Gedung kuliah tidak harus berhenti sebagai tempat mahasiswa belajar. Di tangan mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), gedung justru dirancang agar dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.
Gagasan tersebut mengantarkan tim DED-CUBE meraih Juara 3 VISIONEER Vocational Building Design Competition (CIVICO) 2026 yang digelar di Universitas Negeri Malang, Jumat (11/9/2026).
Dalam kompetisi tersebut, tim DED-CUBE menawarkan desain gedung kuliah vokasi hijau yang memadukan efisiensi energi dan air dengan fungsi bangunan sebagai media belajar mahasiswa. Gagasan itu dituangkan dalam desain poster Vocational Building Design dan dipresentasikan pada babak final.
Tim tersebut beranggotakan Afif Daffa Brillian, Khoirul Amin Rizeki, dan Hanif Nasrullah, dengan pendampingan dosen Teknik Sipil UMS Ir. Muchlis Abri Putra, S.T., M.M.T., IPM, ASEAN Eng.
Muchlis menjelaskan, konsep yang dibawa tim tidak sekadar menjadikan bangunan ramah lingkungan. Gedung dirancang agar mahasiswa dapat belajar langsung dari sistem yang bekerja di dalamnya.
“Inovasi utamanya adalah gagasan bahwa gedung kuliah vokasi yang hijau tidak boleh berhenti hanya pada hemat energi dan hemat air, tetapi harus menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa di dalamnya,” ujar Muchlis, Jumat (18/9/2026).
Konsep tersebut diwujudkan melalui penggunaan recycled water untuk meningkatkan efisiensi air serta penerapan strategi active and passive design untuk mengoptimalkan efisiensi energi.
Rancangan tim juga menghasilkan nilai Overall Thermal Transfer Value (OTTV) yang lebih baik daripada standar yang disyaratkan. Artinya, aspek kenyamanan termal dan efisiensi energi menjadi bagian yang diperhitungkan sejak tahap perancangan.
Dengan pendekatan itu, gedung tidak hanya diposisikan sebagai ruang untuk mengikuti perkuliahan. Sistem air, energi, pencahayaan, hingga aspek desain bangunan dapat menjadi objek yang dipelajari mahasiswa secara langsung.
Belajar di Luar Ilmu Struktur
Bagi tim DED-CUBE, proses merancang gedung hijau juga menjadi pengalaman untuk keluar dari batas-batas ilmu yang selama ini mereka pelajari di bangku Teknik Sipil.
Khoirul Amin Rizeki mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam kompetisi adalah membagi waktu sekaligus memperluas penguasaan ilmu. Tim harus mempelajari berbagai aspek di luar ilmu struktur.
Mereka antara lain memperdalam arsitektur, pemetaan pencahayaan, Mechanical Electrical Plumbing (MEP), dan energi bangunan.
Proses perancangan juga menuntut ketersediaan perangkat yang memadai. Sebab, desain tidak hanya berhenti pada tampilan bangunan, tetapi harus mempertimbangkan analisis teknis, efisiensi, kemudahan realisasi, hingga pemeliharaan bangunan dalam jangka panjang.
“Pengalaman ini sangat mengesankan, menantang, sekaligus membanggakan. Perjalanan dari tahap riset awal, pemetaan tapak, simulasi teknis, penyusunan berkas Detail Engineering Design (DED), hingga tahap presentasi final menguji daya tahan, komunikasi, dan soliditas tim kami,” kata Khoirul.
Menurut dia, capaian tersebut bukan sekadar kemenangan dalam kompetisi. Proses panjang yang dilalui tim memberikan pengalaman dalam merancang karya rekayasa yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menjawab persoalan keberlanjutan di masa depan.
Muchlis menilai keberhasilan tim tidak terlepas dari keberanian mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman dan menguji gagasan mereka dalam kompetisi.
“Kuncinya adalah keberanian untuk berkompetisi, ide yang kreatif, dan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Harapannya, semakin banyak mahasiswa UMS yang berani mengikuti berbagai kompetisi dan mengibarkan bendera almamater UMS di podium juara,” ujarnya.
Bagi mahasiswa Teknik Sipil UMS, pengalaman di CIVICO 2026 sekaligus menunjukkan bahwa kompetensi seorang calon insinyur tidak cukup hanya menguasai perhitungan struktur.
Kemampuan memahami energi, air, arsitektur, teknologi bangunan, keberlanjutan, komunikasi, dan kerja tim menjadi bagian dari proses merancang bangunan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments