Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Merawat dengan Ilmu, Melayani dengan Hati: Catatan tentang Kesiapan Perawat Masa Kini

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Merawat dengan Ilmu, Melayani dengan Hati: Catatan tentang Kesiapan Perawat Masa Kini
Merawat dengan Ilmu, Melayani dengan Hati: Catatan tentang Kesiapan Perawat Masa Kini
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Kelulusan sering dianggap sebagai garis akhir. Bagi seorang calon perawat, kelulusan justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Sertifikat kompetensi memang menandai kesiapan secara akademik. Namun, dunia pelayanan kesehatan menuntut lebih dari itu, yaitu kematangan sikap, pemahaman regulasi, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan yang terus terjadi.

Kesadaran inilah yang terasa dalam kegiatan pembekalan lulusan D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sebelum para lulusan benar-benar melangkah ke dunia kerja.

Dekan FIK Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr Dede Nasrullah, menyampaikan harapan yang patut kita renungkan bersama. Lulusan keperawatan hari ini perlu menjadi pribadi yang adaptif, terutama terhadap perkembangan teknologi. Harapan ini terasa relevan. Pelayanan kesehatan terus bergerak ke arah digital, mulai dari rekam medis elektronik hingga layanan kesehatan jarak jauh. Perawat yang enggan belajar hal baru perlahan akan tertinggal oleh zamannya.

Dekan juga mendorong dan memfasilitasi lulusan yang ingin bekerja di luar negeri. Pandangan ini menarik. Bekerja di luar negeri tidak semata-mata soal penghasilan, melainkan kesempatan untuk memperluas cakrawala. Pengalaman di lingkungan kerja internasional dapat memperkaya wawasan klinis, melatih kemampuan berkomunikasi lintas budaya, dan menumbuhkan daya saing global. Pada saatnya, pengalaman tersebut dapat kembali memberi manfaat bagi mutu layanan kesehatan di tanah air.

Di tengah dorongan untuk terus maju, Dekan mengingatkan satu hal mendasar. Di mana pun lulusan bekerja, baik di rumah sakit maupun di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, integritas harus tetap dijaga dan kode etik keperawatan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Pesan ini sederhana, tetapi justru di situlah letak kepercayaan masyarakat terhadap profesi perawat.

Kompetensi yang Berpijak pada Nilai

Pesan tersebut diperkuat oleh Ketua Program Studi D3 Keperawatan, Siti Aisyah. Menurutnya, lulusan yang telah memperoleh sertifikat kompetensi sudah siap menjadi perawat yang dapat mengabdi di seluruh penjuru Indonesia. Kesiapan itu tidak berdiri sendiri. Ia dibingkai oleh nilai-nilai kemuhammadiyahan, keislaman, dan kemanusiaan.

Ketiga nilai ini memberi makna yang lebih dalam pada profesi keperawatan. Merawat bukan sekadar menjalankan prosedur klinis, melainkan bentuk pengabdian. Nilai kemanusiaan, khususnya, mengingatkan bahwa setiap pasien adalah manusia utuh dengan martabat, rasa takut, dan harapan yang perlu dihargai. Dengan pijakan nilai seperti ini, kompetensi tidak hanya membuat perawat terampil, tetapi juga membuatnya hadir sepenuhnya bagi pasien.

Etika sebagai Jiwa Pelayanan

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Pembahasan tentang etika mendapat ruang tersendiri melalui materi standar etika pelayanan kesehatan yang disampaikan Dr. Musrifatul Uliyah, S.ST., M.Kes. Dalam keperawatan, etika bukan sekadar daftar aturan. Etika menjadi kompas dalam mengambil keputusan. Prinsip menghormati otonomi pasien, berbuat baik, tidak merugikan, berlaku adil, dan menjaga kerahasiaan merupakan fondasi hubungan terapeutik yang sehat.

Banyak persoalan dalam pelayanan kesehatan sebenarnya tidak berawal dari kurangnya keterampilan. Persoalan itu lebih sering muncul dari komunikasi yang kurang empatik atau etika yang terabaikan. Karena itu, menanamkan kesadaran etis sejak awal karier adalah investasi jangka panjang bagi mutu pelayanan.

Legalitas sebagai Bentuk Perlindungan

Aspek legalitas dibahas oleh Ketua PPNI Kota Surabaya, Dr. Nuh Huda, S.Kep., Ns., M.Kep. Ia memperkenalkan organisasi profesi beserta program kerjanya, sekaligus menjelaskan tata cara penerbitan STR, SIPP, dan kartu anggota. Bagi sebagian lulusan, urusan administrasi semacam ini mungkin terasa rumit. Padahal, legalitas adalah bentuk perlindungan, baik bagi perawat dalam menjalankan praktik maupun bagi pasien yang menerima layanan.

Penjelasan ini dilengkapi oleh Erfan Rofiqi, S.Kep., Ns., M.Kep., dari pengurus alumni. Ia memperkenalkan ikatan alumni dan menjelaskan alur pemrosesan STR melalui DPK PPNI. Kehadiran alumni memberi pesan yang menenangkan: lulusan baru tidak berjalan sendirian. Ada jejaring yang siap mendampingi dan berbagi pengalaman.

Sebagai penutup rangkaian materi, Lina Melati, S.Kep., Ns., MM., praktisi dari RS Siti Khodijah Surabaya, menghadirkan gambaran nyata tentang dunia kerja. Ia memaparkan sistem penerimaan pegawai baru di rumah sakit serta etika yang perlu dijunjung pegawai baru. Kedisiplinan, kemampuan beradaptasi dengan budaya organisasi, kerja sama tim, dan ketulusan dalam melayani menjadi bekal yang sama pentingnya dengan keterampilan klinis.

Materi ini menjembatani apa yang dipelajari di bangku kuliah dengan apa yang benar-benar dibutuhkan di lapangan. Dengan memahami harapan institusi pelayanan kesehatan, lulusan dapat mempersiapkan diri dengan lebih tenang dan terarah. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 31/10/2026 21:55
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu