Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, perbandingan antara NU dan Muhammadiyah kembali mengemuka. Dari tradisi keagamaan, pendidikan, kesehatan, hingga gerakan sosial, keduanya kerap ditempatkan dalam dua karakter yang berbeda.
Ada yang membuat perbandingan sederhana: Muhammadiyah sibuk mengurus orang yang masih hidup, sedangkan NU dikenal kuat mengurus mereka yang telah meninggal.
Tentu saja, ini lebih tepat dibaca sebagai humor sekaligus cara melihat karakter gerakan, bukan sebagai batas yang kaku.
Muhammadiyah dikenal memiliki jaringan amal usaha yang luas: rumah sakit, klinik, sekolah, universitas, panti asuhan, lembaga kebencanaan, hingga berbagai unit pemberdayaan ekonomi.
Sementara NU memiliki kekuatan tradisi keagamaan yang mengakar di tengah masyarakat: tahlilan, istighotsah, haul, ziarah, dan berbagai amaliyah yang menjaga hubungan spiritual umat dengan para pendahulu.
Kalau dibuat lebih jenaka, Muhammadiyah seperti berkata, “Sini, yang masih hidup kita urusi.”
NU seolah menjawab, “Yang sudah meninggal pun jangan dilupakan.”
Namun, jangan berhenti pada lelucon. Di balik perbedaan karakter itu terdapat pekerjaan besar yang sama: memuliakan manusia dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Al-Qur’an menempatkan menjaga kehidupan sebagai perkara yang sangat mulia. Allah berfirman: “Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS al-Maidah: 32).
Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga mengajarkan umat Islam untuk mendoakan orang-orang beriman yang telah mendahului.
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami.” (QS al-Hasyr: 10).
Nabi Muhammad saw pun mengingatkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR Muslim).
Artinya, kehidupan dan kematian bukan dua wilayah yang harus dipertentangkan. Yang hidup membutuhkan pelayanan. Yang mati membutuhkan doa.
Persoalannya muncul ketika perhatian kepada kehidupan berhenti pada seremoni, sementara problem nyata masyarakat dibiarkan.
Jangan sampai kita sangat sibuk menyiapkan konsumsi tahlilan, tetapi lupa bahwa tetangga sebelah belum makan.
Jangan sampai hafal jadwal haul para ulama, tetapi tidak mengetahui siapa warga sekitar yang kehilangan pekerjaan.
Jangan sampai istighotsah digelar dengan khusyuk, tetapi korban bencana menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan.
Tradisi keagamaan tidak salah. Justru tradisi adalah salah satu kekuatan sosial NU yang telah mengakar panjang di masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana tradisi itu menghasilkan energi sosial yang lebih besar.
Tahlilan tidak berhenti pada doa, tetapi melahirkan kepedulian kepada keluarga yang ditinggalkan. Haul tidak sekadar mengenang tokoh yang telah wafat, tetapi menjadi momentum meneruskan perjuangan sosialnya.
Istighotsah tidak hanya menjadi ruang munajat, tetapi juga menggerakkan solidaritas ketika masyarakat menghadapi bencana.
Ziarah tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi dapat menumbuhkan kesadaran sejarah, pendidikan, dan keteladanan.
Di sinilah Muktamar ke-35 NU semestinya dibaca lebih jauh daripada sekadar agenda pergantian kepemimpinan dan penyusunan program organisasi.
Muktamar adalah momentum untuk menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana kekuatan tradisi diterjemahkan menjadi kekuatan peradaban?
Sebab tantangan umat hari ini semakin kompleks. Kemiskinan tidak cukup dijawab dengan santunan.
Pengangguran membutuhkan pemberdayaan. Kesenjangan pendidikan membutuhkan sekolah yang berkualitas. Krisis kesehatan membutuhkan layanan yang mudah diakses.
Bencana membutuhkan sistem respons yang cepat. Perubahan teknologi membutuhkan literasi digital. Krisis lingkungan membutuhkan gerakan ekologis. Bahkan persoalan kesehatan mental semakin membutuhkan perhatian serius.
Semua itu adalah medan dakwah. Karena dakwah bukan hanya tentang bagaimana seseorang meninggal dalam keadaan baik.
Dakwah juga tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupan dengan bermartabat.
Bukan hanya bagaimana mengantar jenazah ke pemakaman, tetapi juga bagaimana membantu keluarga yang ditinggalkan agar kembali bangkit.
Bukan hanya bagaimana mendoakan orang miskin, tetapi bagaimana mengurangi kemiskinannya.
Bukan hanya bagaimana mengajarkan kesabaran kepada korban bencana, tetapi juga bagaimana bergerak menolong mereka.
Di titik ini, perbandingan Muhammadiyah dan NU seharusnya tidak berakhir pada siapa yang lebih unggul.
Muhammadiyah punya banyak hal yang dapat dipelajari NU. NU juga memiliki kekuatan tradisi dan kultural yang dapat menjadi pelajaran bagi Muhammadiyah.
Keduanya tidak harus menjadi sama. Justru kekuatan Indonesia terletak pada keragaman tradisi gerakan Islam yang bisa saling melengkapi.
Kalau Muhammadiyah sering dianalogikan sebagai holding company karena memiliki banyak amal usaha, NU memiliki kekuatan jejaring kultural yang sangat dalam di tengah masyarakat.
Tetapi umat jangan sampai hanya menjadi “konsumen” dari dua kekuatan besar tersebut.
Umat harus menjadi pelaku perubahan. Yang hidup dimuliakan. Yang mati didoakan. Yang miskin dibantu. Yang sakit diobati. Yang bodoh dididik. Yang tertinggal diangkat. Yang tertimpa bencana ditolong. Dan yang kehilangan harapan harus diberi alasan untuk bangkit.
Itulah barangkali pekerjaan rumah NU menjelang Muktamar ke-35. Bukan meninggalkan tahlilan. Tetapi membuat tahlilan memiliki dampak sosial.
Bukan meninggalkan haul. Tetapi menjadikan haul sebagai energi untuk meneruskan perjuangan. Bukan mengurangi istighotsah. Tetapi memastikan doa berjalan bersama ikhtiar.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah organisasi Islam bukan hanya berapa banyak orang yang datang ketika seseorang meninggal.
Lebih penting dari itu: berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena organisasi tersebut hadir.
Maka Muhammadiyah boleh tetap menjadi “holding”, NU boleh tetap memiliki kekuatan “franchise” tradisi.
Tetapi umat jangan sampai hanya menjadi pelanggan. Umat harus menjadi pelaku dan pemilik masa depan.
Sebab Islam tidak mengajarkan kita memilih antara dunia dan akhirat. Islam mengajarkan bagaimana kehidupan dunia dijalani dengan iman, kemanusiaan, ilmu, amal, dan tanggung jawab menuju akhirat.
Dan mungkin, di situlah titik temu terbesar Muhammadiyah dan NU: bukan tentang siapa yang lebih banyak mengurus orang hidup atau orang mati, melainkan siapa yang mampu membuat kehidupan manusia semakin bermartabat dan kematiannya meninggalkan amal yang terus menghidupkan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments