Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Monolog: Saat Menghadapi Lingkungan Berisiko Tinggi

Iklan Landscape Smamda
Monolog: Saat Menghadapi Lingkungan Berisiko Tinggi
Foto: Ist/PWMU.CO
Oleh : Dr. Anwar Hariyono Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

Aku masih ingat hari pertama itu, 12 Juni 2000. Aku hanyalah seorang pemuda biasa dari Afrika Selatan yang duduk gugup di ruang konferensi lantai 30 di 125 Broad Street. Setelah melewati proses seleksi yang sangat ketat, aku diterima sebagai peserta program magang di Goldman Sachs.

Di ruangan itu, para petinggi menguji kami melalui sesi Open Meeting yang terkenal keras. Mereka menguji pengetahuan kami tentang pasar tanpa kompromi. Namun, ada satu nilai yang terus mereka tekankan: integritas. Kami diajarkan untuk tidak pernah membohongi klien. Kepentingan klien harus selalu menjadi prioritas. Saat itu aku percaya sepenuhnya pada prinsip tersebut. Bagiku, Goldman Sachs adalah standar emas Wall Street, sebuah institusi yang membangun reputasinya di atas fondasi kepercayaan.

Tahun demi tahun berlalu. Aku bekerja keras melewati masa sulit runtuhnya gelembung dotcom hingga tragedi 11 September 2001 yang mengguncang New York. Aku mempelajari perdagangan derivatif dari nol hingga dipercaya menangani transaksi bernilai miliaran dolar untuk sejumlah pengelola dana terbesar di dunia. Karierku berkembang hingga dipercaya menjabat sebagai Wakil Presiden. Dari luar, semuanya tampak sempurna.

Namun, krisis keuangan global 2008 perlahan membuka mataku. Ketika banyak klien kehilangan miliaran dolar akibat kejatuhan pasar, bank justru mencetak keuntungan besar dari kekacauan tersebut. Saat itulah aku mulai melihat retakan pada nilai-nilai yang dahulu begitu dijunjung tinggi. Klien yang sebelumnya dianggap sebagai pihak yang harus dilindungi, perlahan dipandang sebagai lawan transaksi yang dapat dieksploitasi demi keuntungan.

Puncak kegelisahanku datang ketika Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) menggugat Goldman Sachs terkait produk Abacus, sebuah Collateralized Debt Obligation (CDO). CDO merupakan instrumen keuangan terstruktur yang menggabungkan berbagai jenis utang—seperti kredit pemilikan rumah, obligasi, maupun pinjaman lainnya—ke dalam satu produk investasi yang dijual dalam beberapa lapisan risiko (tranche). Tuduhan SEC menyebutkan bahwa seorang manajer dana lindung nilai diberi kesempatan memilih aset hipotek berkualitas buruk untuk dimasukkan ke dalam produk tersebut, kemudian bertaruh bahwa produk itu akan gagal, sementara bank tetap menjualnya kepada para klien. Ketika membaca tuduhan itu, aku benar-benar merasa sedih.

Beberapa waktu kemudian aku dipindahkan ke London untuk membangun bisnis derivatif di pasar Eropa. Di sanalah aku menyaksikan perubahan budaya perusahaan yang jauh lebih nyata. Para eksekutif dan tenaga penjual tidak lagi berbicara mengenai kepentingan klien. Yang mereka pikirkan hanyalah GC (Gross Credits) atau komisi kotor yang akan menentukan besarnya bonus tahunan mereka.

Yang paling melukai hati, mereka secara terbuka menyebut klien sebagai “muppet”—boneka yang mudah dimanfaatkan. Aku mendengar sendiri bagaimana rekan-rekanku membanggakan keberhasilan menjual produk derivatif yang sangat rumit kepada klien yang tidak benar-benar memahaminya, hanya demi menghasilkan keuntungan jutaan dolar bagi bank. Klien bukan lagi mitra bisnis, melainkan sasaran untuk transaksi-transaksi raksasa yang menguntungkan institusi.

Aku berkali-kali menyampaikan keberatan kepada para pimpinan. Aku mendorong agar perusahaan kembali menjalankan bisnis yang transparan dan benar-benar membantu kebutuhan klien. Menurutku, membangun hubungan jangka panjang melalui layanan yang jujur jauh lebih bernilai daripada mengejar keuntungan sesaat.

Aku juga mengingatkan bahwa reputasi perusahaan sedang dipertaruhkan. Namun, semua itu seolah tidak berarti. Masukanku diabaikan. Para tenaga penjual tetap didorong menawarkan produk-produk berisiko tinggi kepada klien yang minim pemahaman.

SMPM 5 Pucang SBY

Saat itulah aku menyadari bahwa perusahaan yang dulu sangat kubanggakan telah berubah menjadi tempat yang tidak lagi sejalan dengan nilai-nilai yang kupercaya. Bahkan aku tidak sanggup lagi berdiri di hadapan para mahasiswa yang sedang kurekrut dan mengatakan bahwa mereka sebaiknya membangun karier di sana. Aku tidak ingin menjadi bagian dari sistem seperti itu.

Aku mulai menulis. Semua kegelisahan, kekecewaan, dan kemarahanku kutuangkan ke dalam sebuah naskah. Seorang sahabat memperingatkanku mengenai berbagai risiko hukum maupun keselamatan pribadi jika tulisan itu dipublikasikan. Namun, aku memutuskan untuk tetap melangkah.

Pada suatu malam Sabtu yang sunyi, aku membereskan mejaku. Sepuluh tahun perjalanan karier kumasukkan ke dalam sebuah kotak kecil. Aku berjalan meninggalkan gedung megah itu untuk terakhir kalinya.

Beberapa hari kemudian, The New York Times menerbitkan tulisanku. Aku kehilangan karier yang menjanjikan, status sosial, dan penghasilan ratusan ribu dolar setiap tahun.

Namun, aku mempertahankan satu hal yang tidak dapat dibeli oleh siapa pun: integritas.

Diadaptasi dari kisah Greg Smith, mantan Executive Director Goldman Sachs dan penulis artikel opini “Why I Am Leaving Goldman Sachs” (2012).

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu