Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. H. Moh. Sulthon Amien, M.M., menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah sejak awal hadir untuk memurnikan ajaran Islam sekaligus meluruskan berbagai praktik keagamaan yang bercampur dengan tradisi di luar tuntunan syariat.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam pembukaan Akademi Sejarah Muhammadiyah Batch II yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Dafam Pacific Caesar Hotel, Surabaya, Jumat (7/8/2026).
Dalam sambutannya, Sulthon mengajak peserta memahami sejarah Muhammadiyah secara utuh, termasuk melihat konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi lahirnya gerakan tajdid yang dipelopori KH Ahmad Dahlan.
Ia kemudian mengisahkan penjelasan sejarawan Prof. Aminuddin Kasdi mengenai sejarah penanggalan Jawa. Menurutnya, sistem penanggalan tersebut merupakan hasil perpaduan atau sinkretisme antara tradisi Hindu dan Islam yang berkembang dalam perjalanan sejarah Nusantara.
“Prof. Aminuddin Kasdi pernah menerangkan bahwa penanggalan Jawa terbentuk dari sinkretisme penanggalan Hindu dan Islam,” ungkap Sulthon.
Menurutnya, memahami sejarah seperti itu penting agar masyarakat mampu membedakan antara produk budaya dan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah. Dengan pemahaman sejarah yang baik, dakwah Muhammadiyah dapat ditempatkan sebagai gerakan yang mengembalikan praktik keagamaan kepada ajaran Islam yang murni tanpa menghilangkan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya.
Sulthon menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak bertujuan menghapus budaya masyarakat, melainkan mengoreksi praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
“Dakwah Muhammadiyah menjauhkan unsur Islam dari bentuk-bentuk ibadah agama lain,” tegasnya.
Ia menambahkan, kehadiran Muhammadiyah telah memberikan kontribusi besar dalam memperkuat pemahaman keislaman masyarakat melalui dakwah yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah.
“Dengan datangnya Muhammadiyah, unsur tahayul, bid’ah, dan khurafat di tengah masyarakat dapat semakin dikurangi,” ujarnya.
Melalui Akademi Sejarah Muhammadiyah Batch II, Sulthon berharap lahir semakin banyak kajian sejarah yang tidak hanya mendokumentasikan perjalanan Muhammadiyah, tetapi juga menjelaskan peran organisasi ini dalam membangun kehidupan keagamaan yang berkemajuan. Menurutnya, penguatan literasi sejarah menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan dakwah Muhammadiyah sekaligus memberikan pemahaman yang utuh kepada generasi muda tentang kontribusi Persyarikatan bagi bangsa dan umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments