Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) terus memperkuat pembinaan karakter anak sejak usia dini melalui kegiatan Ceria Pandu Tunas Athfal (CPTA). Kegiatan yang digelar oleh Kwartir Daerah Hizbul Wathan Kabupaten Tuban di Pantai Panduri Jenu Tuban, Rabu (20/5/2026), menjadi sarana pendidikan yang menyenangkan bagi anak-anak PAUD dan TK untuk mengenal nilai disiplin, tanggung jawab, keberanian, cinta agama, tanah air, dan lingkungan.
Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur, Fathurrahim Syuhadi, menegaskan bahwa pendidikan karakter perlu ditanamkan sejak usia dini melalui pendekatan yang sesuai dengan dunia anak.
“Anak-anak adalah amanah sekaligus harapan masa depan umat dan bangsa. Karena itu, nilai-nilai kebaikan harus ditanamkan sejak awal melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan dunia anak,” ujarnya usai membuka kegiatan CPTA.
Penulis buku Jejak Sejarah Hizbul Wathan Jawa Timur tersebut menjelaskan bahwa Pandu Tunas Athfal merupakan jenjang awal pengenalan Hizbul Wathan bagi anak-anak PAUD dan TK. Dalam pelaksanaannya, kegiatan dikemas secara ceria melalui metode bermain sambil belajar, bukan dengan pendekatan formal dan kaku.
Suasana penuh kegembiraan tampak sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak mengenakan seragam khas Hizbul Wathan sambil mengikuti berbagai aktivitas edukatif seperti permainan kelompok, bernyanyi, tepuk HW, baris-berbaris sederhana, hingga praktik keterampilan ringan.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak belajar tentang kebersamaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sejak dini. Menurut Fathurrahim, mengenalkan Hizbul Wathan kepada anak bukan sekadar memperkenalkan organisasi, tetapi juga menanamkan nilai kepemimpinan dan akhlak mulia.
“Melalui kegiatan sederhana, anak-anak belajar tentang kejujuran, keberanian, disiplin, dan semangat menolong sesama. Nilai-nilai itu sangat penting sebagai bekal kehidupan mereka di masa depan,” ungkap anggota Dewan Pendidikan Lamongan tersebut.
Ia menambahkan, pembina Pandu Tunas Athfal memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang menggembirakan. Anak-anak dinilai lebih mudah memahami nilai melalui cerita, permainan, keteladanan, dan pengalaman langsung dibandingkan metode pembelajaran yang terlalu formal.
Berbagai kegiatan seperti outbound sederhana, mengenal alam, hafalan doa harian, praktik antre, menjaga kebersihan, hingga berbagi makanan dengan teman sebaya menjadi media efektif dalam membangun karakter positif anak-anak.
Selain melatih disiplin, kegiatan HW juga membantu meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri peserta didik. Anak-anak yang semula pemalu perlahan mulai berani tampil memimpin barisan maupun berbicara di depan teman-temannya.
Fathurrahim menegaskan bahwa Hizbul Wathan mengajarkan keseimbangan antara nilai keagamaan dan kecintaan terhadap bangsa. Anak-anak diajarkan pentingnya salat, berdoa, menghormati orang tua dan guru, sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air.
“Di tengah tantangan zaman modern dan pengaruh gawai yang semakin besar, anak-anak membutuhkan ruang interaksi nyata dan pendidikan karakter yang positif. Hizbul Wathan hadir menjawab kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Wakil Ketua LPCR-PM Jawa Timur itu juga berharap PAUD dan TK Aisyiyah terus memperkuat kegiatan Pandu Tunas Athfal dengan dukungan kepala sekolah, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar.
Menurutnya, keceriaan dalam kegiatan Pandu Tunas Athfal bukan sekadar permainan biasa, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter untuk melahirkan generasi Hizbul Wathan yang tangguh, disiplin, religius, dan berakhlak mulia.
“Mengenalkan Hizbul Wathan sejak dini berarti menanam benih kebaikan sejak awal kehidupan anak. Kelak benih itu akan tumbuh menjadi karakter kuat yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan persyarikatan,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments