Ahad pagi menjadi momentum untuk kembali menguatkan langkah dalam ber-Aisyiyah. Sekitar 50 peserta kajian dari lima Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) se-Cabang Sukolilo berkumpul di Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM), Surabaya, bukan sekadar untuk mengikuti kajian, tetapi juga untuk belajar, bersilaturahmi, dan menemukan kembali makna bertumbuh bersama dalam persyarikatan.
Suasana itu terasa dalam Kajian Cabang ‘Aisyiyah Sukolilo yang mengusung tema “Meningkatkan Kualitas Diri dengan Ber-Aisyiyah”, Ahad (20/9/2026).
Kegiatan merupakan agenda rutin tiga bulan sekali, dengan PRA Medokan Semampir sebagai tuan rumah pada kesempatan kali ini.
Peserta berasal dari PRA Medokan Semampir, Semolowaru, Nginden, Keputih, dan Klampis. Hadir pula Ketua PCA Sukolilo Hj. Nur Hidayati, S.Pd., Ketua PRA Medokan Semampir Siti Rahmawati, S.Pd., serta pimpinan dan anggota PCNA se-Cabang Sukolilo.
Dalam prakata sebagai tuan rumah, Siti Rahmawati menyampaikan bahwa pertemuan tiga bulanan tersebut bukan hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga kesempatan untuk saling menguatkan.
“Semoga melalui kegiatan ini kita semakin bertambah ilmu, semakin erat silaturahmi, dan semakin semangat dalam ber-Aisyiyah,” pesannya.
Ber-Aisyiyah sebagai Proses Bertumbuh
Kajian disampaikan Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Surabaya, Ustadzah Etty Sunanti, S.Th.I., M.Psi. Ia mengajak peserta melihat ‘Aisyiyah sebagai ruang yang memungkinkan seorang perempuan terus bertumbuh dalam berbagai sisi kehidupan.
Menurutnya, menjadi bagian dari ‘Aisyiyah tidak berhenti pada keaktifan mengikuti kegiatan. Ada proses pembentukan diri yang berlangsung melalui majelis ilmu, pengalaman berorganisasi, interaksi dengan sesama, hingga kesempatan menemukan dan mengembangkan potensi.
Dari landasan tersebut, ia menguraikan enam hal yang dapat ter-upgrade melalui aktivitas ber’Aisyiyah.
Pertama, tauhid dan ibadah. Aktivitas ber’Aisyiyah semestinya semakin mendekatkan anggota kepada Allah. Organisasi tidak hanya menjadi ruang sosial, tetapi juga menjadi sarana menjaga dan meningkatkan kualitas keimanan serta ibadah.
Kedua, majelis ilmu. Menurut Ustadzah Etty, kajian menjadi salah satu kekuatan dalam gerakan ‘Aisyiyah. Setiap pertemuan bukan sekadar menghadirkan jamaah, tetapi juga membuka kesempatan untuk terus belajar dan memperkaya wawasan.
Ia mengingatkan pesan QS Al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
“Di ‘Aisyiyah ada majelis ilmu. Dengan mengikuti majelis ilmu, akan bertambah ilmunya,” jelasnya.
Ketiga, leadership. Pengalaman berorganisasi melatih seseorang untuk belajar memimpin. Kepemimpinan itu, menurutnya, tidak harus dimulai dari posisi atau jabatan, tetapi dapat dimulai dari kemampuan mengelola diri dan keluarga.
Keterlibatan dalam organisasi juga memberikan pengalaman menghadapi beragam karakter dan persoalan sehingga anggota belajar berkomunikasi sekaligus mengelola konflik.
Keempat, relationship. Ber-Aisyiyah mempertemukan perempuan dari berbagai latar belakang. Dari perjumpaan tersebut tumbuh silaturahmi, jejaring, pengalaman, dan kesempatan untuk saling belajar serta menguatkan.
Kelima, public speaking. Organisasi juga menjadi ruang latihan untuk menyampaikan gagasan. Kesempatan berbicara dalam forum, menyampaikan pendapat, maupun mengambil peran dalam kegiatan dapat membangun keberanian dan kemampuan komunikasi.
Keenam, talent dan passion. Setiap anggota memiliki kemampuan dan minat yang berbeda. Karena itu, ‘Aisyiyah juga dapat menjadi wadah untuk menemukan sekaligus mengembangkan potensi tersebut.
Bermuhammadiyah Harus Bahagia
Di balik enam aspek tersebut, Ustadzah Etty menekankan satu hal penting: perjalanan berorganisasi hendaknya dijalani dengan hati yang bahagia.
“Bermuhammadiyah harus bahagia,” pesannya.
Pesan tersebut memberi makna bahwa aktivitas dalam persyarikatan bukan sekadar tentang seberapa banyak kegiatan yang diikuti, tetapi tentang bagaimana setiap proses memberikan nilai bagi kehidupan.
Ketika tauhid dan ibadah semakin kuat, ilmu terus bertambah, kemampuan memimpin terasah, relasi semakin luas, komunikasi berkembang, dan potensi diri mendapat ruang, maka aktivitas ber’Aisyiyah menjadi bagian dari perjalanan seorang perempuan untuk terus bertumbuh.
Kajian rutin ini tidak berhenti sebagai pertemuan rutin. Ia menjadi ruang untuk pulang membawa ilmu, pulang membawa semangat, dan pulang dengan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan persyarikatan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments