Suasana haru menyelimuti Auditorium TMB saat SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) melepas empat guru dan satu karyawan yang memasuki masa purnatugas, Jumat (10/7/2026).
Tangis haru pecah ketika para pengabdi senior itu berpamitan setelah puluhan tahun mendedikasikan diri untuk kemajuan sekolah. Acara tersebut dihadiri seluruh guru dan karyawan Mudipat.
Empat guru yang memasuki masa purnatugas yakni Sri Purwanti dengan masa pengabdian 32 tahun, Mulyana 33 tahun, Sudir 36 tahun, dan M. Idris 35 tahun. Sementara itu, Nur Toha yang telah mengabdi selama 15 tahun sebagai tenaga kebersihan juga turut dilepas pada kesempatan tersebut. Kelimanya merupakan bagian dari generasi awal yang menjadi saksi perjalanan panjang SD Mudipat hingga berkembang menjadi salah satu sekolah unggulan.
Dalam sambutannya, Mulyana mengungkapkan rasa syukur karena dapat menuntaskan masa pengabdiannya hingga memasuki masa pensiun di sekolah yang telah menjadi bagian besar dalam hidupnya.
“Kami harus pamit karena telah menuntaskan pengabdian di Mudipat sampai masa pensiun,” ujarnya dengan suara bergetar.
Guru yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya itu berpesan kepada seluruh guru yang masih aktif agar terus menjaga dan membesarkan Mudipat dengan penuh tanggung jawab. Ia mengibaratkan sekolah sebagai pohon besar yang harus dirawat agar tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan.
“Ibarat tanaman yang tumbuh besar, anginnya juga semakin besar, bahkan bisa datang puting beliung. Hati-hati, jika sekolah ini tidak dijaga dengan baik, bisa diterpa badai,” pesannya.
Mulyana juga mengingatkan seluruh civitas akademika agar tidak cepat merasa puas dengan berbagai capaian yang telah diraih.
“Jangan merasa Mudipat sudah menjadi yang terbaik. Kita harus terus berbenah,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan sekolah tidak hanya bergantung pada kepala sekolah atau jajaran wakil kepala sekolah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh warga sekolah. Karena itu, ia menekankan pentingnya manajemen yang tertata, rasa memiliki, dan kepedulian dari setiap guru maupun karyawan.
“Manajemen harus ditata dengan baik. Semua harus merasa memiliki dan peduli, bukan hanya karena menjadi kepala sekolah atau wakil kepala sekolah,” katanya.
Menjelang akhir sambutannya, suasana kembali dipenuhi isak tangis. Dengan mata berkaca-kaca, Mulyana menyampaikan terima kasih kepada Mudipat yang telah menjadi tempatnya mengabdi selama 33 tahun.
“Terima kasih, Mudipat sudah memberi saya kesempatan mencari nafkah selama 33 tahun,” ucapnya lirih.
Ia berharap tali silaturahmi tetap terjalin meski dirinya dan rekan-rekan telah menyelesaikan masa tugas sebagai pendidik.
Senada dengan Mulyana, satu per satu guru dan karyawan yang purnatugas menyampaikan kesan, pesan, serta permohonan maaf kepada seluruh keluarga besar Mudipat apabila selama menjalankan tugas terdapat kekhilafan. Mereka juga menyampaikan rasa syukur dapat mengakhiri masa pengabdian bersama sekitar 150 guru dan karyawan lainnya.
Acara ditutup dengan doa bersama dan harapan agar SD Mudipat terus berkembang serta melahirkan generasi terbaik. Munarto, yang mewakili Kepala SD Mudipat Edy Susanto karena tak kuasa menahan haru, menyampaikan apresiasi atas keteladanan para purnatugas.
“Banyak teladan yang dapat kami ambil dari beliau-beliau. Semoga Mudipat terus jaya,” ujarnya.
Suasana penuh haru yang menyelimuti prosesi pelepasan tersebut menjadi gambaran eratnya ikatan kekeluargaan yang telah terbangun di lingkungan SD Mudipat selama bertahun-tahun. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments