Ujian hidup tidak selalu datang dalam bentuk yang ringan. Ada kalanya seseorang diuji dengan kehilangan anggota tubuh, sakit yang berkepanjangan, bahkan kehilangan orang yang dicintai.
Namun, kisah Urwah bin Zubair rahimahullah menunjukkan bagaimana seorang mukmin dapat menghadapi ujian berat dengan kesabaran, keteguhan iman, dan keyakinan penuh kepada Allah Ta’ala.
Urwah bin Zubair adalah putra Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang mendapat kabar gembira masuk surga. Ia juga merupakan saudara Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma.
Berbeda dengan kakaknya, Urwah tidak sempat bertemu langsung dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Namun, ia tumbuh dalam keluarga yang sangat dekat dengan sumber-sumber ilmu dan keteladanan Islam.
Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha, sahabiyah mulia yang dikenal dengan gelar Dzatun Nithaqain. Kakeknya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sahabat terdekat Rasulullah صلى الله عليه وسلم sekaligus khalifah pertama setelah beliau wafat.
Lingkungan keluarga itulah yang turut membentuk karakter Urwah. Ia tumbuh dalam suasana yang sarat dengan ketakwaan, keilmuan, dan akhlak mulia.
Selain itu, bibinya adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari sosok inilah Urwah memperoleh banyak ilmu. ‘Aisyah dikenal sebagai salah seorang sahabiyah paling berilmu dan menjadi rujukan dalam berbagai persoalan agama.
Tidak mengherankan jika kemudian Urwah bin Zubair dikenal sebagai seorang ahli fikih dan periwayat hadis. Ia termasuk ulama generasi tabi’in yang memiliki kedudukan penting dalam keilmuan Islam.
Urwah dikenal sebagai sosok yang tekun beribadah. Ia banyak berpuasa dan memiliki kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin.
Disebutkan bahwa ia mampu mengkhatamkan seperempat Al-Qur’an setiap hari. Ia juga terbiasa melakukan salat malam dan hampir tidak pernah meninggalkannya.
Ketekunan itu bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan cerminan kedalaman hubungan seorang hamba dengan Allah Ta’ala.
Namun, ujian terbesar dalam hidupnya datang ketika ia mengalami sakit berat.
Kaki Harus Diamputasi
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Urwah mengalami penyakit pada kakinya yang semakin parah. Kondisi tersebut membuat para tabib khawatir penyakit akan menyebar sehingga bagian kaki yang rusak harus diamputasi.
Bagi siapa pun, keputusan kehilangan sebagian anggota tubuh tentu bukan perkara sederhana. Rasa sakit secara fisik berpadu dengan tekanan batin yang tidak ringan.
Namun, Urwah menunjukkan keteguhan yang luar biasa.
Dalam kisah yang masyhur, para tabib menawarkan minuman yang dapat membuatnya tidak terlalu merasakan sakit ketika proses amputasi dilakukan. Akan tetapi, Urwah menolak menggunakan sesuatu yang diharamkan Allah.
Ia tidak ingin mencari kesembuhan dengan cara yang bertentangan dengan keyakinannya.
Ketika para tabib menawarkan obat bius, ia juga disebut menolaknya. Ia justru berharap dapat memperoleh pahala dari rasa sakit yang harus ditanggungnya.
Urwah kemudian meminta agar proses amputasi dilakukan ketika dirinya sedang salat.
Permintaan itu akhirnya dipenuhi.
Ketika proses amputasi berlangsung, Urwah larut dalam salatnya. Ia tidak merintih dan tidak menunjukkan kepanikan sebagaimana yang dikhawatirkan sebelumnya.
Kisah ini sering dikenang sebagai gambaran kuat tentang bagaimana salat dan kedekatan kepada Allah dapat memberikan keteguhan jiwa di tengah rasa sakit.
Bukan berarti rasa sakit itu tidak ada. Tubuh tetap merasakan sakit. Namun, hati yang tertambat kepada Allah mampu membuat seseorang memiliki kekuatan untuk menghadapi sesuatu yang sangat berat.
Ujian Belum Berakhir
Seolah belum cukup dengan kehilangan salah satu anggota tubuhnya, Urwah juga menghadapi ujian lain.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa pada waktu yang berdekatan dengan peristiwa tersebut, salah seorang anaknya, Muhammad, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan.
Bayangkan seorang ayah yang baru saja menjalani amputasi harus menerima kabar bahwa anak yang dicintainya telah meninggal dunia.
Namun, Urwah kembali menunjukkan keteguhan hati.
Alih-alih larut dalam keluh kesah, ia memandang apa yang terjadi dari sisi yang berbeda: semua yang dimiliki manusia sejatinya adalah titipan Allah.
Ia bersyukur karena dari beberapa anak yang dimilikinya, Allah masih menyisakan sebagian untuknya. Ia juga bersyukur karena meskipun satu anggota tubuhnya diambil, Allah masih menyisakan anggota tubuh yang lain.
Inilah cara pandang seorang mukmin terhadap takdir.
Apa yang diberikan Allah adalah karunia. Apa yang diambil Allah pun tetap berada dalam ketetapan dan hikmah-Nya.
Kisah Urwah bin Zubair mengajarkan bahwa syukur bukan hanya ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.
Syukur yang sesungguhnya justru tampak ketika seseorang kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, tetapi masih mampu melihat nikmat Allah yang tersisa.
Kehilangan satu kaki tidak membuat Urwah melupakan nikmat atas anggota tubuh lainnya.
Kehilangan seorang anak tidak membuatnya melupakan anak-anak yang masih Allah titipkan kepadanya.
Di sinilah letak kedalaman iman: seseorang tidak hanya melihat apa yang hilang, tetapi juga mampu menyadari betapa banyak karunia Allah yang masih ada.
Wafat dalam Keadaan Berpuasa
Urwah bin Zubair wafat pada 93 Hijriyah dalam usia sekitar 70 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang banyak berpuasa dan tekun beribadah.
Hisyam bin Urwah, putranya, meriwayatkan bahwa ayahnya banyak berpuasa hingga akhir hayatnya. Ketika ajal mendekat, Urwah sedang dalam keadaan berpuasa. Keluarganya meminta agar ia berbuka, tetapi ia memilih tetap melanjutkan puasanya.
Kisah akhir hayat Urwah semakin memperlihatkan bagaimana ibadah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.
Ia bukan hanya mengajarkan kesabaran melalui kata-kata. Ia menjalani kesabaran itu ketika tubuhnya sakit, ketika anggota tubuhnya harus diamputasi, dan ketika kehilangan anak yang dicintainya.
Kisah Urwah bin Zubair bukan sekadar cerita tentang seseorang yang mampu menahan rasa sakit. Lebih dari itu, kisah ini berbicara tentang cara seorang mukmin memandang ujian.
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik.
Pertama, ujian tidak selalu berarti Allah sedang meninggalkan kita. Bisa jadi, ujian justru menjadi jalan untuk mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.
Kedua, syukur tidak berhenti ketika nikmat berkurang. Seorang mukmin tetap mampu melihat karunia Allah, bahkan ketika sebagian yang dimilikinya harus hilang.
Ketiga, ibadah dapat menjadi sumber kekuatan batin. Salat bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga tempat seorang hamba menemukan ketenangan dan keteguhan.
Keempat, sabar bukan berarti tidak merasakan sakit. Sabar berarti tetap teguh dalam ketaatan dan tidak berburuk sangka kepada Allah meskipun sedang berada dalam keadaan yang sangat berat.
Kisah Urwah bin Zubair akhirnya membawa kita pada sebuah renungan sederhana: manusia sering kali menghitung apa yang hilang, tetapi lupa menghitung begitu banyak nikmat yang masih Allah titipkan.
Ketika satu pintu kenikmatan tertutup, bukan berarti seluruh pintu rahmat Allah ikut tertutup.
Urwah kehilangan satu kakinya, tetapi tidak kehilangan keyakinannya.
Ia kehilangan seorang anak, tetapi tidak kehilangan rasa syukurnya.
Dan ketika tubuhnya semakin lemah, hubungan hatinya dengan Allah justru tetap kuat.
Itulah keteguhan yang layak diteladani: menerima takdir tanpa kehilangan harapan, menghadapi ujian tanpa kehilangan iman, dan tetap bersyukur ketika sebagian nikmat harus pergi.
Referensi:
Al-Bidayah wan Nihayah
Siyar A’lam an-Nubala’
Tadzkirat al-Huffazh
Tahdzib at-Tahdzib
Basha’ir al-Farh bi Taqrib Fawa’id al-Imam al-Wadi’i fi ‘Ilm ar-Rijal wa al-Musthalah





0 Tanggapan
Empty Comments