Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menemukan Makna Kemerdekaan di Pelosok Sumbawa

Iklan Landscape Smamda
Menemukan Makna Kemerdekaan di Pelosok Sumbawa
Menemukan Makna Kemerdekaan di Pelosok Sumbawa. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Berkumpul di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 8 Agustus 2026, 28 volunteer Ekspedisi Sagantara Foundation memulai perjalanan menuju pedalaman Pulau Sumbawa. Tujuan mereka adalah Desa Mungkin, Kecamatan Orong Telu, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Bersama KM Dharma Kencana, rombongan membawa semangat untuk berbagi, belajar, dan memberikan dampak nyata kepada masyarakat hingga ke pelosok negeri.

Bagi Jundi Madani Emha, perjalanan ini menjadi pengalaman pertamanya mengikuti ekspedisi sosial. Mahasiswa semester V Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Malang, itu berangkat bersama puluhan volunteer dengan membawa rasa ingin tahu tentang kehidupan masyarakat di daerah terpencil.

Acara ekspedisi diawali di Pendopo Kantor Bupati Sumbawa. Kegiatan tersebut dibuka oleh Ir H Syarafuddin Jarot, M.P. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Desa Mungkin untuk bertemu dengan kepala dusun dan kepala desa setempat.

Selama berada di Desa Mungkin, para volunteer tinggal di beberapa rumah warga. Jundi, yang akrab disapa Jundi, menginap di rumah Pak Antok bersama Heldi, mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).

Berbagi di Tengah Keterbatasan

Ekspedisi Sagantara dibagi menjadi beberapa divisi, yakni pendidikan, ekonomi kreatif, kesehatan dan home care, serta Model POR (Model Oriented Record).

Divisi pendidikan menyambangi sekolah dasar dan sekolah menengah pertama negeri. Dari enam dusun yang ada di Desa Mungkin, lima di antaranya telah dikunjungi.

Sementara itu, divisi kesehatan menggelar pemeriksaan gratis bekerja sama dengan puskesmas setempat. Kegiatan pemeriksaan berlangsung setiap pagi pukul 07.00 hingga 11.00. Pada sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan layanan home care kepada masyarakat.

Divisi ekonomi kreatif memiliki waktu kegiatan yang lebih fleksibel. Para volunteer melakukan berbagai aktivitas, mulai dari menebang bambu untuk bahan cetakan pembuatan lilin hingga membantu pengolahan padi dan kopi.

Adapun Taqy, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), mendapat tugas mendokumentasikan berbagai kegiatan selama ekspedisi berlangsung.

Kehadiran para volunteer mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga dengan antusias mengantar dan menjemput para volunteer menuju lokasi kegiatan. Kondisi jalan yang berbatu membuat sepeda motor trail menjadi salah satu kendaraan yang kerap digunakan untuk mobilitas.

Belajar dari Kehidupan Warga

Selain menjalankan program, Jundi dan para volunteer juga mendapat kesempatan merasakan langsung kehidupan masyarakat Desa Mungkin.

Pada 15 Agustus, misalnya, mereka menghadiri hajatan salah seorang warga. Hidangan khas seperti tongseng sapi dan ikan gabus menjadi sajian yang dinikmati bersama.

Jundi juga kerap mencicipi masakan yang disiapkan istri Pak Antok. Salah satunya adalah singang, yakni ikan dengan kuah kuning yang dicampur daun mangga. Biasanya, masyarakat setempat menggunakan ikan air tawar karena dagingnya manis dan bertekstur lembut.

Ada pula pengalaman sederhana yang menurut Jundi justru meninggalkan kesan mendalam. Di Desa Mungkin terdapat kosa kata daerah tabek yang berarti permisi.

Menariknya, mengucapkan kata tersebut di depan rumah warga hampir selalu menjadi undangan tidak langsung untuk mampir.

“Siapa pun yang mengucapkan kata tabek di depan rumah seseorang pasti diminta mampir, entah kemudian disuguhi makanan atau hanya minum teh atau kopi,” tutur Jundi, Ahad (23/8/2026).

Ia juga menemukan kebiasaan warga dalam memelihara hewan yang berbeda dengan masyarakat di Jawa.

“Yang tidak bisa ditemui di Jawa adalah cara penduduk memelihara hewan peliharaan. Sapi, kambing, dan kuda dibiarkan lepas. Sore hari, hewan-hewan itu pulang bersama anjing penjaganya. Kalau di Jawa, alamat tidak pulang selamanya alias dicuri,” ujar Jundi sembari bercanda.

SMPM 5 Pucang SBY

Merayakan Kemerdekaan di Tengah Keterbatasan

Tanggal 17 Agustus menjadi salah satu momen yang tidak terlupakan bagi Jundi. Selain sebagai volunteer, ia merupakan Ketua Bagian Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Brawijaya.

Pada hari kemerdekaan itu, masyarakat Desa Mungkin tumpah ruah berkumpul di lapangan desa. Mereka mengikuti berbagai perlombaan khas perayaan HUT Kemerdekaan RI, seperti tarik tambang, corong bola, dan mengambil bola.

Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan antusiasme warga. Desa Mungkin belum menikmati akses listrik seperti wilayah perkotaan. Masyarakat mengandalkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Sinyal telekomunikasi pun terbatas. Hanya jaringan Telkomsel yang dapat digunakan dan kekuatannya tidak selalu tersedia sepanjang hari.

“Tidak ada listrik, memakai panel surya. Sinyal yang bisa cuma Telkomsel. Itu pun siang hari tidak ada. Baru pukul 22.00 sampai subuh sinyal kuat,” kata Jundi.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalangi masyarakat untuk merayakan kemerdekaan.

“Meski begitu, tidak menyurutkan semangat untuk merayakan kemerdekaan. Walau sebenarnya, kondisi mereka belum ‘merdeka’ seutuhnya,” lanjut alumni SMA Muhammadiyah 3 Jember tersebut.

Selain perlombaan, ekspedisi juga menghadirkan pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan dua dokter, yakni dr Nia dan dr Gina, yang tergabung dalam rombongan.

Keesokan harinya, suasana kembali semarak melalui festival budaya. Masing-masing divisi volunteer menunjukkan kebolehannya. Ada yang menyanyi, menampilkan puisi berantai, hingga drama musikal.

Sekolah seperti dalam Film Laskar Pelangi

Di balik keceriaan tersebut, perjalanan Jundi juga menyisakan keprihatinan. Salah satu yang paling membekas adalah kondisi pendidikan di Desa Mungkin.

Ia menemukan sekolah yang mengingatkannya pada gambaran sekolah dalam film Laskar Pelangi. Lantainya masih berupa tanah, sementara sebagian dindingnya terbuat dari kayu yang berlubang.

“Sekolah seperti di film Laskar Pelangi benar-benar nyata. Yang beralas tanah, dinding kayu berlubang. Benar-benar pembangunan yang tidak merata. Miris sekali,” ungkap Jundi.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat makna kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebatas perayaan tahunan, tetapi juga tentang kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kehidupan yang layak.

“Di satu sisi, banyak rakyat belum menikmati pembangunan. Namun, di sisi lain, kekayaan negara dikuras hanya untuk segolongan saja,” jelas anak kedua dari dua bersaudara itu.

Pada 19 Agustus, para volunteer mulai mempersiapkan perjalanan pulang. Setelah hampir dua pekan tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat, ekspedisi pun berakhir.

Perjalanan pulang berlangsung lancar. Jundi tiba kembali di Malang pada Ahad (23/8/2026).

Perjalanan ke pelosok Sumbawa itu mungkin telah selesai. Namun, bagi Jundi, pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran tentang arti berbagi, kesederhanaan, keramahan, sekaligus sebuah pertanyaan besar: sejauh mana kemerdekaan benar-benar telah dirasakan seluruh masyarakat Indonesia? (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 26/08/2026 09:35
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu