Kaidah al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik) bukan sekadar konsep usul fikih biasa di lingkungan Muhammadiyah.
Di tengah laju perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat saat ini, kaidah tersebut justru menemukan relevansi tertingginya sebagai fondasi kokoh kepemimpinan lintas generasi.
Dari titik strategis inilah, para kader Muhammadiyah dari rumpun generasi milenial memikul amanah perjuangan yang sama sekali tidak ringan.
Generasi milenial saat ini sedang berdiri tegak dan terjepit di antara dua arus besar peradaban yang memiliki karakteristik sangat berbeda.
Di Antara Dua Arus Peradaban
Di belakang mereka, berdiri kokoh generasi Baby Boomers yang menjadi saksi sejarah sekaligus pelaku utama pembangunan fondasi Muhammadiyah modern.
Generasi pendahulu ini sukses membangun ribuan sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, dan berbagai amal usaha dengan modal semangat pengorbanan yang luar biasa.
Mereka membesarkan dan merawat organisasi melalui ketekunan yang tinggi, disiplin yang ketat, serta loyalitas tanpa batas terhadap cita-cita luhur persyarikatan.
Sementara itu, di hadapan generasi milenial, telah tumbuh dan berkembang dengan pesat kepemimpinan Generasi Z dan Generasi Alpha.
Dua generasi teranyar ini lahir dan membesarkan diri di tengah lingkungan dunia digital yang serba cepat, terbuka, cair, serta tanpa sekat.
Mereka mengembangkan cara belajar yang berbeda, menerapkan pola berorganisasi yang baru, bahkan mengubah cara pandang dalam memahami sebuah otoritas kepemimpinan.
Generasi muda ini lebih mudah menerima argumentasi rasional daripada instruksi kaku, serta lebih tertarik pada kolaborasi dinamis daripada hierarki organisasi.
Mereka juga jauh lebih menghargai keteladanan tindakan nyata di lapangan daripada sekadar simbol-simbol formalitas dari sebuah kursi kepemimpinan.
Di sinilah posisi kader milenial Muhammadiyah menjadi sangat unik, menantang, sekaligus menempati posisi yang sangat strategis bagi masa depan organisasi.
Mereka bukan lagi kelompok generasi yang hanya duduk pasif belajar dari senior, namun juga belum menjadi generasi yang sepenuhnya menentukan arah masa depan.
Kader milenial bertindak sebagai jembatan hidup yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan pembaruan masa depan, serta tradisi dengan inovasi zaman.
Seni Menerjemahkan Dakwah Digital
Tantangan terbesar yang menghadang kader milenial saat ini bukan persoalan angka usia, melainkan kemampuan menerjemahkan nilai organisasi.
Mereka harus mampu menerjemahkan semangat tajdid ke dalam bahasa kekinian yang mudah dipahami dan dicerna oleh generasi digital saat ini.
Kader milenial wajib mengemas etos beramal usaha ke dalam budaya kolaborasi terbuka yang tidak kaku dan tidak terjebak birokrasi.
Tantangan ini menuntut mereka merumuskan ulang dakwah bil-hal ke dalam ekosistem media sosial, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan ruang virtual.
Ruang-ruang virtual inilah yang sekarang menjadi tempat utama lahirnya opini publik serta kiblat gaya hidup generasi muda masa kini.
Muhammadiyah sesungguhnya tidak pernah menampilkan sikap alergi atau antipati terhadap setiap derap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.
Sejak KH Ahmad Dahlan mendirikan gerakan ini, persyarikatan justru lahir sebagai jawaban konkret dan respons aktif terhadap perubahan zaman.
Ide tajdid bukan sebatas pembaruan pemikiran keagamaan di atas kertas, melainkan keberanian nyata menghadirkan solusi baru atas persoalan umat.
Karena itu, tantangan kader milenial bukan memilih antara tradisi atau modernitas, melainkan memastikan modernitas tetap berjalan dalam panduan Islam Berkemajuan.
Meruntuhkan Ego Kolektif Organisasi
Di sisi lain, kader milenial juga harus menyadari dengan penuh ketundukan bahwa kepemimpinan di Muhammadiyah bukanlah sebuah proyek individual.
Model kepemimpinan persyarikatan merupakan buah manis dari proses kaderisasi yang panjang, kepercayaan kolektif, serta kepatuhan pada mekanisme organisasi.
Tidak ada satu pun pemimpin besar di Muhammadiyah yang lahir secara instan tanpa guru, tanpa mentor, tanpa proses, dan tanpa dukungan jemaah.
Kesadaran kolektif ini menjadi sangat penting agar generasi milenial tidak terjebak dalam budaya pencitraan pribadi (personal branding) yang semu.
Budaya egois tersebut sering mengaburkan, bahkan merusak esensi dari kerja kolektif-kolegial yang selama ini menjadi kekuatan utama Muhammadiyah.
Sebaliknya, generasi senior dalam jajaran pimpinan juga menghadapi tantangan besar untuk membuka ruang aktualisasi yang lebih luas bagi kader muda.
Umat tidak boleh memaknai proses regenerasi sebatas pergantian jabatan formal di atas kertas saat pelaksanaan musyawarah atau muktamar saja.
Regenerasi sejati harus melibatkan proses perpindahan pengetahuan, transfer pengalaman berharga, serta penyerahan kepercayaan secara tulus dan bertanggung jawab.
Organisasi yang sehat dan kuat bukan hanya mampu melahirkan kader, melainkan juga harus memiliki keberanian untuk mempercayai kapasitas kader tersebut.
Kolaborasi Global Menuju Abad Kedua
Di tengah dinamika perubahan yang cepat ini, Muhammadiyah tidak membutuhkan kompetisi ego ataupun ego sektoral antargenerasi di dalam tubuhnya.
Hal yang persyarikatan butuhkan hari ini adalah kerja kolaborasi antargenerasi yang solid, inklusif, harmonis, serta saling menguatkan satu sama lain.
Generasi Baby Boomers menghadirkan hikmah pengalaman, sedangkan Generasi X datang memperkuat tata kelola dan manajemen organisasi yang profesional.
Kelompok milenial membawa kemampuan adaptasi teknologi yang cepat, sementara Generasi Z dan Alpha menawarkan kreativitas segar serta perspektif baru.
Ketika seluruh potensi besar ini bertemu dalam semangat berjamaah, Muhammadiyah akan memiliki modal sosial yang sangat raksasa untuk abad kedua.
Akhirnya, menjadi kader Muhammadiyah milenial berarti bersedia memikul dua amanah berat sekaligus di atas pundak mereka tanpa boleh mengeluh.
Amanah pertama adalah menjaga warisan mulia para pendahulu agar nilai-nilai gerakan tidak tercerabut dari akar sejarah dan keikhlasan.
Sedang amanah kedua adalah memastikan warisan sejarah tersebut tetap hidup, kontekstual, menarik, serta relevan bagi generasi yang akan datang.
Sebab, sebuah organisasi tidak akan bertahan hidup hanya karena memiliki catatan sejarah masa lalu yang sangat panjang dan megah.
Organisasi akan abadi karena kemampuannya merawat kesinambungan nilai-nilai dasar di tengah gempuran badai perubahan zaman yang terus bergerak.
Konsep Islam Berkemajuan bukanlah sebuah produk pemikiran yang sudah selesai kita rumuskan lalu kita simpan rapat di dalam lemari.
Islam Berkemajuan adalah sebuah ikhtiar perjuangan dinamis yang harus kita suarakan dan kita menangkan di setiap jengkal ruang kehidupan.
Dan beban perjuangan besar itu, hari ini, bertumpu di atas pundak kader milenial untuk menjadi penghubung, penerjemah, sekaligus penggerak utama persyarikatan.***





0 Tanggapan
Empty Comments