Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Anam Sutopo, S.Pd., M.Hum., memaparkan berbagai program strategis yang tengah dikembangkan MPI sebagai upaya memperkuat literasi, dokumentasi, dan pelestarian sejarah Muhammadiyah. Hal itu disampaikannya dalam pengantar Akademi Sejarah Muhammadiyah Batch II yang berlangsung di Dafam Pacific Caesar Hotel, Surabaya, Jumat (7/8/2026).
Mengawali sambutannya, Anam menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang telah menjadi tuan rumah sekaligus menyambut peserta dengan hangat.
“Terima kasih kepada PWM Jawa Timur yang sudah menyambut kami dengan sangat baik,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) yang telah memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Surabaya yang sudah memberikan support terhadap kegiatan ini,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Anam mengingatkan bahwa MPI merupakan salah satu majelis yang memiliki perjalanan panjang dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Menurutnya, cikal bakal majelis ini telah ada sejak tahun 1920 dan terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
“MPI PP Muhammadiyah memiliki sejarah yang panjang sejak berdiri pada tahun 1920,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini MPI PP Muhammadiyah memiliki enam wakil ketua yang menangani berbagai bidang strategis. Salah satu bidang yang dinilai sangat produktif ialah Museum, Kearsipan, dan Pustaka karena berperan penting dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan intelektual Muhammadiyah.
Anam menambahkan, MPI kini tengah mengakselerasi sejumlah program unggulan sebagai bentuk penguatan ekosistem literasi dan sejarah Persyarikatan.
“Program yang sedang kami getolkan adalah SatuMu, Museum Muhammadiyah, dan Muhammadiyah Corner,” ungkapnya.
Menurutnya, ketiga program tersebut saling melengkapi. SatuMu diarahkan untuk memperkuat integrasi data dan informasi Muhammadiyah, Museum Muhammadiyah menjadi ruang pelestarian sejarah dan artefak Persyarikatan, sedangkan Muhammadiyah Corner diharapkan menjadi pusat literasi yang memperkenalkan pemikiran serta perjalanan Muhammadiyah kepada masyarakat luas.
Anam juga menekankan pentingnya penulisan sejarah Muhammadiyah sebagai bagian dari dakwah intelektual. Dokumentasi sejarah, menurutnya, bukan sekadar mencatat peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran bagi generasi berikutnya.
“Dengan penulisan sejarah Muhammadiyah ini akan memberikan edukasi dan menjadi pembelajaran bagi warga kita,” tegasnya.
Melalui Akademi Sejarah Muhammadiyah Batch II, Anam berharap semakin banyak sejarawan dan penulis yang terdorong untuk mendokumentasikan sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah. Dengan demikian, khazanah sejarah Persyarikatan akan semakin kaya sekaligus menjadi rujukan bagi pengembangan gerakan dakwah dan pencerahan Muhammadiyah di masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments