Era digital telah mengubah cara manusia menjalani kehidupan. Hampir setiap aktivitas menghasilkan data, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, pelayanan publik, hingga aktivitas sederhana di media sosial. Data tidak lagi sekadar kumpulan angka, tetapi telah menjadi sumber pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami masalah, menemukan pola, membuat prediksi, dan menentukan keputusan.
Perkembangan Sains Data (Data Science) semakin memperkuat peran tersebut. Melalui statistika, komputasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan machine learning, data dalam jumlah besar dapat diolah menjadi informasi yang bermanfaat.
Pada saat yang sama, pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) mendorong penggunaan ilmu pengetahuan secara terintegrasi untuk memahami dan menyelesaikan persoalan nyata.
Sains Data dan STEM memiliki titik temu yang kuat. Sains memberikan dasar untuk memahami fenomena, teknologi menyediakan perangkat untuk mengolah informasi, engineering mendorong lahirnya solusi, sedangkan matematika dan statistika menyediakan cara untuk mengukur, menganalisis, dan membuat keputusan berdasarkan data.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: untuk siapa kemajuan Sains Data, STEM, dan teknologi dikembangkan?
Bagi seorang Muslim, perkembangan ilmu pengetahuan semestinya tidak berhenti pada kecanggihan teknologi. Ilmu harus memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam konteks Muhammadiyah, prinsip tersebut sangat dekat dengan semangat Surat Al-Ma’un, yang mengajarkan bahwa keberagamaan harus diwujudkan dalam kepedulian dan tindakan nyata terhadap persoalan kemanusiaan.
Al-Ma’un: Dari Nilai Keagamaan Menuju Gerakan Kemanusiaan
Surat Al-Ma’un memberikan pesan yang kuat mengenai hubungan antara ibadah dan kepedulian sosial. Keberagamaan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui ritual, tetapi harus tercermin dalam keberpihakan kepada anak yatim, orang miskin, serta mereka yang membutuhkan pertolongan.
Dalam perjalanan Muhammadiyah, pemahaman terhadap Surat Al-Ma’un memiliki posisi penting. KH. Ahmad Dahlan tidak mengajarkan Al-Ma’un sekadar untuk dibaca dan dihafalkan, tetapi mendorong murid-muridnya untuk memahami maknanya dan mewujudkannya melalui tindakan nyata.
Spirit tersebut kemudian tumbuh menjadi berbagai bentuk pelayanan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Nilai agama diterjemahkan menjadi gerakan yang memberikan solusi terhadap persoalan kehidupan.
Di era digital, semangat Al-Ma’un dapat dikembangkan dalam konteks yang lebih luas. Kepedulian terhadap masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pemberian bantuan secara langsung, tetapi juga melalui pemanfaatan sains, teknologi, rekayasa, matematika, dan data untuk menemukan serta menyelesaikan persoalan masyarakat secara lebih tepat. Dengan cara pandang tersebut, STEM dan Sains Data dapat menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan nilai Al-Ma’un sesuai dengan tantangan zaman.
Ketika Al-Ma’un Bertemu dengan STEM dan Sains Data
Pendekatan STEM mengajarkan bahwa persoalan kehidupan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu. Persoalan pendidikan, kesehatan, kemiskinan, lingkungan, maupun ketahanan masyarakat membutuhkan kemampuan memahami masalah dari berbagai perspektif dan merancang solusi secara terintegrasi.
Sains Data memperkuat proses tersebut dengan menghadirkan evidence-based decision making, yaitu pengambilan keputusan berdasarkan data dan bukti. Bayangkan sebuah daerah memiliki ribuan anak usia sekolah.
Sebagian dari mereka berpotensi mengalami putus sekolah karena faktor ekonomi, kondisi keluarga, jarak tempat tinggal, rendahnya kehadiran, maupun keterlibatan dalam pembelajaran.
Pendekatan konvensional mungkin baru memberikan perhatian setelah anak benar-benar berhenti sekolah. Melalui Sains Data, berbagai informasi dapat dianalisis untuk mengidentifikasi lebih awal anak-anak yang memiliki risiko putus sekolah, sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum masalah menjadi lebih serius.
STEM kemudian dapat membawa proses tersebut lebih jauh. Data tidak berhenti pada hasil analisis. Mahasiswa, dosen, maupun masyarakat dapat bersama-sama merancang solusi, misalnya sistem pemantauan sederhana, aplikasi pendampingan, dashboard pemetaan, atau bentuk teknologi tepat guna lainnya.
Dalam konteks inilah Al-Ma’un, STEM, dan Sains Data memiliki titik temu. Al-Ma’un memberikan orientasi nilai, STEM memberikan pendekatan penyelesaian masalah, sedangkan Sains Data menyediakan bukti untuk memahami masalah dan menentukan keputusan.
Pertanyaan yang kemudian perlu terus diajukan adalah:
“Bagaimana ilmu, teknologi, dan data yang kita miliki dapat membantu mereka yang membutuhkan?”
Dari Big Data dan STEM Menuju Big Impact
Kemajuan teknologi sering diukur dari seberapa besar data yang mampu dikumpulkan, seberapa cepat komputer memproses informasi, atau seberapa canggih algoritma kecerdasan buatan yang dikembangkan. Namun, dalam perspektif Islam berkemajuan, keberhasilan ilmu pengetahuan tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan kecanggihan tersebut.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Seberapa besar manfaat yang dihasilkan bagi kehidupan manusia?
Karena itu, orientasi Sains Data dan STEM perlu bergerak dari sekadar big data menuju big impact.
Perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk mengembangkan pembelajaran dan penelitian yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat. Mahasiswa tidak hanya diberikan permasalahan dalam buku atau ruang kelas, tetapi dapat diajak melihat langsung persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Misalnya, mahasiswa dapat memanfaatkan data untuk memetakan anak yang berisiko putus sekolah, mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan intervensi pendidikan, menganalisis persoalan lingkungan, atau membantu menentukan prioritas program pemberdayaan masyarakat. Data tersebut kemudian menjadi dasar untuk merancang solusi melalui pendekatan STEM. Solusinya dapat berupa teknologi tepat guna, aplikasi sederhana, sistem informasi, dashboard, model prediksi, maupun inovasi lainnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan soal, tetapi belajar menyelesaikan persoalan. Inilah pembelajaran yang tidak berhenti pada penguasaan kompetensi. Mahasiswa belajar bahwa ilmu yang dimilikinya memiliki konsekuensi sosial dan dapat digunakan untuk menghadirkan perubahan.
Data, Teknologi, dan Amanah
Pemanfaatan Sains Data dan STEM untuk kemaslahatan tetap harus memperhatikan nilai etika. Data sering kali merepresentasikan kehidupan manusia. Di balik sebuah baris data mungkin terdapat seorang anak, keluarga, pasien, guru, atau anggota masyarakat yang memiliki hak untuk dihormati. Karena itu, pengembangan Sains Data dan teknologi harus disertai nilai amanah, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.
Data tidak boleh dimanipulasi untuk menghasilkan kesimpulan tertentu. Privasi individu harus dilindungi. Algoritma harus dievaluasi agar tidak menghasilkan keputusan yang diskriminatif. Teknologi yang dirancang juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan.
Nilai tabayyun menjadi sangat relevan. Informasi harus diperiksa sumber, kualitas, dan kebenarannya sebelum digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam Sains Data, prinsip tersebut tercermin melalui proses validasi data, pemeriksaan kualitas data, pemilihan metode analisis yang tepat, pengujian model, serta interpretasi hasil secara bertanggung jawab.
Dalam STEM, prinsip yang sama dapat diwujudkan melalui proses mengidentifikasi masalah, merancang solusi, menguji, mengevaluasi, kemudian memperbaiki solusi berdasarkan bukti yang diperoleh. Dengan demikian, nilai-nilai Islam bukan sesuatu yang berdiri terpisah dari perkembangan sains dan teknologi. Nilai Islam justru dapat menjadi kompas moral yang menentukan ke mana ilmu pengetahuan dan teknologi diarahkan.
STEM dan Sains Data sebagai Dakwah Berkemajuan
Dakwah pada era digital dapat hadir dalam berbagai bentuk. Mengembangkan sistem yang membantu mendeteksi anak berisiko putus sekolah dapat menjadi dakwah melalui ilmu. Membuat analisis yang membantu penyaluran bantuan lebih tepat sasaran merupakan dakwah melalui data. Merancang teknologi sederhana yang membantu masyarakat menyelesaikan persoalan lingkungan dapat menjadi dakwah melalui STEM.
Dengan cara pandang tersebut, dakwah tidak selalu harus berlangsung di mimbar. Laboratorium, ruang kelas, data, algoritma, aplikasi, dan proyek STEM pun dapat menjadi ruang untuk menghadirkan nilai-nilai Islam. Inilah salah satu bentuk aktualisasi Islam berkemajuan di tengah perkembangan teknologi.
Seorang ilmuwan tidak hanya bertanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh teknologi?” Seorang ilmuwan yang memiliki orientasi kemaslahatan juga perlu bertanya, “Masalah apa yang dapat kita selesaikan dengan ilmu ini dan siapa yang akan memperoleh manfaatnya?”
Al-Ma’un memberikan arah agar ilmu berpihak kepada kemanusiaan. STEM memberikan kerangka untuk merancang solusi. Sains Data membantu memastikan bahwa solusi tersebut dibangun berdasarkan data dan bukti.
Ketiganya dapat dipertemukan dalam satu alur:
Al-Ma’un → Kepedulian → Identifikasi Masalah → Data → Analisis → Solusi STEM → Dampak → Kemaslahatan.
Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai Ruang Implementasi
Perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki posisi strategis untuk mengintegrasikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan perkembangan Sains Data dan STEM.
Integrasi tersebut tidak harus selalu diwujudkan dengan menambahkan materi agama secara terpisah dalam setiap pembelajaran.
Nilai AIK justru dapat dihadirkan melalui orientasi masalah, proses pembelajaran, etika penggunaan data, serta kebermanfaatan produk yang dihasilkan mahasiswa.
Mahasiswa dapat diberikan proyek yang berangkat dari persoalan masyarakat. Mereka mengumpulkan data secara bertanggung jawab, menganalisisnya, mengidentifikasi akar persoalan, kemudian merancang solusi melalui pendekatan STEM.
Dengan cara tersebut, nilai amanah hadir ketika mahasiswa mengelola data. Nilai tabayyun hadir ketika mahasiswa memverifikasi informasi. Nilai keadilan hadir ketika mereka mempertimbangkan dampak teknologi. Sedangkan spirit Al-Ma’un hadir ketika ilmu yang dipelajari diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Perguruan tinggi pada akhirnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang mampu menentukan untuk tujuan apa teknologi itu digunakan.
Penutup
KH. Ahmad Dahlan telah memberikan teladan bahwa memahami Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada membaca dan menghafalkan ayat. Nilai Al-Qur’an harus hadir dalam tindakan nyata yang menjawab persoalan masyarakat.
Lebih dari satu abad kemudian, persoalan masyarakat berubah dan teknologi berkembang semakin cepat. Namun, spirit Al-Ma’un tetap relevan.
Jika pada masa awal Muhammadiyah semangat Al-Ma’un diwujudkan melalui sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai pelayanan sosial, maka pada era digital spirit tersebut dapat diperluas melalui Sains Data, STEM, kecerdasan buatan, dan teknologi untuk kemanusiaan.
Sains Data membantu kita memahami persoalan melalui bukti. STEM membantu kita merancang solusi. Sementara Al-Ma’un memberikan arah agar ilmu dan teknologi tersebut tetap berpihak kepada manusia. Karena itu, tantangan pendidikan di era digital bukan hanya menghasilkan generasi yang mampu menguasai data dan teknologi, tetapi juga generasi yang memiliki kepedulian untuk menggunakannya bagi sesama.
Pada akhirnya, teknologi terbaik bukanlah yang paling canggih, dan data terbaik bukanlah yang paling besar, melainkan teknologi dan data yang mampu diolah, dimanfaatkan, dan diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments