Ada satu kegelisahan yang tidak selalu terlihat, tetapi berat dirasakan. Namanya kegelisahan orangtua.
“Anakku nanti jadi apa, ya?”
“Sekolahnya kok begitu-begitu saja?”
“Kenapa sampai sekarang belum punya pekerjaan tetap?”
“Temannya kok seperti itu?”
“Sudah dinasihati berkali-kali, kok masih tidak mau mendengar?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering berputar-putar di kepala orangtua. Tidak jarang membuat tidur tidak nyenyak. Pikiran terus bekerja, hati terus khawatir.
Apalagi ketika melihat anak orang lain tampak lebih maju. Anak tetangga sudah masuk perguruan tinggi favorit. Anak teman sudah bekerja di perusahaan besar. Anak saudara sudah menikah. Sementara anak sendiri masih mencari jalan.
Tanpa sadar, kita mulai bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah saya gagal menjadi orangtua?”
Di sinilah orangtua perlu berhenti sejenak.
Sebab anak bukan proyek yang hasil akhirnya harus persis seperti keinginan kita. Anak adalah amanah. Anak adalah titipan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab utama orangtua bukan memastikan anak menjadi seperti yang kita inginkan, melainkan berusaha mendidik dan membimbingnya agar menjadi manusia yang diridai Allah.
Tugas kita adalah mendidik dan mendoakan. Adapun hasil akhirnya, itu wilayah Allah Ta’ala.
Tidak Semua Anak Tumbuh dengan Cara yang Sama
Coba perhatikan sebuah kebun. Ada pohon mangga yang relatif cepat berbuah. Ada pohon jati yang membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk tumbuh besar. Ada tanaman yang baru terlihat hasilnya setelah bertahun-tahun.
Tidak adil jika pohon jati dimarahi karena tidak berbuah seperti pohon mangga. Keduanya memang berbeda.
Begitu pula anak-anak kita. Ada anak yang sejak kecil terlihat menonjol dalam bidang akademik. Ada yang baru menemukan potensinya ketika remaja. Ada yang kuat dalam olahraga. Ada yang memiliki kemampuan seni.
Ada yang senang berdagang. Ada yang kelak menjadi guru, dokter, petani, pengusaha, seniman, peneliti, atau memilih jalan pengabdian yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa anak kita gagal hanya karena jalannya tidak sama dengan anak orang lain.
Kita tidak pernah tahu bagaimana Allah menyiapkan masa depannya. Bahkan kisah para nabi mengajarkan bahwa orangtua tidak memiliki kuasa untuk menentukan hasil akhir kehidupan anak.
Nabi Nuh as telah berdakwah dengan penuh kesabaran, tetapi salah seorang putranya tetap memilih jalan kekufuran hingga akhirnya tenggelam dalam banjir.
Nabi Ibrahim as hidup di tengah keluarga yang tidak berada dalam jalan tauhid. Al-Qur’an bahkan menyebut Azar sebagai ayahnya dalam konteks dialog Nabi Ibrahim AS.
Nabi Ya’qub as juga memiliki dua belas putra. Salah satu putranya, Nabi Yusuf AS, pernah menghadapi kedengkian sebelas saudaranya.
Kalau para nabi saja tidak diberi kuasa untuk mengatur hati dan pilihan anak-anak mereka, mengapa kita sebagai orangtua merasa harus mampu mengendalikan seluruh masa depan anak? Di situlah kita belajar tentang batas kemampuan manusia. Kita berikhtiar. Allah yang menentukan hasil.
Kisah Ibu dan Anak yang Tak Kunjung Sesuai Harapan
Bayangkan seorang ibu yang setiap pagi mengantar anaknya ke sekolah. Sejak kecil, ia berharap anaknya menjadi orang sukses. Ia membayar uang sekolah dengan susah payah. Ia membelikan buku. Ia mengikuti perkembangan nilai anaknya. Ia bahkan rela mengurangi kebutuhan dirinya sendiri agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik.
Namun ketika memasuki usia dewasa, anak itu belum menjadi seperti yang dibayangkan. Pekerjaannya belum mapan. Kadang berganti pekerjaan. Penghasilannya belum besar. Sementara teman-teman seangkatannya sudah terlihat sukses.
Sang ibu mulai gelisah.
“Kenapa anakku tidak seperti anak si A?”
Pertanyaan itu akhirnya berubah menjadi omelan. Anak yang awalnya membutuhkan pelukan justru mendapatkan tekanan. Anak yang sebenarnya sedang mencari jalan malah merasa dirinya selalu salah.
Padahal mungkin, yang dibutuhkan anak bukan tambahan perbandingan, tetapi satu kalimat sederhana:
“Ibu percaya kamu sedang berusaha. Jangan menyerah. Mari kita cari jalan bersama.”
Kalimat seperti itu kadang lebih kuat daripada seribu nasihat. Anak membutuhkan orangtua sebagai tempat pulang, bukan tempat untuk terus-menerus merasa gagal.
Tiga Hal yang Sering Membuat Orangtua Stres Melihat Anak
1. Terlalu Sering Membandingkan
“Lihat anak si A, sudah jadi PNS.”
“Anak si B sudah kuliah di luar negeri.”
“Anak si C sudah punya usaha.”
Perbandingan seperti ini sering kali tidak membuat anak termotivasi. Justru membuatnya merasa tidak pernah cukup baik.
Padahal setiap anak memiliki garis rezeki, kemampuan, tantangan, dan waktu tumbuh yang berbeda.
Pohon mangga mungkin bisa berbuah dalam beberapa tahun. Pohon jati membutuhkan waktu jauh lebih panjang.
Sama-sama pohon, tetapi waktunya berbeda.
Begitu pula anak-anak kita.
Jangan memaksa anak tumbuh dengan kalender milik orang lain.
2. Terlalu Banyak Mengeluh, Terlalu Sedikit Mendoakan
Kadang kita lebih rajin mengatakan,
“Kamu kok begini?”
“Kapan berubah?”
“Kenapa tidak seperti kakakmu?”
daripada menengadahkan tangan dan berkata:
“Ya Allah, bimbinglah anakku.”
Padahal doa orangtua untuk anak merupakan salah satu doa yang memiliki keutamaan besar.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ada doa yang tidak tertolak, di antaranya doa orangtua untuk anaknya. (HR. Tirmidzi)
Maka ketika hati mulai gelisah melihat anak, jangan hanya memperpanjang keluhan.
Perbanyak doa.
Sebab ada hal-hal yang tidak mampu kita ubah dengan nasihat, tetapi Allah mampu mengubahnya melalui doa.
3. Mendidik dengan Ego, Bukan dengan Hikmah
Ada orangtua yang ingin anaknya menjadi dokter karena dulu dirinya tidak bisa menjadi dokter.
Ada yang memaksa anak masuk jurusan tertentu karena dianggap lebih bergengsi.
Ada pula yang ingin anak memiliki prestasi akademik setinggi mungkin, tetapi lupa bertanya:
“Sebenarnya anakku memiliki potensi di bidang apa?”
Anak bukan tempat menumpahkan ambisi orangtua.
Kita boleh memiliki harapan. Bahkan sangat wajar jika orangtua memiliki cita-cita untuk anaknya.
Tetapi harapan harus berjalan bersama hikmah.
Jangan sampai kita sibuk mengejar anak menjadi juara di sekolah, tetapi lupa mengajarinya menjadi manusia yang jujur.
Jangan sampai kita ingin anak hafal banyak ayat Al-Qur’an, tetapi anak jarang melihat orangtuanya membaca Al-Qur’an.
Jangan sampai kita menuntut anak rajin salat, sementara orangtuanya sendiri masih sering menunda salat.
Anak lebih banyak belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar.
Lalu, apa yang harus dilakukan orangtua?
Tanam Benih yang Baik Sejak Awal
Anak adalah benih. Tugas kita menanamnya di tanah yang baik. Sirami dengan ilmu. Pupuk dengan doa. Lindungi dengan kasih sayang. Arahkan dengan keteladanan.
Tanamkan akhlak sebelum mengejar ranking. Ajarkan salat. Ajarkan kejujuran. Ajarkan tanggung jawab. Ajarkan menghormati orang lain. Ajarkan keberanian meminta maaf. Ajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain.
Sebab masa depan anak bukan hanya tentang pekerjaan apa yang kelak ia miliki. Yang jauh lebih penting adalah manusia seperti apa ia kelak. Jika akhlaknya baik, insya Allah apa pun profesinya dapat menjadi jalan kebaikan.
Jadilah Ladang yang Subur
Anak meniru. Jika ingin anak gemar membaca Al-Qur’an, biarkan ia melihat orangtuanya membaca Al-Qur’an. Jika ingin anak berkata jujur, tunjukkan kejujuran di rumah.
Jika ingin anak menghormati orang lain, tunjukkan bagaimana menghormati pasangan, tetangga, guru, dan orang yang berbeda pendapat. Kadang kita terlalu sibuk menyuruh anak berubah, padahal anak hanya membutuhkan contoh.
Sebelum meminta anak menjadi baik, mari bertanya: sudahkah rumah menjadi tempat pertama ia belajar kebaikan?
Orangtua bukan hanya guru pertama bagi anak. Orangtua juga merupakan cermin pertama yang dilihat anak setiap hari.
Setelah Berikhtiar, Belajarlah Tawakal
Sudah disekolahkan. Sudah dinasihati. Sudah diberikan contoh. Sudah diajak berbicara. Sudah didoakan. Setelah itu, jangan lupa menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Hasbunallahu wa ni’mal wakil.
Allah cukup bagi kita dan Dia sebaik-baik tempat berserah diri.
Doakan anak dengan doa yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Doa itu penting. Sebab ada fase dalam kehidupan seorang anak ketika nasihat orangtua tidak lagi mudah masuk ke telinganya. Tetapi doa orangtua tetap bisa mengetuk pintu langit.
Jangan Putus Asa Melihat Anak Hari Ini
Ada seorang petani yang menanam pohon. Hari pertama, ia menanam benih. Hari kedua, belum tumbuh apa-apa. Seminggu kemudian, tanah itu masih tampak biasa. Sebulan kemudian, mungkin baru muncul tunas kecil.
Apakah petani itu setiap pagi marah kepada tanah?
“Kenapa belum jadi pohon?”
Tentu tidak. Ia tahu bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu. Ia menyiram. Memberi pupuk. Membersihkan rumput. Menjaga dari hama. Setelah itu, ia menunggu sambil terus merawat.
Begitulah semestinya kita memperlakukan anak. Jangan setiap hari menuntut buah dari benih yang baru saja kita tanam.
Ada anak yang cepat tumbuh. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang baru menemukan jalan hidupnya ketika berusia 20 tahun. Ada yang baru menemukan panggilan hidupnya ketika berusia 30, 40, bahkan 50 tahun.
Karena itu, jangan buru-buru mengatakan:
“Anakku gagal.”
Boleh jadi ia sedang berada dalam proses yang belum selesai. Boleh jadi Allah sedang membentuknya melalui jalan yang tidak kita mengerti.
Dan boleh jadi, sesuatu yang hari ini kita anggap sebagai keterlambatan justru menjadi jalan menuju kebaikan yang jauh lebih besar.
Kita tidak wajib berhasil menjadikan anak seperti yang kita mau. Kita wajib berusaha menjadikan anak sebagai manusia yang mengenal Allah, berakhlak baik, bertanggung jawab, dan mampu menjalani hidup dengan benar.
Benihnya milik Allah. Tanahnya amanah. Kita hanya ditugaskan merawatnya sebaik mungkin.
Maka, jangan terlalu banyak stres. Jangan terlalu cepat kecewa. Jangan menyerah hanya karena melihat anak belum seperti yang kita harapkan. Teruslah mendidik. Teruslah memberi teladan. Teruslah mendoakan.
Sebab bisa jadi, benih kecil yang hari ini tampak belum berarti apa-apa, sepuluh atau dua puluh tahun lagi tumbuh menjadi pohon yang rindang.
Pohon yang buahnya bisa dinikmati banyak orang. Pohon yang teduh menaungi keluarga. Dan, atas izin Allah, pohon itu kelak menjadi salah satu jalan bagi orangtuanya menuju surga.
Anak adalah titipan Allah. Maka jagalah, bukan hanya masa depannya, tetapi juga hatinya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments