Semangat kedermawanan dan pelayanan sosial menjadi salah satu nilai yang menguatkan perkembangan Muhammadiyah. Hal tersebut disampaikan Dr. Nurbani Yusuf, M.Si., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam Pengajian Keluarga Sakinah yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan pada hari Ahad (1/11/2026) di Masjid Al-Muttaqin, Jalan Gresik Gadukan No. 99, Surabaya.
Pengajian yang berlangsung mulai pukul 06.00 WIB tersebut mengangkat tema “Pak AR Fakhruddin, Muhammadiyah itu Islam Nyah-Nyoh”.
Dalam ceramahnya, Nurbani Yusuf menguraikan nilai spiritual, sejarah, dan karakter filantropi yang menurutnya menjadi bagian penting dari perkembangan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam dengan berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Keteladanan Ahmad Dahlan dan Teologi Al-Ma’un
Nurbani mengawali ceramah dengan mengisahkan perjuangan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Ia menyampaikan bahwa sekitar 1921–1922, Ahmad Dahlan pernah melelang perabot rumah tangganya untuk mendukung keberlangsungan pendidikan Muhammadiyah.
Menurut Nurbani, kisah tersebut menunjukkan bahwa kesalehan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi juga harus hadir dalam kepedulian terhadap sesama.
“Pengorbanan K.H. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa kesalehan pribadi saja tidak pernah cukup. Agama melarang sikap kikir, bahkan Al-Qur’an mengategorikan orang yang enggan berderma dan mengabaikan anak yatim serta fakir miskin sebagai pendusta agama, sebagaimana diajarkan dalam Teologi Al-Ma’un,” tegas Nurbani.
Ia mengaitkan semangat tersebut dengan perkembangan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Menurutnya, kepedulian terhadap masyarakat menjadi salah satu nilai yang mendorong Muhammadiyah terus berkembang.
Islam Nyah-Nyoh dan Semangat Filantropi
Mengangkat tema “Islam Nyah-Nyoh”, Nurbani menjelaskan istilah tersebut sebagai sikap pemurah dan gemar memberi tanpa ragu. Ia mengaitkannya dengan keteladanan sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahman bin Auf, yang dikenal sebagai sosok kaya raya sekaligus dermawan.
Dalam ceramahnya, Nurbani mengisahkan Abdurrahman bin Auf yang disebut pernah membeli kurma busuk milik petani Madinah ketika kota tersebut menghadapi ancaman paceklik. Kisah itu menggambarkan kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi.
“Abdurrahman bin Auf dicintai dan dimuliakan bukan karena menimbun harta, melainkan karena kegemarannya memberi makan dan berbagi. Muhammadiyah bisa besar dan kaya asetnya karena memegang erat prinsip keberkahan filantropi ini, suka memberi dan melayani masyarakat,” tambahnya.
Nurbani juga mengutip pandangan mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengenai Muhammadiyah. Gus Dur pernah menggambarkan Muhammadiyah sebagai organisasi yang “gemuk” atau kaya, tetapi pengurusnya “kurus”.
Ungkapan tersebut, menurut penjelasan dalam ceramah, menggambarkan pengelolaan aset dan amal usaha Muhammadiyah secara profesional atas nama organisasi. Sementara itu, para pimpinan dan pengurus diharapkan tetap hidup sederhana serta tidak mengambil keuntungan pribadi dari aset organisasi.
Dakwah Muhammadiyah dan Kemenangan Dialektik
Nurbani turut memaparkan gagasan “kemenangan dialektik” Muhammadiyah yang dikaitkan dengan pemikiran Gus Dur. Ia menjelaskan bahwa sejumlah nilai yang dahulu diperjuangkan Muhammadiyah melalui pendidikan, kesehatan, dan dakwah kini telah diserap secara luas dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, dakwah Muhammadiyah tidak hanya diwujudkan melalui penyampaian ajaran agama, tetapi juga melalui pembangunan lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, dan berbagai kegiatan sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia mencontohkan perjuangan Muhammadiyah dalam membangun masjid dan lembaga pendidikan untuk memperkuat dakwah, serta rumah sakit sebagai bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat.
Kiprah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan sosial, lanjutnya, juga berkaitan dengan perjalanan sejumlah tokoh nasional. Dalam ceramah tersebut, Nurbani menyebut Soekarno sebagai kader Muhammadiyah dan Fatmawati sebagai kader aktif ‘Aisyiyah.
Ia juga mengutip pernyataan Presiden Soeharto dalam pembukaan Muktamar ke-43 Muhammadiyah di Banda Aceh pada Juli 1995:
“Saya ini bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia.”
Melalui kisah sejarah dan keteladanan tersebut, Nurbani mengajak jamaah memahami bahwa semangat filantropi merupakan bagian penting dari dakwah Muhammadiyah. Kepedulian terhadap sesama, menurutnya, perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan pelayanan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments