Di tengah kesibukan para santri mengaji, murojaah, dan belajar di kelas, kabar membahagiakan kembali hadir dari Pondok Pesantren Tahfidz Al Mizan Muhammadiyah Lamongan. Seorang santriwati berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an dengan penuh perjuangan, air mata, dan doa orang tua.
Ia adalah Haya Jauza Az-Zahira, santriwati kelas 11 MA/5 Diniyah asal Penganten, Balen, Bojonegoro. Putri dari pasangan M Puri Saiful Amri dan Nizayani Qona’ah ini resmi menyelesaikan hafalan 30 juznya pada Kamis, 21 Mei 2026.
Bagi Haya, perjalanan menjadi hafidzah bukanlah sesuatu yang instan. Benih cintanya kepada Al-Qur’an sudah tumbuh sejak kecil. Saat masih duduk di bangku SD, ia pernah menghafal juz 30. Namun ketika masuk Al Mizan, ia memilih mengulang hafalan dari awal dengan niat memperkuat pondasi hafalannya.
“Dulu waktu SD sudah dapat juz 30, lalu saat masuk Al Mizan mulai menghafal lagi dari awal,” ungkapnya.
Di balik wajah tenangnya, tersimpan tekad besar yang menjadi bahan bakar perjuangannya selama ini. Gadis yang memiliki hobi membaca dan menulis itu mengaku motivasi terbesarnya menghafal Al-Qur’an adalah ingin memberikan hadiah terbaik untuk kedua orang tuanya.
“Karena pengen ngasih kado terbaik untuk orang tua,” tuturnya dengan penuh haru.
Putri yang bercita-cita menjadi arsitek itu ternyata sejak awal memang memiliki target untuk menyelesaikan hafalan 30 juz. Meski demikian, perjalanan menuju khataman tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang ia rasakan adalah menjaga istiqamah dalam murojaah Al-Qur’an.
Menurutnya, menjaga hafalan jauh lebih berat dibanding menambah hafalan baru. Karena itu, ia berusaha disiplin meluangkan waktu untuk terus mengulang ayat demi ayat yang telah dihafalnya.
Setelah berhasil menuntaskan hafalan 30 juz, rasa lega, bahagia, dan haru bercampur menjadi satu.
“Rasanya lega, senang, terharu,” katanya singkat namun penuh makna.
Haya juga membagikan tips sederhana bagi para santri yang ingin lebih mudah menghafal Al-Qur’an. Ia menyarankan agar hafalan dilakukan di tempat yang sunyi dan nyaman, kemudian ayat yang dihafal diulang berkali-kali hingga benar-benar melekat.
“Hafalan di tempat yang sunyi dan ayat yang dihafal diulang beberapa kali,” ujarnya.
Tidak hanya berprestasi dalam bidang tahfidz, Haya juga dikenal sebagai santriwati berprestasi di dunia catur. Berbagai penghargaan berhasil ia raih, di antaranya Juara 2 Lomba Catur Klasik Putri se-Kabupaten Bojonegoro tahun 2024, Juara 3 Lomba Catur dalam Peringatan Hari Lahir Sekolah tingkat umum se-Kabupaten Lamongan, Harapan 2 Kejuaraan Catur Bupati Cup II Kabupaten Lamongan tahun 2025, Juara 2 Lomba Catur se-Kabupaten Bojonegoro tahun 2025, hingga Juara 3 Event Pertandingan Catur Terbuka tahun 2023.
Prestasi-prestasi itu menjadi bukti bahwa santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu bersaing dalam bidang akademik dan nonakademik.
Di akhir wawancara, Haya menyampaikan harapannya untuk Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan agar terus melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang saleh dan salehah.
“Semoga Al Mizan ke depannya bisa mencetak kader penghafal Al-Qur’an yang sholeh dan sholehah,” harapnya.
Ia juga memberikan pesan sederhana namun menyentuh kepada teman-teman santri lainnya.
“Semangat menghafal terus dan ingat orang tua di rumah.”
Perjalanan Haya Jauza Az-Zahira menghafal 30 juz menjadi pengingat bahwa kesuksesan besar selalu lahir dari kesungguhan, istiqamah, dan doa yang terus dipanjatkan. Di usia muda, ia telah membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga diperjuangkan dengan sepenuh hati. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments