Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Agung Danarto: Hizbul Wathan Harus Ramah terhadap Kemajuan Digital dan Teknologi

Iklan Landscape Smamda
Agung Danarto: Hizbul Wathan Harus Ramah terhadap Kemajuan Digital dan Teknologi
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Agung Danarto menyampaikan sambutan pada pembukaan Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung, Kamis (8/10/2026). Foto: Moh. Ernam
pwmu.co -

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Agung Danarto menegaskan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) perlu melakukan revitalisasi agar semakin relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kegiatan kepanduan tidak cukup hanya mengandalkan pola-pola klasik, tetapi juga harus mampu beradaptasi dan ramah terhadap perkembangan digital serta teknologi.

Hal itu disampaikan Agung Danarto saat memberikan sambutan dalam pembukaan Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung, Kamis (8/10/2026).

Agung menjelaskan, Hizbul Wathan didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1918. Gerakan kepanduan tersebut kemudian dilebur bersama organisasi kepanduan lainnya ke dalam Gerakan Pramuka pada 1961 dan dihidupkan kembali pada 1999.

Dengan demikian, kata Agung, Hizbul Wathan telah melewati 27 tahun sejak kebangkitannya kembali. Kondisi tersebut menjadi momentum untuk melakukan evaluasi sekaligus memperkuat arah gerakan.

“Dengan usia kebangkitan kembali HW yang sudah 27 tahun, tentu banyak hal yang perlu dievaluasi dari Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan,” ujarnya.

Hizbul Wathan dan Semangat Membela Tanah Air

Agung mengatakan, nama Hizbul Wathan memiliki makna yang kuat. Kata hizb dapat dimaknai sebagai kelompok, tentara, atau pembela, sedangkan al-wathan berarti negeri atau tanah air. Karena itu, Hizbul Wathan dapat dimaknai sebagai gerakan pembela tanah air.

Menurutnya, semangat tersebut telah menjadi bagian dari sejarah berdirinya HW. Ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Hizbul Wathan pada 1918, salah satu semangat yang ditanamkan kepada generasi muda Muhammadiyah adalah kecintaan terhadap tanah air.

“Bisa dibayangkan ketika 1918 bagaimana nasionalisme yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang ingin agar anak-anak muda yang dibina Muhammadiyah memiliki kecintaan yang luar biasa atas tanah air,” katanya.

Agung menilai nilai tersebut tetap relevan hingga saat ini. Namun, cara menanamkan semangat cinta tanah air kepada generasi muda perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Tidak Berhenti pada Kegiatan Klasik

Menurut Agung, revitalisasi Hizbul Wathan harus mencakup program, kegiatan, hingga pola pembinaan. Ia mengingatkan agar kegiatan kepanduan tidak hanya berputar pada aktivitas klasik seperti baris-berbaris, tali-temali, semaphore, dan mendirikan tenda.

“Kalau Hizbul Wathan hanya berputar kepada pembinaan yang sifatnya klasik, terbatas kepada pelatihan baris-berbaris, tali-temali, semaphore, mendirikan tenda, kalau sebatas hanya itu mungkin minat anak muda akan semakin menurun,” ungkapnya.

Karena itu, HW perlu berani melakukan pembaruan agar mampu menjawab kebutuhan generasi muda. Agung menilai tema Tanwir I Gerakan Kepanduan HW, yakni meneguhkan kepanduan yang berkemajuan, telah memberikan arah yang tepat bagi proses revitalisasi tersebut.

Menurutnya, kepanduan berkemajuan berarti mampu bersahabat dengan berbagai perkembangan yang hadir di tengah kehidupan generasi muda, termasuk teknologi informasi, digitalisasi, dan media sosial.

“Berkenaan dengan kemajuan itu bisa diartikan harus senantiasa friendly dengan kemajuan-kemajuan yang hadir, dengan digitalisasi, dengan IT, dengan media sosial dan lain sebagainya,” tuturnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Peremajaan Kepemimpinan HW

Selain pembaruan program, Agung juga menekankan pentingnya regenerasi dalam kepengurusan Hizbul Wathan. Ia mengapresiasi semakin banyaknya kader muda yang mulai mengambil peran dalam kepengurusan HW.

“Ketika revitalisasi HW, pada awal mula pengurusnya dihuni para senior. Sekarang para seniornya masih, tetapi yang muda sudah mulai banyak pertumbuhan. Saya kira perlu dipercepat upaya para remaja dan putra-putri HW,” katanya.

Menurut Agung, regenerasi kepemimpinan menjadi bagian penting agar HW memiliki energi baru sekaligus mampu memahami karakter dan kebutuhan generasi muda.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam Tanwir I. Berdasarkan laporan yang diterimanya, terdapat 20 kabilah Hizbul Wathan dari perguruan tinggi Muhammadiyah yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Keterlibatan perguruan tinggi tersebut, menurut Agung, dapat menjadi bagian dari proses revitalisasi HW sehingga gerakan kepanduan Muhammadiyah semakin kuat dan berkembang.

Menanamkan Kecintaan terhadap Tanah Air

Agung menegaskan bahwa semangat membela tanah air tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Diperlukan proses pembinaan yang mampu menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan negara secara nyata.

“Membela tanah air tidak cukup hanya dengan slogan NKRI harga mati. Harus ada upaya-upaya serius bagaimana menumbuhkan rasa kecintaan kepada tanah air dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Karena itu, kecintaan terhadap tanah air perlu diwujudkan melalui berbagai bentuk pembinaan yang melatih mental, kepedulian, tanggung jawab, serta karakter generasi muda.

Menutup sambutannya, atas nama PP Muhammadiyah, Agung Danarto menyampaikan selamat kepada seluruh keluarga besar Hizbul Wathan atas terselenggaranya Tanwir I Gerakan Kepanduan HW Tahun 2026.

Ia berharap forum tersebut dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat revitalisasi HW, mempercepat regenerasi kepemimpinan, serta melahirkan program kepanduan yang semakin relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar perjuangan Hizbul Wathan. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 08/10/2026 13:21
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu