Baitul Arqam Camp Majelis Pembinaan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Probolinggo, Sabtu–Ahad (19–20/9/2026), tidak sekadar menjadi ruang penguatan pemahaman Kemuhammadiyahan dan Keaisyiyahan.
Kegiatan yang diikuti pendidik dan tenaga kependidikan ini juga menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas, kekompakan, keterampilan komunikasi, serta spiritualitas peserta.
Pada Sabtu (19/9/2026) siang, peserta mengikuti materi “Implementasi Sifat Muhammadiyah dalam Peningkatan Komitmen Ber-Aisyiyah dan Pengelolaan Amal Usaha Aisyiyah Bidang Pendidikan” yang disampaikan Wakil Ketua PDA Kota Probolinggo, Dra Siti Djuwairiyah MPd.
Siti mengawali materi dengan pertanyaan reflektif, “Kita bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah, sudahkah kita menjadi kader Muhammadiyah?”
Pertanyaan tersebut mengajak peserta melihat kembali peran mereka sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, khususnya di bidang pendidikan. Ia menegaskan bahwa 10 Sifat Muhammadiyah tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Anak-anak lebih banyak melihat daripada mendengar,” pesannya.
Karena itu, pendidik dituntut menjadi teladan sekaligus menjalankan amanah secara profesional. Peserta juga diajak memahami makna ber-Aisyiyah dan memiliki kesadaran terhadap keberlangsungan Persyarikatan.
Risalah Perempuan Berkemajuan Dikemas dalam Kuis
Sesi sore diisi Ketua PDA Kota Probolinggo, Dra Endang Dewi Fatimah, dengan materi “Risalah Perempuan Berkemajuan”. Materi dikemas melalui kuis dan permainan yang melibatkan lima kelompok.
Peserta ditantang mengandalkan daya ingat, ketangkasan, ketelitian, serta kekompakan tim. Suasana kompetisi yang menyenangkan membuat peserta aktif berpikir sekaligus belajar.
Nilai Risalah Perempuan Berkemajuan pun tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi dipraktikkan melalui keberanian tampil, kerja sama, dan sikap sportif.
Menggali Seni dan Kreativitas Guru
Pada malam hari, peserta mengikuti materi “Menggali Potensi Seni dan Kreativitas Guru di Era Digital” yang disampaikan Moch Abduh Ad Dai Ilal Haq SH, pelatih teater Kota Probolinggo.
Peserta diajak memahami bahwa guru tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik dan pedagogis, tetapi juga kreativitas. Kemampuan bercerita, berekspresi, bermain peran, dan mengolah gagasan dapat menjadi media untuk menciptakan pembelajaran yang menarik.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Qiyamul Lail dan tausiah “Manfaat Qiyamul Lail” oleh Indah Nur Hidayati SPd. Ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas duniawi dan kehidupan spiritual.
Kegiatan ditutup dengan kompetisi kultum Subuh. Setiap kelompok mengirimkan perwakilan untuk menyampaikan pesan keislaman secara singkat dan bermakna.
Rangkaian Baitul Arqam Camp tersebut memadukan pembinaan intelektual, kreativitas, komunikasi, kebersamaan, dan spiritualitas. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga belajar, bermain, berkarya, beribadah, dan berani tampil sebagai bagian dari proses membentuk kader Aisyiyah yang berkemajuan dan profesional. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments