Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kita Akan Meninggal dalam Keadaan yang Biasa Kita Jalani

Iklan Landscape Smamda
Kita Akan Meninggal dalam Keadaan yang Biasa Kita Jalani
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada satu nasihat yang sering menjadi pengingat para ulama: kematian bisa datang kapan saja, dan seseorang akan dibangkitkan dalam keadaan sebagaimana ketika ia meninggal. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya: Kapan kita akan meninggal?

Tetapi juga: Dalam keadaan seperti apa kita ingin meninggal?

Jika kita ingin meninggal dalam keadaan husnul khotimah, maka kehidupan hari ini harus diarahkan kepada kebiasaan-kebiasaan yang baik. Sebab, apa yang sering kita lakukan bisa menjadi gambaran tentang bagaimana kita mengakhiri kehidupan.

Rasulullah saw bersabda: “Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal.” (HR Muslim No. 2878)

Hadis ini mengandung pesan yang sangat dalam. Seseorang yang meninggal ketika sedang sujud, insyaallah, ia akan dibangkitkan dalam keadaan tersebut.

Seseorang yang meninggal ketika membaca Al-Qur’an, bersedekah, atau melakukan amal kebaikan, ia berharap mendapatkan akhir yang baik.

Sebaliknya, kita tentu tidak ingin akhir kehidupan justru datang ketika sedang melakukan sesuatu yang buruk.

Kebiasaan Kecil Bisa Menjadi Akhir Kehidupan

Bayangkan seorang lelaki tua yang setiap hari selepas salat selalu duduk di sudut masjid. Tangannya memegang tasbih. Bibirnya bergerak pelan membaca zikir.

Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu. Ia tidak sedang tampil di depan kamera. Tidak ada yang memberinya penghargaan. Bahkan mungkin tidak banyak orang yang mengetahui kebiasaannya.

Namun bertahun-tahun ia menjalani rutinitas yang sama. Salat. Berzikir. Membaca Al-Qur’an. Bersedekah semampunya. Membantu tetangga. Meminta maaf ketika bersalah.

Suatu hari ajal datang. Ia pergi meninggalkan dunia. Kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana seseorang akan meninggal.

Tetapi dari kisah semacam ini kita belajar satu hal: akhir yang baik biasanya tidak lahir secara tiba-tiba. Ia sering kali merupakan buah dari kebiasaan baik yang dipelihara bertahun-tahun.

Sebaliknya, kebiasaan buruk yang terus dipelihara juga patut kita waspadai. Sebab kita tidak pernah tahu kapan kematian mengetuk pintu.

Yang Menentukan Adalah Penutupnya

Rasulullah saw juga mengingatkan: “Sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian amalnya ditutup dengan amalan penghuni neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, kemudian amalnya ditutup dengan amalan penghuni surga.” (HR Bukhari No. 2898 dan Muslim No. 2651)

Hadis ini mengajarkan agar kita tidak mudah merasa aman dengan keadaan diri sendiri. Jangan merasa sudah banyak berbuat baik lalu kemudian berhenti memperbaiki diri.

Dan jangan pula merasa seseorang yang selama ini hidup dalam kesalahan tidak mungkin mendapatkan akhir yang baik.

Kita tidak tahu bagaimana Allah menutup kehidupan seseorang. Karena itu, yang harus kita jaga bukan hanya awal perjalanan, tetapi juga akhir perjalanan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat sesuatu yang sederhana. Ada orang yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai pribadi yang biasa saja. Tidak banyak bicara tentang kesalehan.

Tetapi ketika memiliki kesempatan, ia membantu orang lain. Ketika mendengar azan, ia bergegas salat. Ketika mendapatkan rezeki, ia menyisihkan sebagian untuk orang yang membutuhkan.

Ada pula orang yang tampak baik di hadapan banyak orang, tetapi perlahan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baiknya.

Semua itu mengingatkan kita: istiqamah lebih penting daripada sekadar terlihat baik sesaat.

Apa yang Sering Kita Lakukan?

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907)

Niat berada di dalam hati. Sementara kebiasaan adalah sesuatu yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya saling berkaitan.

Apa yang terus-menerus kita lakukan biasanya menunjukkan apa yang kita anggap penting. Jika seseorang terbiasa membuka Al-Qur’an, hatinya sedang dibiasakan dekat dengan Al-Qur’an. Jika seseorang terbiasa bersedekah, hatinya sedang dilatih untuk tidak terlalu mencintai harta.

Jika seseorang terbiasa meminta maaf, hatinya sedang belajar merendahkan ego. Jika seseorang terbiasa mengingat Allah, hatinya sedang dilatih untuk tidak jauh dari-Nya.

Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang membiasakan kemarahan, kebencian, kesombongan, atau kemaksiatan, semua itu juga sedang membentuk dirinya.

Karena itu, jangan meremehkan kebiasaan kecil. Kebiasaan hari ini bisa menjadi karakter kita esok hari. Dan karakter yang terus dipelihara bisa menjadi bagian dari akhir kehidupan kita.

Jangan Menunggu Tua untuk Berubah

Ada kesalahan yang sering dilakukan manusia: merasa masih memiliki banyak waktu.

“Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah.”

SMPM 5 Pucang SBY

“Nanti kalau sudah pensiun saya akan lebih banyak membaca Al-Qur’an.”

“Nanti kalau sudah punya uang saya akan bersedekah.”

Masalahnya, tidak seorang pun mendapatkan jaminan bahwa ia akan sampai pada kata nanti. Kematian tidak menunggu seseorang selesai membuat rencana. Ia bisa datang ketika seseorang sedang bekerja. Sedang bepergian. Sedang bercanda dengan keluarga. Sedang tidur.

Bahkan ketika seseorang sedang melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga akan menjadi aktivitas terakhir dalam hidupnya.

Karena itu, memperbaiki diri tidak perlu menunggu momentum besar. Mulailah dari hal-hal sederhana. Salat tepat waktu. Membaca Al-Qur’an meskipun beberapa ayat. Berzikir setelah salat. Bersedekah meskipun sedikit. Menolong orang lain. Menjaga lisan. Meminta maaf. Memaafkan.

Dan terus memohon kepada Allah agar hati kita dijaga dalam kebaikan.

Waspadai Maksiat yang Menjadi Kebiasaan

Kita juga perlu berhati-hati terhadap dosa yang dilakukan berulang-ulang. Sebab dosa yang awalnya terasa berat bisa menjadi ringan ketika terus diulangi. Yang semula membuat hati gelisah, lama-lama justru menjadi kebiasaan. Inilah yang berbahaya.

Jangan sampai sesuatu yang seharusnya kita tinggalkan justru menjadi teman dalam keseharian. Kita tidak pernah tahu kapan ajal datang. Karena itu, jangan merasa terlalu nyaman dengan maksiat.

Jangan pula menunda tobat. Selama masih diberi kesempatan hidup, pintu kembali kepada Allah masih terbuka.

Rasulullah saw bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR Tirmidzi No. 2307)

Mengingat kematian bukan berarti membuat hidup menjadi muram. Justru sebaliknya. Mengingat kematian membuat kita lebih sadar bahwa hidup ini sementara. Kita menjadi lebih berhati-hati dalam berbicara. Lebih mudah memaafkan.

Tidak terlalu sombong ketika mendapatkan keberhasilan. Tidak terlalu putus asa ketika mengalami kegagalan.

Sebab pada akhirnya, rumah besar, jabatan, popularitas, kekayaan, dan segala yang kita banggakan akan ditinggalkan. Yang menemani kita hanyalah amal.

Maka, mari bertanya kepada diri sendiri: Jika malam ini adalah malam terakhir kita, apa yang sedang kita lakukan? Sedang beribadah? Sedang membantu orang? Sedang bersama keluarga?

Ataukah sedang melakukan sesuatu yang kita sendiri malu jika Allah memanggil kita dalam keadaan itu?

Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana. Tetapi bisa menjadi cermin yang sangat jujur.

Mari Membiasakan Kebaikan

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengingatkan tentang pentingnya penutup amal. Intinya, orang yang memiliki kebiasaan baik memiliki harapan untuk diwafatkan dalam kebaikan, sedangkan orang yang terbiasa melakukan keburukan patut merasa khawatir akan akhir kehidupannya.

Karena itu, jangan hanya berdoa agar mendapatkan husnul khatimah. Bangun pula kehidupan yang mengantarkan kita menuju husnul khatimah. Biasakan salat. Biasakan zikir.

Biasakan membaca Al-Qur’an. Biasakan bersedekah. Biasakan berkata baik. Biasakan menolong. Biasakan bertobat. Dan biasakan meminta kepada Allah agar hati kita tetap istiqamah.

Kita tidak tahu amal mana yang akan menjadi amal terakhir. Mungkin satu ayat yang kita baca. Mungkin satu rupiah yang kita sedekahkan. Mungkin satu orang yang kita maafkan. Mungkin satu sujud yang kita lakukan dengan penuh ketundukan. Atau mungkin satu doa yang kita panjatkan dengan air mata.

Karena itu, jangan remehkan kebaikan sekecil apa pun. Sebab kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menjadi penutup perjalanan kita di dunia.

Mari berdoa:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي حُسْنَ الْخَاتِمَةِ

Allahummarzuqni husnal khatimah.

“Ya Allah, karuniakanlah kepadaku akhir kehidupan yang baik.”

Semoga Allah membiasakan hati kita dengan kebaikan.

Semoga Allah menjauhkan kita dari maksiat yang menggelapkan hati.

Semoga ketika ajal datang, lisan kita masih mengingat-Nya, hati kita masih beriman kepada-Nya, dan hidup kita meninggalkan amal yang diridai-Nya. Dan semoga kita semua diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, dalam iman dan amal saleh.

Semoga Allah menjauhkan kita dari su’ul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 26/08/2026 17:18
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu