Suasana Ahad pagi, 1 November 2026, di Masjid GSI Surabaya terasa berbeda. Diawali dengan salat Subuh berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan Kajian Ba’da Subuh yang menghadirkan Ustad Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Mengangkat tema “Dakwah Komunitas Membangun Peradaban”, kajian ini menarik perhatian jamaah. Tema yang tidak biasa diangkat dalam kajian Subuh tersebut mengajak jamaah melihat dakwah dari sudut pandang yang lebih luas. Bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas menyampaikan ceramah di atas mimbar, melainkan gerakan yang hadir, menyapa, mendampingi, dan memberikan solusi bagi kehidupan masyarakat.
Dalam tausiyahnya, Ustad Muchamad Arifin menyampaikan bahwa dakwah komunitas tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dakwah dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja, baik di ruang nyata maupun ruang maya. Begitu pula jumlah jamaahnya, tidak harus selalu berkumpul secara fisik, tetapi dapat menjangkau masyarakat melalui berbagai platform digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi justru membuka peluang semakin luas bagi gerakan dakwah. Jika dahulu dakwah lebih banyak dilakukan melalui pertemuan langsung, kini pesan-pesan kebaikan dapat menjangkau komunitas yang lebih luas tanpa dibatasi jarak geografis.
Namun, ia mengingatkan bahwa dakwah digital tidak boleh berhenti pada aktivitas menyebarkan pesan keagamaan. Kehadiran dakwah harus tetap membawa nilai-nilai kemanusiaan, mencerahkan pikiran, membangun kepedulian, serta menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Dakwah komunitas bukan semata-mata tentang seberapa banyak orang yang mendengarkan ceramah kita, tetapi sejauh mana kehadiran dakwah mampu memberikan perubahan dan manfaat bagi kehidupan masyarakat,” demikian pesan yang menjadi salah satu penekanan dalam kajian tersebut.
Lebih jauh, dakwah komunitas perlu dibangun melalui kedekatan dan pemahaman terhadap karakter masyarakat. Setiap komunitas memiliki kebutuhan, tantangan, dan persoalan yang berbeda. Karena itu, pendekatan dakwah tidak bisa diseragamkan. Dakwah harus mampu hadir sesuai dengan kebutuhan komunitas yang didampinginya.
Dakwah yang demikian tidak hanya mengajak masyarakat menjadi lebih baik secara spiritual, tetapi juga mendorong kemandirian, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun kehidupan yang lebih bermartabat.
Kajian pagi itu memberikan pesan penting bahwa membangun peradaban tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Ia bisa berawal dari langkah sederhana: mengenali lingkungan, menyapa komunitas, membangun kepedulian, dan menghadirkan manfaat secara berkelanjutan.
Sebab, pada hakikatnya, dakwah bukan hanya tentang menyampaikan kebaikan, tetapi juga bagaimana membuat kebaikan itu tumbuh, dirasakan, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments