Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Saat Musibah Menjadi Jalan Menuju Kemuliaan

Iklan Landscape Smamda
Saat Musibah Menjadi Jalan Menuju Kemuliaan
Foto: Adobestock
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Setiap orang tentu mendambakan hidup yang tenang, sehat, berkecukupan, dan dipenuhi kebahagiaan. Namun kenyataannya, kehidupan tidak pernah berjalan lurus.

Ada masa ketika kita berada di puncak kesuksesan, tetapi ada pula saat-saat Allah menguji kita dengan kehilangan, penyakit, kesempitan rezeki, atau berbagai musibah yang datang silih berganti.

Karena itulah, sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketakwaan bukan sekadar diucapkan, melainkan diwujudkan dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sebagaimana diajarkan Rasulullah Muhammad saw.

Hakikat ketakwaan justru terlihat ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Ketika kehidupan sedang berada di titik terbaik, hampir semuanya terasa mudah.

Usaha berkembang. Karier melesat. Penghasilan meningkat. Rumah semakin nyaman. Kendaraan semakin baik.

Ke mana pun pergi, banyak orang menyambut dengan senyum. Undangan berdatangan. Telepon tak pernah sepi. Kita menjadi sosok yang dicari dan dihormati. Seolah-olah dunia sedang memeluk kita.

Pada masa seperti ini, menikmati makanan terbaik bukan perkara sulit. Berwisata ke berbagai tempat impian pun terasa mudah. Apa yang diinginkan seakan dapat diraih dengan cepat.

Tidak sedikit orang yang berharap keadaan seperti itu berlangsung selamanya. Namun kehidupan tidak berhenti di satu musim.

Ketika Ujian Datang Tanpa Permisi

Suatu hari keadaan bisa berubah. Usaha yang bertahun-tahun dibangun mengalami kerugian. Perusahaan tempat bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja. Tabungan mulai menipis.

Tubuh yang dahulu sehat tiba-tiba harus menjalani pengobatan panjang. Orang-orang yang dahulu sering datang perlahan menghilang. Telepon yang biasanya ramai mendadak sunyi. Di sinilah manusia benar-benar diuji.

Bayangkan seorang pedagang yang selama belasan tahun memiliki toko yang ramai pembeli. Setiap hari omzetnya besar. Banyak orang datang menawarkan kerja sama dan memujinya sebagai pengusaha sukses.

Namun suatu ketika musibah datang. Kebakaran menghanguskan tokonya. Modal habis. Ia harus memulai lagi dari nol.

Orang-orang yang dahulu sering memuji tidak lagi terlihat. Sebagian bahkan meragukan kemampuannya untuk bangkit.

Dalam keadaan seperti itulah hati seorang mukmin diuji. Apakah ia akan menyalahkan takdir, atau justru semakin mendekat kepada Allah?

Begitu pula seorang ayah yang selama puluhan tahun bekerja keras menghidupi keluarganya. Ketika divonis mengidap penyakit serius, ia tidak lagi mampu bekerja seperti dahulu. Penghasilannya menurun. Ia merasa tidak lagi sekuat sebelumnya.

Jika keimanan tidak menjadi sandaran, musibah dapat berubah menjadi keputusasaan.

Namun jika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah, musibah justru menjadi jalan untuk memperoleh pahala yang besar.

Allah Telah Mengabarkan Bahwa Cobaan Adalah Kepastian

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan manusia bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn. Mereka itulah yang memperoleh keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155–157)

Ayat ini mengajarkan bahwa musibah bukanlah tanda Allah membenci hamba-Nya. Justru ujian adalah sunnatullah yang pasti dialami setiap manusia.

Yang membedakan bukanlah besar kecilnya ujian, melainkan bagaimana seseorang menyikapinya.

Sering kali manusia merasa memiliki segalanya. Padahal sesungguhnya tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik kita.

Harta hanyalah titipan. Jabatan hanyalah amanah. Pasangan dan anak-anak adalah titipan. Tubuh yang sehat pun hanyalah pinjaman dari Allah. Suatu saat semuanya akan kembali kepada Pemiliknya.

Kesadaran inilah yang melahirkan keikhlasan. Seseorang yang memahami bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah tidak akan terlalu sombong ketika diberi, dan tidak akan terlalu hancur ketika diambil kembali. Karena ia sadar, yang diambil hanyalah titipan.

Ikhlas Tidak Berarti Tidak Bersedih

SMPM 5 Pucang SBY

Sebagian orang mengira ikhlas berarti tidak boleh menangis. Padahal Rasulullah saw sendiri pernah menangis ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Ikhlas bukan berarti menghilangkan rasa sedih. Ikhlas adalah menerima ketentuan Allah tanpa memprotes kebijaksanaan-Nya.

Kita boleh menangis. Kita boleh merasa sedih. Namun jangan sampai kesedihan membuat kita kehilangan kepercayaan kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya cobaan. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka Allah ridha kepadanya. Barang siapa murka, maka kemurkaan Allah baginya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengubah cara pandang seorang mukmin terhadap musibah.

Cobaan bukan selalu hukuman. Bisa jadi justru menjadi tanda bahwa Allah sedang mengangkat derajat seorang hamba.

Semakin besar ujian yang dihadapi dengan sabar dan ridha, semakin besar pula pahala yang disiapkan Allah.

Musibah Menjadi Penghapus Dosa

Tidak ada kesulitan yang dialami seorang muslim yang sia-sia.

Rasulullah saw bersabda: “Cobaan akan senantiasa menimpa seorang muslim pada dirinya, anaknya, maupun hartanya hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Tirmidzi)

Betapa banyak dosa yang tidak mampu kita hapus dengan amal.

Namun Allah Yang Maha Pengasih menghapusnya melalui rasa sakit, kehilangan, dan berbagai kesulitan hidup.

Apa yang terasa pahit di dunia, bisa jadi menjadi sebab keselamatan di akhirat.

Rasulullah saw juga bersabda: “Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha. Kesabaran adalah tetap taat ketika ujian datang.

Tetap berikhtiar. Tetap berdoa. Tetap berbaik sangka kepada Allah meskipun jalan keluar belum tampak.

Semua Telah Ditetapkan Allah

Seorang mukmin juga meyakini bahwa segala sesuatu telah berada dalam ilmu Allah sejak sebelum manusia diciptakan.

Allah berfirman: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Keyakinan ini membuat hati menjadi lebih tenang. Kita tetap berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Musibah memang tidak pernah menyenangkan. Namun dari sanalah banyak orang belajar tentang arti syukur, kesabaran, dan tawakal.

Tidak sedikit yang baru rajin salat setelah sakit. Baru memperbaiki hubungan dengan keluarga setelah kehilangan. Baru menyadari bahwa dunia hanyalah sementara setelah mengalami kegagalan.

Karena itu, ketika Allah menguji kita, jangan hanya bertanya, “Mengapa aku?”

Lebih baik bertanya, “Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui ujian ini?”

Sebab boleh jadi, musibah yang hari ini membuat kita menangis adalah jalan yang Allah pilih untuk mengangkat derajat, menghapus dosa, dan mengantarkan kita menuju kebahagiaan yang abadi di akhirat. Selama hati tetap ikhlas, sabar, dan ridha kepada ketetapan-Nya, tidak ada satu pun ujian yang sia-sia di sisi Allah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/07/2026 15:27
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu