Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, MI Muhammadiyah 09 Labuhan (MI MULA) tidak hanya fokus mempersiapkan kurikulum akademis bagi para siswa.
Lewat sebuah langkah inklusif, madrasah ini justru mengawalinya dengan memberikan “dekapan hangat” kepada para wali murid melalui acara parenting perdana. Bertempat di Aula MI MULA pada Sabtu (18/7/2026).
Madrasah menggelar Sosialisasi Program Madrasah, Kesehatan Digital Anak, dan Parenting Orang Tua Siswa. Acara berlangsung khidmat, diawali dengan lantunan ayat suci al-Quran yang dibawakan secara indah oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA).
Menuju Panggung Dunia Lewat Karakter dan Bahasa
Dalam sambutannya, Kepala MIM 09 Labuhan, Ma’in, S.HI, memaparkan visi besar madrasah untuk membawa anak didik melangkah ke panggung internasional.
Salah satu langkah konkretnya adalah kerja sama pembelajaran bahasa Inggris dengan Marshal Cavendish Education (MCE) Singapura.
Tak hanya dikejar secara akademis, karakter religius dan bakat anak juga diasah secara seimbang melalui berbagai program unggulan, seperti: Pesantren Sabtu Malam Ahad (PSMA), Tahfidh dan Qiroah, Seni bela diri Tapak Suci, Kepanduan Hizbul Wathan, bimbingan belajar akademik/non-akademik, hingga seni drumband Surya Nada MULA.
Gawai: Antara Jendela Dunia dan Ancaman Nyata
Namun, di balik program-program hebat tersebut, madrasah menyadari adanya tantangan besar yang dihadapi setiap orang tua hari ini: ekosistem digital. Di sinilah sinergi apik tercipta dengan kehadiran mahasiswa KKN Umla dari program studi kesehatan.
Rafila, mahasiswi KKN Umla yang menjadi narasumber utama, membawakan materi bertajuk “Menavigasi Ekosistem Digital Anak”. Dengan bahasa yang santun, ia mengingatkan sebuah realitas penting bagi orang tua.
“Anak-anak yang lahir hari ini tidak pernah memilih lahir di era digital. Merekalah ‘pribumi digital’, sementara kita sebagai orang tua adalah pendatang,” ujar Rafila di hadapan para wali murid yang menyimak dengan penuh haru.
Ia menambahkan bahwa gawai bisa menjadi jendela dunia yang luar biasa. Namun jika dilepas tanpa batas, jendela tersebut justru bisa melukai kesehatan otak, fisik, mental, hingga mengikis kehidupan sosial anak.
“Menavigasi ekosistem digital bukan sekadar membatasi durasi menatap layar (screen time), melainkan sebuah seni membangun hubungan yang sehat antara anak, orang tua, dan teknologi.”
Tips Emas Menjaga Jantung Hati di Dunia Maya
Sebagai solusi praktis, Rafila membagikan enam langkah cerdas yang bisa langsung diterapkan oleh orang tua di rumah:
Pertama: Menjadi Teladan Utama: Anak adalah peniru ulung. Kurangi memegang gawai saat sedang menghabiskan waktu bersama anak. Kedua: Atur Screen Time secara Tegas: Buat batasan waktu yang jelas kapan anak boleh dan tidak boleh menyentuh gawai.
Ketiga: Pendampingan Aktif: Jangan biarkan anak asyik sendiri dengan layarnya. Temani dan diskusikan apa yang sedang mereka tonton. Keempat: Kurasi Konten Bermutu: Pastikan tontonan dan permainan digital anak sesuai dengan usia serta nilai-nilai kebaikan.
Kelima: Jaga Pola Hidup Sehat: Imbangi aktivitas digital dengan olahraga fisik bersama dan asupan nutrisi yang baik. Keenam: Bangun Komunikasi Terbuka: Jadikan diri Anda sebagai tempat pertama anak bercerita ketika mereka menemukan hal asing atau tidak nyaman di dunia maya.
Hadir Utuh di Dunia Nyata
Melalui seminar ini, para wali murid MI MULA pulang dengan membawa kesadaran baru. Menjaga masa depan anak bukan lagi soal melarang teknologi, melainkan tentang bagaimana orang tua hadir secara utuh.
Ketika orang tua mampu menyeimbangkan aktivitas dunia maya dengan kehangatan interaksi fisik—seperti mengobrol di meja makan atau menyalurkan hobi bersama—anak akan memahami bahwa dunia nyata menawarkan kebahagiaan yang jauh lebih bermakna daripada validasi semu di layar kaca.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments