Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammad Memang Seorang Nabi….

Iklan Landscape Smamda
Muhammad Memang Seorang Nabi….
Oleh : Pradana Boy ZTF Asisten Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Haji, Wakil Mudir Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar, Malang

Joram van Klaveren adalah seorang ahli perbandingan agama. Ia penganut Kristen taat berkebangsaan Belanda. Selain belajar agama-agama dunia, ia juga aktif sebagai anggota sebuah partai politik beraliran kanan yang memiliki kebencian tinggi kepada Islam.

Gabungan berbagai identitas ini membawanya pada sebuah keinginan untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama yang salah. Ia berencana menulis buku tentang bahaya Islam.

Joram lalu menenggelamkan diri dalam buku-buku bertemakan Islam. Ia membaca berbagai aspek tentang Islam, tak terkecuali sejarah.

Sampailah ia pada episode umat Islam yang mengalami peperangan. Perang Uhud menyaksikan kesedihan yang mendalam bagi Nabi Muhammad dan umat Islam awal.

Tak hanya kekalahan dari kaum kafir Quraisy Makkah yang menjadi pangkal kesedihan itu, tetapi juga gugurnya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi Muhammad.

Cara gugurnya pun mengenaskan. Hamzah memperoleh serangan dari belakang oleh Wahsyi bin Harb. Setelah gugur, jasadnya dicabik-cabik.

Bahkan, jantungnya dikeluarkan dan dimakan oleh seorang perempuan yang memendam dendam sangat dalam kepada Hamzah.

Meskipun dalam situasi perang, Wahsyi ternyata bertindak bukan semata-mata karena motif militer. Ada motif pribadi di baliknya.

Ia mendapat perintah dari Hindun binti Utbah yang memendam dendam kepada Hamzah karena ayah, putra, kakak, dan pamannya meninggal dalam Perang Badar di tangan Hamzah.

Maka, janji menggiurkan dibuat kepada Wahsyi. Jika berhasil membunuh Hamzah, status sebagai orang merdeka akan diberikan kepada Wahsyi.

Pada masa-masa berikutnya, Islam menjadi semakin besar. Nabi Muhammad menempati posisi yang semakin kuat di kawasan Semenanjung Arabia dan sekitarnya.

Ketika bacaannya sampai pada fakta ini, Joram berspekulasi. Setelah berkuasa demikian kuat, pastilah Muhammad akan membalas dendam kepada Hindun atau orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan pamannya.

Begitu pikir Joram. Namun, saat melanjutkan bacaannya, Joram menemukan fakta lain.

Ketika Hindun datang kepada Nabi Muhammad untuk meminta maaf, sama sekali tidak ada dendam pada diri Rasulullah.

Komunitas Muslim semakin berkembang, tak terkecuali di Makkah. Maka Nabi Muhammad memberikan kebebasan kepada Hindun.

“Kamu bebas memilih hidup bersama kaum Muslimin atau tidak. Jika memilih hidup bersama, engkau dijamin aman hidup di tengah kaum Muslimin. Tetapi jika engkau merasa nyaman tidak hidup bersama kaum Muslimin, engkau bebas menentukan pilihan tempat tinggal.

Tidak ada lagi pertumpahan darah. Semua dendam masa lalu harus berhenti.”

Pada titik itu Joram berhenti. Ia merenung.

Ia tidak menyangka bahwa sikap itulah yang akan diambil Nabi Muhammad terhadap Hindun. Fakta itu menjadikan Joram semakin penasaran dan membuatnya melahap semakin banyak buku Islam yang ia baca.

Ia yang semula berpandangan negatif kepada Islam, bahkan hendak menulis buku anti-Islam, lalu diam-diam mengakui, “Muhammad memang benar-benar seorang Nabi…”

Ketika Akhlaq Nabi Menaklukkan Kebencian

Pengakuan diam-diam Joram itu muncul karena kekagumannya pada akhlaq agung Nabi Muhammad.

Antara penasaran dan jengkel, ia terus membaca. Ia semakin jauh terbawa.

Kini tak hanya sejarah, konsep ketuhanan Islam pun ia telusuri. Menurutnya, konsep ketuhanan Islam sangat gamblang yang menjadikannya mengakui bahwa Tuhan adalah Satu.

SMPM 5 Pucang SBY

Pada posisi itulah dia bingung. Dalam kebingungan, dia menggumam, “Jika aku mengakui Muhammad adalah benar-benar seorang Nabi, dan Allah adalah Tuhan Yang Satu, apakah ini berarti aku telah menjadi Muslim?”

Dalam kebingungannya, Joram membuka Al-Qur’an. Ajaibnya, ia tertumpu pada Surah Al-Hajj ayat 46:

“…Sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi hati dalam dada (manusia) lah yang buta…”

Joram tertampar. Ia merasakan ayat itu sebagai sindiran keras bagi dirinya.

Pada akhirnya ia menyimpulkan, “Jika aku mengakui Allah adalah Tuhan Yang Satu dan Muhammad adalah benar-benar seorang Nabi, sementara aku tetap tidak menjadi Muslim, bukankah hati buta yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an itu adalah aku?”

Joram akhirnya menjadi seorang Muslim. Bahkan, ia aktif mengajak banyak orang lain menjadi Muslim.

Perjalanan Joram memang panjang. Namun, salah satu faktor penting yang melabuhkan hatinya pada Islam adalah akhlaq Nabi Muhammad dalam menghadapi musuh.

Joram terpesona dengan keindahan akhlaq Nabi. Seharusnya, dengan kekuasaan yang dimiliki Nabi Muhammad sebagai penguasa baru di Jazirah Arabia, tidaklah sulit melampiaskan dendam kepada Hindun.

Tetapi, alih-alih meluapkan dendam, Nabi Muhammad justru membuka pintu maaf dan rekonsiliasi sosial.

Maka, komunitas Islam awal yang semakin tumbuh kuat tidak hanya memberi maslahat internal, tetapi juga bagi komunitas non-Muslim.

Ketertarikan pada Islam karena pesona akhlaq nabawi Rasulullah Muhammad tak hanya dialami Joram.

Banyak ilmuwan non-Muslim yang secara jujur mempelajari, meneliti, dan lalu terpesona dengan akhlaq Nabi Muhammad.

Michael H. Hart, seorang ilmuwan Yahudi, menulis buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.

Sebagai seorang penganut Yahudi, Hart sama sekali tidak ragu untuk bersikap objektif dengan menempatkan Nabi Muhammad pada peringkat wahid, orang paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Joram dan Hart barangkali tidak terlibat dalam hiruk-pikuk perayaan Maulid Nabi seperti kita saksikan di Indonesia.

Pastilah pula, mereka tidak terlibat dalam debat boleh tidaknya merayakan Maulid Nabi dengan perayaan-perayaan yang meriah.

Tetapi, keduanya justru berhasil memaknai Maulid Nabi dengan pemahaman yang mendalam, nyata, otentik, dan tidak dibumbui hal-hal yang mencederai kekaguman kepada Rasulullah.

Ironisnya, di negara dengan mayoritas penduduk Muslim yang kita diami, perdebatan tentang perayaan Maulid Nabi hampir selalu terulang dengan nada, lagu, dan langgam yang sama.

Akhirnya, jangankan memaknai kelahiran Nabi secara hakiki. Tak jarang, memperingati Maulid Nabi Muhammad justru menumbuhkan ego kelompok-kelompok keagamaan dengan pemahaman masing-masing.

Padahal, akhlaq seperti itulah yang justru diperangi oleh Nabi Muhammad.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 27/08/2026 00:45
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu