Pendidikan adab dan kedisiplinan yang diterima Hj. Istiqomah, S.ST., Bd., M.Kes., selama enam tahun di SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang pada era 1980-an masih membekas hingga kini. Nilai-nilai tersebut bahkan terus ia ajarkan kepada anak dan cucunya.
Kenangan itu ia sampaikan dalam silaturahmi dan wawancara bersama tim SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang atau SD Mutu Kagumi di Babatan, Balongpanggang, Kamis (29/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Istiqomah menceritakan pengalaman pendidikannya di tengah kondisi sekolah yang masih sederhana.
Menurutnya, pendidikan di SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang pada masa itu menekankan akhlak, adab, dan kedisiplinan. Meski pola pendidikan yang diterapkan terbilang tegas, nilai-nilai positifnya tetap ia rasakan hingga dewasa.
“SD Muhammadiyah itu sangat menjunjung tinggi akhlak, adab, dan kedisiplinan. Mendidiknya memang agak keras, tetapi di situlah saya bisa menempuh hal-hal positif sampai dengan sekarang,” ungkapnya.
Ia juga mengingat prinsip yang dahulu sering disampaikan di lingkungan Muhammadiyah, yakni “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah”. Prinsip tersebut menjadi salah satu pesan yang terus melekat dalam perjalanan hidupnya.
Selain itu, kebiasaan salat berjamaah, kejujuran, keikhlasan, kedisiplinan, serta penghormatan kepada orang lain menjadi nilai yang ia ingat dari masa sekolah.
Kesederhanaan Sekolah, Ketulusan Guru
Mengenang masa sekolah pada era 1980-an, Istiqomah menceritakan kondisi SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang yang masih sederhana. Pembelajaran menggunakan papan tulis dan kapur. Bahkan, sebagian siswa berangkat sekolah tanpa mengenakan sepatu.
Jumlah guru saat itu juga masih terbatas. Berdasarkan ingatannya, terdapat sekitar enam guru yang mendampingi enam kelas. Meski fasilitas belum lengkap, kebersamaan antara guru dan siswa terasa kuat.
Ia mengaku menghargai kerja sama dan kekompakan para guru dalam mendidik siswa. Kedisiplinan yang diterapkan membuat anak-anak terbiasa mengikuti aturan dan menjaga kebersamaan.
Salah satu sosok yang paling membekas dalam ingatannya adalah Muhadjid, Kepala SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang periode 1967–1999. Selama enam tahun menempuh pendidikan, Istiqomah berada di bawah kepemimpinan kepala sekolah yang sama.
Baginya, Muhadjid bukan hanya pemimpin sekolah, tetapi juga sosok yang dikenang seperti orang tua sendiri.
“Enam tahun sekolah dengan kepala sekolah yang sama. Disiplinnya itu yang sampai sekarang kami ajarkan kepada anak-anak, bahkan sampai cucu saya. Saya juga mengajarkan mereka seperti yang dahulu saya dapatkan di Muhammadiyah,” tuturnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana nilai pendidikan dapat diwariskan lintas generasi. Ketegasan dan keteladanan guru menjadi bagian dari kenangan yang terus hidup dalam keluarga alumni.
Pesan untuk Generasi Muda: Jaga Adab dan Salat Lima Waktu
Dalam wawancara tersebut, Istiqomah juga menyampaikan pesan kepada siswa SD Muhammadiyah 1 Balongpanggang agar senantiasa menjaga adab, akhlak, dan budi pekerti.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk kepribadian seseorang, baik selama menempuh pendidikan maupun ketika menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak-anak. Pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga perlu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan keluarga.
“Kesuksesan itu tidak terlepas dari tidak meninggalkan salat lima waktu. Jadi, lima waktu jangan ditinggalkan, karena dunia akan mengikutinya. Kesuksesan itu akan mengikutimu. Tugas saya hanya mengingatkan,” pesannya.
Nasihat tersebut menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan kebiasaan baik sejak dini.
Berbeda Zaman, Tetap Menjaga Nilai
Ketika diminta membandingkan kondisi sekolah dahulu dan sekarang, Istiqomah melihat perkembangan pendidikan yang cukup besar. Jika dahulu sekolah berjalan dengan fasilitas sederhana dan teknologi terbatas, kini pendidikan semakin modern dengan dukungan sarana dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Namun, ia berharap nilai kebersamaan, keikhlasan, adab, dan kedisiplinan tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Perubahan zaman, menurutnya, tidak seharusnya menghilangkan nilai-nilai dasar yang membentuk karakter manusia.
Bagi SD Mutu Kagumi, kisah para alumni menjadi bagian berharga dari perjalanan sekolah. Pengalaman mereka menghadirkan gambaran tentang pendidikan masa lalu sekaligus pengingat agar nilai-nilai kebaikan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang ilmu yang diperoleh selama berada di sekolah, tetapi juga tentang adab, akhlak, kejujuran, dan keimanan yang terus diterapkan sepanjang hayat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments