Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Curang, Sebab Kejujuran Selalu Menemukan Jalannya

Iklan Landscape Smamda
Jangan Curang, Sebab Kejujuran Selalu Menemukan Jalannya
Foto: Liputan6
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Hidup sering kali menghadapkan manusia pada dua pilihan: menempuh jalan yang lurus atau mengambil jalan pintas. Jalan lurus terkadang terasa berat, melelahkan, dan membutuhkan kesabaran.

Sebaliknya, jalan curang tampak lebih cepat, lebih mudah, bahkan seolah memberikan keuntungan yang besar. Namun sesungguhnya, setiap kecurangan selalu menyimpan kerugian yang jauh lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh.

Kecurangan tidak selalu berupa mencuri uang atau merampas hak orang lain. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana. Seorang siswa menyontek saat ujian. Pedagang mengurangi timbangan. Pegawai memalsukan laporan.

Pejabat menyalahgunakan jabatan. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa berbuat curang dengan mengingkari janji, memutarbalikkan fakta, atau mengambil hak yang bukan miliknya.

Semua itu mungkin tidak langsung terlihat. Mungkin pula tidak segera mendapatkan hukuman. Akan tetapi, kehidupan memiliki cara sendiri untuk membalasnya.

Siapa yang terbiasa berbuat curang lambat laun akan merasakan akibatnya. Kepercayaan orang hilang, nama baik rusak, dan ketenangan hati pun lenyap. Sebab, kecurangan hanya melahirkan kecurangan berikutnya.

Sebaliknya, kejujuran selalu menghadirkan keberkahan. Orang yang jujur mungkin tidak menjadi kaya dalam waktu singkat, tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih mahal: kepercayaan. Dari kepercayaan itulah lahir persahabatan, kerja sama, dan rezeki yang penuh keberkahan.

Lihatlah para pedagang yang mempertahankan kejujurannya selama puluhan tahun. Mereka tidak perlu berteriak menawarkan dagangan.

Pelanggan datang sendiri karena percaya. Begitu pula seorang guru yang mengajar dengan penuh integritas, seorang pegawai yang amanah, atau seorang pemimpin yang tidak menyalahgunakan kewenangan.

Mereka mungkin tidak selalu menjadi orang paling kaya, tetapi mereka meninggalkan warisan berupa nama baik yang dikenang banyak orang.

Sesungguhnya, hati yang bersih tidak akan sibuk memikirkan cara mencurangi orang lain. Ia lebih banyak memikirkan bagaimana memberikan manfaat, menolong sesama, dan memperbaiki diri.

Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri, dengki, dan cinta dunia secara berlebihan akan selalu mencari celah untuk memperoleh keuntungan dengan menghalalkan segala cara.

Salah satu penyebab utama seseorang terjerumus dalam kecurangan adalah hilangnya keikhlasan. Ketika belajar bukan lagi karena Allah, melainkan hanya demi nilai. Ketika bekerja hanya demi pujian.

Ketika berdagang hanya demi keuntungan sebesar-besarnya tanpa memedulikan halal dan haram. Saat itulah hati mulai kehilangan kompas moralnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Penyebab lainnya adalah ambisi dunia yang tidak terkendali. Keinginan memiliki rumah lebih besar, kendaraan lebih mewah, jabatan lebih tinggi, atau harta yang terus bertambah sering kali membuat seseorang lupa batas.

Padahal, rezeki yang sedikit tetapi halal jauh lebih menenteramkan daripada kekayaan melimpah yang diperoleh dengan cara haram.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan kondisi zaman seperti ini melalui sabdanya:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman ketika seseorang tidak lagi mempedulikan dari mana ia mendapatkan hartanya, apakah dari yang halal atau dari yang haram.” (HR. Bukhari)

Hadis ini terasa begitu relevan dengan kehidupan saat ini. Di tengah persaingan yang semakin ketat, sebagian orang rela mengorbankan kejujuran demi mengejar keuntungan sesaat.

Padahal, keberhasilan yang dibangun di atas kecurangan sesungguhnya hanyalah kemenangan semu. Cepat atau lambat, semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu, marilah kita menjadikan kejujuran sebagai prinsip hidup. Mulailah dari hal-hal kecil: berkata apa adanya, menepati janji, tidak mengambil hak orang lain, dan bekerja dengan penuh amanah.

Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan setiap amal baik hamba-Nya.

Mari kita menundukkan hati, memperbanyak istigfar, berdoa, dan bertobat kepada Allah. Semoga Dia membersihkan hati kita dari sifat tamak, iri, dan kecenderungan berbuat curang.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kelancaran dalam setiap urusan kita, menghadirkan keberkahan dalam setiap rezeki yang kita peroleh, melindungi kita dari segala mara bahaya, melapangkan pintu-pintu rezeki yang halal, menjaga akidah kita beserta keluarga dan keturunan dari berbagai penyimpangan, serta menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/07/2026 12:53
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu