Mental juara tidak lahir secara instan. Bahkan, semangat untuk menjadi pemenang telah dimulai sejak proses awal kehidupan manusia.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Direktur RS UMM, Ustadz dr Thontowi Djauhari MKes, dalam Kajian Ahad Pagi KH Ahmad Dahlan.
Kajian tersebut diselenggarakan oleh PDM Kota Batu di Masjid At Taqwa Kota Batu, Ahad Pahing (19/7/2026).
Pemenang sejak Awal
Mengangkat tema “Mental Juara”, dr Thontowi mengawali kajiannya dengan menjelaskan bahwa sejak proses pembuahan, ribuan sel sperma berlomba untuk mencapai sel telur. Tetapi hanya satu yang berhasil menjadi cikal bakal kehidupan manusia.
“Karena sejak awal kita sudah menjadi pemenang, maka setelah lahir jangan hanya berusaha menang di dunia. Tetapi juga berlomba memenangkan kehidupan akhirat dengan memperbanyak amal kebaikan” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan hidup tidak akan pernah lepas dari tantangan, kegagalan, maupun berbagai persoalan. Oleh karena itu, setiap muslim membutuhkan mental yang kuat agar mampu bangkit dan terus melangkah menuju kesuksesan.
Ia menjelaskan, mental juara ditandai dengan cara pandang yang positif terhadap setiap persoalan. Masalah tidak dipandang sebagai penghalang, melainkan peluang untuk menemukan solusi baru.
Orang yang bermental juara akan terus berusaha, tidak mudah menyerah, serta berani berpikir kreatif di luar kebiasaan.
“Berpikirlah seperti anak-anak. Mereka selalu out of the box. Kardus bekas saja bisa disulap menjadi rumah-rumahan, mobil-mobilan, bahkan lemari. Kreativitas seperti itulah yang perlu dipelihara,” tuturnya.
Selain gaya berpikir out of the box, ia menekankan pentingnya kesabaran dan resiliensi, yaitu kemampuan seseorang untuk bangkit dengan cepat setelah mengalami kegagalan, ancaman, maupun kesulitan.
Resiliensi, katanya, berkaitan erat dengan pembentukan karakter yang membuat seseorang percaya diri menghadapi berbagai tantangan.
Ciri Pribadi Bermental Juara
Dr Thontowi menyebutkan bahwa pribadi bermental juara selalu siap menghadapi tantangan, tidak lelah mencoba, tidak berhenti berusaha, fokus pada peluang dan masa depan, menjadi bagian dari solusi, serta memiliki program yang jelas dalam hidupnya.
“Yang harus diingat bukan seberapa besar badanmu, tetapi seberapa kuat mentalmu. Ubah mindset, kendalikan ego agar dapat berpikir jernih dan menemukan solusi atas setiap persoalan” pesannya.
Ia menambahkan, mental juara dibangun melalui pola pikir positif, kemampuan beradaptasi, kecakapan hidup (life skill), serta kemauan mengambil pelajaran dari setiap kegagalan. Menurutnya, kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan proses menuju keberhasilan.
Saat mengalami kegagalan, seseorang umumnya melewati tahapan tidak menerima kenyataan, berpikir ulang, menerima, lalu memperbaiki diri.
Pada fase berpikir ulang itulah seseorang harus berhati-hati agar menjadikannya sebagai sarana introspeksi, bukan justru menyalahkan orang lain.
Menutup kajiannya, dr Thontowi mengutip pandangan WHO bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang bermanfaat bagi banyak orang.
Pesan tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Dengan demikian, mental juara sejatinya tidak hanya diukur dari prestasi, tetapi juga dari besarnya manfaat yang diberikan kepada sesama.





0 Tanggapan
Empty Comments