Mahasiswa KKN P 30 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menunjukkan dukungan untuk pelaku usaha kopi rumahan di Desa Baledono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Hal tersebut tercermin melalui program pendampingan pemasaran digital dan branding produk, Selasa (25/8/2026).
Program ini menyasar UMKM kopi khas Tengger yang selama ini diolah secara tradisional namun belum memiliki identitas merek dan strategi pemasaran yang jelas.
Kopi Tradisional Tanpa Branding
Selama ini, usaha kopi rumahan di Desa Baledono dijalankan dengan pengolahan tradisional khas Tengger sehingga hasil olahan warga memiliki cita rasa khas tersendiri.
Sayangnya keunikan ini belum diimbangi dengan strategi pemasaran yang memadai.
“Produk kopi dijual apa adanya tanpa merek, kemasan, maupun promosi digital. Sehingga jangkauan pasarnya terbatas hanya pada lingkup desa dan sekitarnya” terang Ketua KKN P 30, Aldy Yonanda.
Ia menjelaskan bahwa potensi kopi Tengger sebenarnya sangat besar karena proses pengolahannya yang masih tradisional justru menghasilkan cita rasa yang menjadi daya tarik tersendiri, namun belum dikemas dengan baik.
“Kopi di sini sebenarnya punya nilai jual tinggi, rasanya juga khas karena diolah secara tradisional. Itu yang jadi ciri khasnya dan susah ditemukan di kopi-kopi biasa” ujarnya.
Buka Akun Online hingga Buat Logo
Berbeda dengan pelatihan pada umumnya, pendampingan ini dilakukan secara individual dengan metode door to door, mendatangi langsung rumah masing-masing pelaku usaha kopi.
Pendekatan ini dipilih karena karakteristik pelaku usaha yang beragam, termasuk sebagian di antaranya sudah berusia lanjut. Sehingga pendampingan langsung dinilai lebih efektif dibanding pelatihan klasikal.
Dari sisi pemasaran digital, mahasiswa mendampingi pelaku usaha membuat akun online shop (Shopee dan TikTok Shop), akun WhatsApp Business, hingga akun media sosial untuk promosi produk.
Sementara dari sisi branding, mahasiswa membantu membuatkan kemasan (packaging), merek, serta logo kopi agar produk memiliki identitas yang jelas dan lebih menarik di mata konsumen.
Koordinator program, Nanda, menambahkan bahwa tujuan akhir dari pendampingan ini adalah membantu UMKM kopi Baledono agar dikenal lebih luas, baik secara offline maupun online.
“Jadi kopi tradisional khas sini dengan rasanya yang unik bisa bersaing tanpa kehilangan ciri khasnya” tambahnya.
Dibantu Anak Cucu
Salah satu pelaku usaha kopi rumahan yang didatangi langsung oleh mahasiswa KKN adalah Mbok Ning.
Karena usianya yang sudah lanjut dan belum terbiasa dengan handphone, pendampingan digital kepada Mbok Ning turut dibantu oleh anak dan cucunya yang lebih familiar dengan penggunaan HP dan media sosial.
Mbok Ning mengaku senang dengan adanya pendampingan langsung ke rumahnya ini.
“Salut saya sampai mereka mau menghampiri ke rumah karena kebanyakan sudah lanjut usia. Untungnya juga dibantu anak dan cucu yang lebih muda untuk menjual” terangnya.
Dari program ini Mbok Ning berharap usahanya bisa lebih dikenal lebih luas dan banyak peminat.





0 Tanggapan
Empty Comments