Kritik sering lahir dari niat yang baik: memperbaiki kesalahan, mengingatkan yang keliru, atau menjaga agar sebuah keputusan tidak melenceng.
Namun, niat baik bisa kehilangan kemuliaannya ketika disampaikan dengan kesombongan.
Kalimat yang seharusnya menjadi nasihat berubah menjadi vonis. Teguran terdengar seperti penghinaan. Perbedaan pendapat berubah menjadi pertunjukan siapa yang paling benar.
Kita memang perlu kritis. Bahkan sebuah organisasi, masyarakat, dan kepemimpinan akan sulit tumbuh tanpa orang-orang yang berani menyampaikan kritik.
Tetapi keberanian bersuara tidak semestinya membuat seseorang kehilangan kelembutan.
Ada hal yang bisa kita teladani dari kisah Musa dan Harun. Allah mengutus keduanya kepada Fir’aun.
Siapa Fir’aun? Dia bukan orang biasa. Ia adalah penguasa yang melampaui batas. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan kesombongannya sampai pada pengakuan sebagai tuhan yang paling tinggi.
Tetapi perhatikan bagaimana Allah memberi bekal kepada Musa dan Harun ketika hendak menghadapinya.
Allah SWT berfirman: “Berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut.” (QS Thaha: 44).
Menarik sekali. Menghadapi Fir’aun saja diperintahkan berbicara dengan lembut. Bukan berarti Fir’aun benar. Bukan berarti kesalahannya dibiarkan. Bukan pula berarti Musa dan Harun harus kehilangan ketegasan.
Mereka tetap menyampaikan kebenaran.Tetapi kebenaran itu tidak perlu disampaikan dengan kesombongan. Bukankah ini pelajaran yang sangat dalam?
***
Kadang kita merasa karena berada di pihak yang benar, kita berhak berbicara dengan cara apa saja. Seolah-olah kebenaran memberi kita izin untuk merendahkan orang lain. Padahal tidak. Isi perkataan penting. Cara menyampaikannya juga penting.
Rasulullah saw memberikan teladan yang sangat indah tentang hal ini.
Anas bin Malik menceritakan bahwa selama sepuluh tahun melayani Rasulullah saw, dia tidak pernah mendengar beliau mengucapkan kata kasar kepadanya.
Rasulullah juga tidak mencelanya dengan pertanyaan yang merendahkan ketika Anas melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Sepuluh tahun. Bayangkan. Sepuluh tahun hidup bersama seseorang tentu tidak mungkin tanpa kesalahan.
Tetapi Rasulullah saw tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai kesempatan untuk menunjukkan dirinya lebih tinggi.
Beliau mendidik tanpa merendahkan. Menegur tanpa mempermalukan. Mengarahkan tanpa membuat orang kehilangan harga diri.
Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda bahwa Allah itu lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan melalui kelembutan sesuatu yang tidak diberikan melalui kekerasan.
Ini bukan berarti semua persoalan harus diselesaikan dengan kelembekan. Ada saatnya kita harus tegas. Tetapi ketegasan tidak identik dengan kekasaran.
Begitu juga seorang pemimpin. Pemimpin punya kuasa. Satu kalimatnya bisa membuat orang bekerja lebih baik.
Namun satu kalimat yang salah juga bisa membuat seseorang pulang membawa luka. Kadang seorang bawahan tidak takut menerima koreksi. Dia hanya takut dipermalukan.
Seorang anak tidak takut diberi nasihat. Dia hanya takut dibentak di depan orang lain.
Seorang kader tidak keberatan menerima evaluasi. Dia hanya tidak ingin dianggap tidak berguna.
Maka, sebelum berbicara, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sedang memperbaiki keadaan atau sekadar melampiaskan kekesalan?
Karena keduanya bisa terdengar sama. Sama-sama keras. Sama-sama lantang. Tetapi niat dan dampaknya bisa sangat berbeda.
***
Kita hidup di zaman ketika orang mudah sekali bersuara. Media sosial memberi setiap orang mikrofon. Sedikit kesalahan orang lain, segera dikomentari. Sedikit kekurangan pemimpin, segera dibongkar. Sedikit perbedaan pendapat, segera dipertentangkan.
Kita menjadi masyarakat yang semakin pandai berbicara. Tetapi belum tentu semakin pandai menjaga perasaan.
Padahal Rasulullah saw mengingatkan: siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata baik atau diam.
Mungkin karena itu, sesekali kita perlu menurunkan volume suara. Bukan karena kita kalah. Bukan karena kita takut. Bukan karena kita tidak punya argumen, Tapi karena kita sadar bahwa orang yang sedang kita ajak bicara juga manusia.
Dia punya harga diri. Dia punya luka. Dia punya sejarah. Dan mungkin, dia sedang berjuang menjadi lebih baik. Maka kritiklah. Tegurlah. Luruskanlah.Tetapi jangan merasa lebih tinggi.
Sebab, bisa jadi, orang yang hari ini sedang kita koreksi justru besok menjadi lebih baik daripada kita. Dan bisa jadi pula, yang sedang diuji bukan hanya orang yang kita tegur.
Tapi cara kita menegurnya. Kebenaran tidak menjadi lebih benar karena disampaikan dengan suara keras. Dan kelembutan tidak membuat seseorang menjadi lemah.
Kadang justru di situlah kemuliaan seseorang terlihat: dia mampu mengatakan yang benar tanpa membuat orang lain merasa hina. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments