusia tetaplah manusia. Ia bisa berbuat baik dan bisa berbuat salah. Begitu pula kita. Kita pun tidak selalu benar.
Karena itu, jangan biarkan cinta membuat kita kehilangan akal sehat. Dan jangan biarkan kebencian membuat kita kehilangan hati nurani.
Memaafkan memang tidak selalu berarti melupakan. Kita boleh mengingat sebuah kesalahan agar tidak mengulanginya. Tetapi mengingat berbeda dengan terus membenci.
Kita bisa mengambil pelajaran tanpa harus memelihara dendam. Kita bisa menjaga jarak tanpa mendoakan keburukan.
Kita bisa tidak lagi dekat dengan seseorang tanpa harus menghapus seluruh kebaikannya dari ingatan. Dan yang paling penting, kita bisa memilih untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati.
Sebab hati ini terlalu berharga jika hanya diisi dengan kemarahan kepada orang lain. Masih banyak orang yang harus kita cintai. Masih banyak kebaikan yang harus kita kerjakan. Masih banyak waktu yang harus kita gunakan untuk mendekat kepada Allah.
Jangan sampai sebagian besar energi kita habis hanya untuk membenci seseorang yang mungkin bahkan sudah tidak memikirkan kita. Lepaskan.
Jika belum mampu memaafkan sepenuhnya, setidaknya berhentilah memberi makan kebencian itu. Serahkan urusan yang menyakitkan kepada Allah. Kita tidak harus memenangkan semua pertengkaran.
Kadang, kemenangan terbesar justru ketika kita berhasil menyelamatkan hati sendiri dari kebencian.
Awali hari dengan Bismillah. Jalani dengan lillah. Dan akhiri dengan Alhamdulillah.
Semoga Allah menjaga hati kita dari cinta yang berlebihan, juga dari kebencian yang membinasakan. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments