Ada perjuangan yang tidak pernah diketahui orang lain. Alarm berbunyi ketika malam masih gelap. Mata terasa berat. Tubuh ingin tetap berbaring. Selimut terasa lebih nyaman daripada sajadah.
Tidak ada yang memaksa kita bangun. Tidak ada yang melihat jika kita kembali tidur. Tetapi ada seseorang yang tetap membuka mata. Mengambil wudu. Berdiri. Mengangkat takbir.
Dua rakaat. Sesederhana itu. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah kejujuran seorang hamba kepada Allah sedang diuji.
Abu ad-Darda’—‘Uwaimir bin Malik, 32 H—radhiyallahu ‘anhu berkata: “Salatlah (walaupun hanya) dua rakaat di tengah kegelapan malam, agar kelak menjadi cahaya yang akan menerangi kegelapan di alam kubur kalian nanti.” (Sumber: Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, syarah hadis no. 23).
Siang hari kita memiliki banyak alasan untuk berbuat baik. Ada orang yang melihat. Ada yang memuji. Ada yang menghargai. Ada yang mengetahui. Malam berbeda.
Ketika rumah sudah sunyi dan orang-orang terlelap, tidak ada yang menyaksikan. Tidak ada yang memotret. Tidak ada yang mengunggah. Hanya seorang hamba dan Rabb-nya.
Karena itu, salat malam bukan hanya soal berapa rakaat yang kita kerjakan. Ia juga tentang bagaimana kita menjaga hubungan dengan Allah ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Allah berfirman: “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS adz-Dzariyat: 17-18)
Perhatikan kehidupan kita. Seorang pekerja mungkin pulang larut malam setelah seharian mencari nafkah. Ia sebenarnya punya alasan untuk terus tidur sampai pagi.
Seorang ibu mungkin baru selesai mengurus rumah dan anak-anak. Tubuhnya lelah. Matanya berat.
Seorang mahasiswa mungkin sepanjang hari berkutat dengan tugas dan kuliah. Seorang pedagang mungkin seharian berdiri melayani pembeli. Mereka semua punya alasan untuk tidur.
Tetapi ketika sebagian dari mereka bangun di tengah malam, lalu berdiri menghadap Allah, di situlah sebuah perjuangan berlangsung.
Bukan perjuangan melawan orang lain.Melainkan melawan diri sendiri.
Allah menggambarkan orang-orang seperti itu: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS as-Sajdah: 16-17)
Ada kata yang menarik dalam ayat tersebut: disembunyikan. Mereka menyembunyikan ibadahnya. Allah menyembunyikan balasannya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: “Coba renungkanlah bagaimana Allah membalas salat malam yang mereka sembunyikan ketika mengerjakannya dengan balasan yang Allah sembunyikan pula bagi mereka, yakni (dengan balasan) yang tidak diketahui oleh semua jiwa.”
Ini pelajaran penting bagi kita. Tidak semua kebaikan harus diketahui manusia. Ada amal yang justru terasa lebih jujur ketika tidak seorang pun mengetahuinya.
Bayangkan seorang ayah yang terbangun pukul tiga dini hari. Ia melihat anak dan istrinya masih tertidur. Ia tidak membangunkan siapa-siapa.
Ia berwudu. Membentangkan sajadah. Lalu salat. Setelah itu ia berdoa agar keluarganya dijaga Allah. Tidak ada yang tahu. Bahkan mungkin keluarganya sendiri tidak pernah tahu.
Atau seorang ibu yang sedang menghadapi persoalan. Siang hari ia tetap tersenyum. Tetap melayani keluarga. Tetap menjalankan pekerjaan.
Malam hari, ketika semua terlelap, ia menangis dalam sujud. Ia tidak sedang mencari simpati manusia. Ia sedang mencari pertolongan Allah.
Begitulah salat malam. Tempat seseorang membawa kegelisahannya tanpa harus menjelaskannya kepada siapa pun.
Tempat seseorang mengakui kelemahannya tanpa takut dianggap lemah. Tempat seseorang meminta sesuatu kepada Zat yang tidak pernah lelah mendengar.
Maka jangan merasa bahwa dua rakaat itu terlalu sedikit. Jangan menunggu menjadi orang yang sangat saleh untuk mulai salat malam. Jangan menunggu hidup tenang untuk mendekat kepada Allah.
Justru ketika hidup sedang berantakan, ketika hati sedang gelisah, ketika jalan terasa buntu, bangunlah.
Ambil wudu. Dirikan dua rakaat. Bicaralah kepada Allah. Sebab kita tidak tahu amal mana yang kelak menjadi penyelamat.
Bisa jadi bukan amal yang banyak diketahui manusia. Bisa jadi justru dua rakaat yang kita kerjakan diam-diam ketika semua orang sedang tidur.
Malam ini, ketika alarm berbunyi, kita akan kembali berhadapan dengan pilihan yang sederhana.
Melanjutkan tidur atau bangun. Kembali menarik selimut atau mengambil wudu. Mungkin tidak ada manusia yang mengetahui pilihan kita.
Tetapi Allah mengetahuinya. Dan kelak, ketika kita berada dalam kegelapan alam kubur, semoga amal yang pernah kita sembunyikan itu menjadi cahaya. Jangan tinggalkan salat malam. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments