Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Semangat Patriot Transmigrasi, Jalinan Kerja Sama, dan Karya-Karya Baru ITS di Kawasan Transmigrasi

Iklan Landscape Smamda
Semangat Patriot Transmigrasi, Jalinan Kerja Sama, dan Karya-Karya Baru ITS di Kawasan Transmigrasi
Konsep Otomatis
Oleh : Prof. Imam Robandi Ketua TEP 2025 di Papua Selatan, Ketua TEP 2026 di Papua Barat

ITS menjadi salah satu dari barisan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi RI. Tahun ini ITS menerjunkan 25 tim, yang terdiri atas 20 tim di Papua Barat, tiga tim di NTT, satu tim di NTB, dan satu tim di Kepulauan Riau. Tim-tim ini diterjunkan untuk menjawab dengan karya nyata dari hasil riset tim-tim tahun lalu.

Perjalanan saya dalam tugas TEP beberapa hari lalu sangat spesial karena mampir sebentar di sebuah kampus. Saya dan kawan-kawan berguru kepada mereka yang sudah mempunyai jam terbang tentang kewilayahan dan pernak-pernik sosial masyarakat Papua Barat. Mampir sebentar, langsung disuguhi menu yang terlihat sangat sederhana, tetapi rasa dan sejarahnya sangat fantastis. Nasi yang punel dan fuwa-fuwa, sayur kangkung yang begitu lezat, dan tuna bakar khas Papua Barat yang memang tidak mudah untuk diperoleh di tempat lain.

Ini ‘mungkin’ sebagai sejarah dari sebuah peristiwa yang langka. Sambal nan pedas disantap di tempat yang memesona, sambil menikmati keindahan alam Samudra Pasifik nan luas dan membiru. Itu adalah Kampus UMPB di lereng gunung dengan kontur tanah yang sangat elok, di Kabupaten Manokwari. Angin ‘semilir’ sepoi-sepoi, dan saya manfaatkan sebentar untuk menenangkan pikiran sambil melihat ke arah timur. Sesekali ada riak-riak air laut kecil di pinggir lautan.

Memang, dampak program Ekspedisi Patriot dapat menyebar ke mana-mana dalam hal kebermanfaatan dan menumbuhkan jalinan tali kerja sama baru. Ini yang sebelumnya tidak terpikirkan di dalam ‘rundown’ perjalanan saya. Ternyata di Papua Barat saya dan para kawan telah menambah banyak saudara dan ‘paseduluran’.

Hari itu, Setu Pahing, 12 September. Kawasan Transmigrasi di Distrik Oransbari sangat meriah. Kedatangan Menteri Transmigrasi RI, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menjadi penyemangat baru warga transmigran dan sekitarnya. Ini adalah kedatangan menteri transmigrasi pertama kali semenjak ada kawasan transmigrasi di situ, kata Sutikno, atau Mbak Tikno, seorang transmigran asal Wonogiri yang sudah berumur hampir 80 tahun.

Memang, cerita para transmigran yang pertama kali mendarat di Papua Barat sangat heroik dan beragam. Bayangkan saja, perjalanan dari Jawa sampai masuk ke Tanah Papua hampir mendekati satu bulan menaiki kapal, dan ini adalah waktu yang tidak sedikit di lautan. Mungkin hampir sama lamanya dengan perjalanan Laksamana Cheng Ho saat mengunjungi Pulau Jawa untuk menjalin hubungan perdagangan di era Majapahit dan Dinasti Ming, zaman itu.

Tempat acara siang itu di Kampung Sidomulyo dan cukup ramai. Berbagai tamu datang untuk manghayubagya. Bupati, para punggawa, dan juga masyarakat ikut menyaksikan gebyar hasil karya patriot ITS. Walaupun pengabdian para patriot masih belum genap dua bulan di kawasan itu, tetapi sudah mulai muncul hasil yang dapat diterapkan dan dirasakan di tengah-tengah masyarakat.

Padi di sekitarnya terlihat subur dan tertanam rapi. Jarak antara tanaman padi sangat ideal dan air dari Bendungan Waroser mengaliri persawahan dengan begitu gemericik. Hamparan luas padi menghijau telah menampakkan bahwa bumi pertiwi di Tanah Papua Barat adalah ‘loh jinawi’.

Ini telah membuktikan bahwa keberadaan para transmigran yang telah bergotong royong dengan masyarakat asli Papua telah membentuk peradaban baru yang saling mengisi dalam menyongsong keberhasilan, ‘melu handarbeni’. Para transmigran belajar mengenal alam Papua dan masyarakat asli Papua belajar tentang bertani padi yang baik. Mereka saling mengisi dengan hidup guyub rukun, ‘kinarya tepa palupi’.

Kedatangan Menteri Iftitah adalah untuk menyambut keberhasilan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ITS yang sudah merampungkan sebagian proyek penelitiannya di Manokwari Selatan (Mansel). Berbagai hasil penelitian karya para patriot ITS di Mansel dipamerkan di situ. Walaupun belum selesai tuntas 100 persen, tetapi sudah mengerucut ke hasil yang ingin dicapai. Mungkin seperti monev tahap satu karena proyek TEP masih harus berakhir sampai November tahun ini.

Menteri Iftitah menyebut para transmigran sebagai patriot bangsa. Ini sangat tepat untuk mengulik perjuangan mereka dan membangun optimisme dalam menggarap dan mengelola lahan untuk andil menggawangi ketahanan pangan Indonesia. Padi yang menghijau, ternak yang terawat rapi, dan kehidupan yang selaras dan damai dalam kebersamaan adalah tanda-tanda keberhasilan.

Ini terlihat dari pesona wajah para transmigran yang ‘sumringah’ siang itu, dengan penuh canda sambil bercerita masa lalu. Mereka telah menjadikan Tanah Papua seperti tanah tumpah darahnya, walaupun saat awal sangat berat meninggalkan tanah kelahirannya di Pulau Jawa.

Bagaimana mereka saat awal menempati kawasan transmigran yang masih hutan belantara dan semak belukar yang hanya dibekali cangkul, arit, dan kapak untuk membuka lahan, dan ternyata sekarang anak cucu mereka telah menikmati hasil yang membanggakan dari kakek-nenek moyangnya. Ini kawasan transmigrasi yang ‘tata-titi-tentrem’ tur raharja, saya merasakan begitu.

Ide-ide kreatif Kementerian Transmigrasi RI yang merangkul sepuluh PTN-BH untuk ikut membangun kawasan transmigrasi adalah sangat strategis, memantik semangat baru untuk terus menggali potensi dan menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan tatanan sosial dan pengembangan ekonomi masyarakat.

SMPM 5 Pucang SBY

Salah satu gagasan yang sederhana, ‘cekak aos’, dan itu ada di Margorukun, tetapi sangat inovatif, dan itu menjadi salah satu contoh karya nyata TEP ITS. Kotoran sapi disulap menjadi gas, disalurkan ke kompor untuk memasak. Ampas kotoran dibawa ke kebun menjadi pupuk. Kelak, panen singkong besar-besar, pepaya dan rambutan melimpah karena pupuk melimpah.

Ini adalah hal tidak biasa dari sebuah karya yang inovatif. Di tempat itu Menteri Iftitah ikut sibuk bersih-bersih kotoran sapi yang dimasukkan ke tangki berkubah untuk diproses menjadi gas. Bupati Mansel dan tim juga ikut sibuk. Jika bulan depan kita datang lagi, kita sudah dapat melakukan uji coba memasak mi Jawa ala Oransbari, mungkin begitu.

Margomulyo akan dipasang penggilingan padi elektrik. Tempat sudah siap, dan Mbak Febriza sudah oke juga. Kepala kampung wanita yang enerjik itu sudah ‘samekto ing gati sawego ing diri’. Penerangan juga akan segera menyala di banyak titik, ‘solar energy’, kata Rizqi dan Amri, anggota Tim 13 TEP ITS.

Tentu ini akan mengubah wajah dan semangat baru di kampung transmigran. Bukan sekadar itu, karena hubungan ITS dengan Papua Barat akan menjadi semakin dekat. Lulusan ITS menjadi semakin banyak yang mengenal dan menyatu dengan alam di sekitar pegunungan Arfak dan kawasan transmigrasi di pedalaman Manokwari Selatan.

Kedatangan Mentrans dan Tim ITS telah menghangatkan situasi sisi timur Papua Barat. Ini secara perlahan akan berdampak karena UMPB dan Unipa juga ikut meramaikan dengan membangun nota kesepahaman dengan ITS.

Ini adalah babak baru ITS masuk di jantung pedalaman Tanah Papua. Jalinan MoU adalah langkah baru yang sangat bermakna antara ITS bersama universitas-universitas di Papua Barat. Suatu saat, ITS akan diajak ke Kabupaten Arfak dan daerah pedalaman yang lain untuk melihat potensi-potensi alam di sana dan ikut merasakan harmonisasi kehidupan di sana.

Ilmu pengetahuan dan alam nyata menyatu dalam satu bingkai. Ini yang pernah disampaikan oleh Rektor UMPB saat saya mampir di sana. Membangun tali silaturahim antara perguruan tinggi dan langsung merancang kegiatan yang dilaksanakan dalam waktu dekat harus menjadi prioritas, atau minimal telah memancing atmosfer akademika.

Memang saat itu langsung ‘sat-set’ seperti sulapan, dan itu ternyata dapat diselesaikan dalam waktu cepat, dan langsung tanda tangan. Ini adalah sangat menarik, sebuah kinerja di era AI yang dapat diselesaikan dalam hitungan menit antara mereka yang di Papua Barat dan Surabaya.

Saya melihat wajah cerah Bupati Manokwari Selatan dan Warek 2 ITS setelah kertas MoU selesai ditandatangani di pelataran terbuka.

Kegiatan TEP telah menjadi jembatan baru untuk menciptakan tatanan masyarakat baru dan kebersamaan dalam membangun bangsa. (*)

https://en.everybodywiki.com/Imam_Robandi

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/09/2026 08:43
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu