Rangkaian Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) serta Masa Ta’aruf Madrasah Muhammadiyah (Matamuda) hari keempat MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda pada kamis (16/7/2026).
Para peserta didik baru diajak mengunjungi Industri Batik Tulis Sido Makmur di Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, untuk mengenal secara langsung proses lahirnya selembar kain batik yang sarat nilai seni, budaya, dan filosofi kehidupan.
Sesampainya di lokasi, peserta disambut hangat oleh pemilik dan para perajin Batik Tulis Sido Makmur. Mereka diajak menyusuri setiap tahapan pembuatan batik, mulai dari mengenal motif, proses pencantingan, pewarnaan, hingga tahap pelorodan. Penjelasan tersebut membuka wawasan siswa bahwa batik bukan sekadar produk sandang, melainkan warisan budaya yang lahir dari ketelitian, kesabaran, dan kecintaan terhadap tradisi.
Tidak berhenti pada teori, setiap peserta diberi kesempatan menggoreskan canting di atas kain mori. Dengan penuh kehati-hatian, satu per satu siswa mencoba menuangkan malam mengikuti pola yang telah disiapkan. Bagi sebagian besar peserta, pengalaman tersebut merupakan kali pertama memegang canting.
Menghidupkan Warisan, Menjaga Identitas Bangsa
Pemilik Batik Tulis Sido Makmur Elen menyampaikan bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan batik sebagai identitas bangsa.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya mengenal batik sebagai pakaian yang dipakai setiap hari, tetapi juga memahami perjuangan, ketekunan, dan nilai budaya yang ada di balik proses pembuatannya. Jika generasi muda mencintai batik sejak sekarang, maka warisan budaya ini akan terus hidup di masa depan,” ungkapnya.
Wakil Kepala bagian Kesiswaan MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, Ahmad Fendi, SH menegaskan bahwa kunjungan industri merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual yang menghubungkan materi pendidikan dengan realitas kehidupan.
“Kami ingin peserta didik belajar langsung dari sumbernya. Ketika mereka melihat sendiri bagaimana sebuah karya lahir melalui proses yang panjang, mereka akan memahami bahwa keberhasilan selalu membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kerja keras. Nilai-nilai inilah yang ingin kami tanamkan kepada peserta didik sejak awal mereka menempuh pendidikan di madrasah,” ujarnya.
Fortasi Tidak Sekadar Perkenalan, tetapi Membentuk Karakter
Ketua Panitia Fortasi Neelofa Anggreany menjelaskan bahwa kunjungan industri menjadi salah satu inovasi dalam pelaksanaan Fortasi dan Matamuda agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
“Kami ingin Fortasi menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus membuka wawasan. Melalui kegiatan ini, peserta didik belajar menghargai karya orang lain, mengenal potensi daerah, dan memahami bahwa budaya lokal memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai luhur yang harus dijaga bersama,” katanya.
Pembina IPM MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Rafly Ardian Firmansyah menambahkan bahwa kegiatan di luar kelas mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya.
“Belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Ketika siswa hadir langsung di tengah para perajin, mereka melihat bagaimana kesabaran, kreativitas, dan ketekunan berpadu menjadi sebuah karya bernilai tinggi. Pengalaman seperti ini akan lebih membekas dibanding sekadar membaca dari buku,” tuturnya.
Salah seorang peserta Ani Syafa’a mengaku terkesan setelah mencoba membatik.
“Awalnya saya mengira membatik itu mudah, ternyata membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Setelah mencobanya sendiri, saya semakin menghargai hasil karya para perajin batik dan bangga karena Indonesia memiliki budaya yang sangat indah,” ungkapnya.
Kunjungan industri ke Batik Tulis Sido Makmur menjadi penutup yang bermakna dalam rangkaian Fortasi dan Matamuda hari keempat. Melalui setiap goresan canting, peserta didik tidak hanya belajar menciptakan motif di atas kain, tetapi juga belajar menghargai proses, mencintai budaya, serta menyadari bahwa menjaga warisan leluhur merupakan tanggung jawab bersama.
Dari ruang produksi batik yang sederhana itulah, tumbuh harapan akan lahirnya generasi yang tidak sekadar mengenakan batik, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments