Milad bukan sekadar penanda bertambahnya usia sebuah organisasi. Ia merupakan momentum untuk menengok kembali alasan mengapa organisasi itu lahir, sekaligus menguji apakah cita-cita warisan para pendirinya masih menjadi arah perjalanan hingga hari ini.
Pertanyaan seperti ini penting diajukan kepada setiap organisasi yang telah melewati lintas generasi. Sebab organisasi tidak kehilangan perannya ketika usianya bertambah, melainkan ketika ia mulai menjauh dari nilai yang melahirkannya.
Momentum Milad ke-63 Tapak Suci Putera Muhammadiyah pada 31 Juli menjadi kesempatan yang tepat untuk melakukan refleksi tersebut. Enam puluh tiga tahun bukanlah perjalanan yang singkat.
Rentang waktu itu telah membawa Tapak Suci melewati berbagai perubahan sosial, politik, budaya, hingga perkembangan teknologi yang mengubah hampir seluruh cara manusia berinteraksi.
Di tengah perubahan itu, pertanyaan yang layak diajukan bukan sekadar bagaimana Tapak Suci bertahan, melainkan bagaimana organisasi ini tetap memberi makna bagi masyarakat dan generasi yang terus berubah.
Tapak Suci dalam Jejak Sejarah Bangsa
Tapak Suci lahir pada tahun 1963 ketika Indonesia masih berada dalam fase pencarian jati diri sebagai bangsa yang merdeka.
Muhammadiyah memandang bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya melalui pendidikan formal ataupun dakwah di mimbar.
Diperlukan ruang pembinaan yang mampu membentuk manusia secara utuh, yaitu manusia yang sehat jasmaninya, kuat mentalnya, jernih pikirannya, serta kokoh nilai-nilai yang menjadi pegangan hidupnya.
Pilihan untuk mendirikan perguruan pencak silat bukanlah keputusan yang sederhana. Ia menunjukkan bahwa Muhammadiyah melihat kebudayaan sebagai bagian penting dari dakwah.
Pencak silat merupakan warisan budaya bangsa yang mengandung nilai disiplin, penghormatan, keberanian, dan pengendalian diri.
Nilai-nilai tersebut kemudian dipadukan dengan ajaran Islam sehingga lahirlah sistem pembinaan yang tidak berhenti pada kemampuan bela diri, tetapi mengarah pada pembentukan karakter.
Karena itu, Tapak Suci sejak awal tidak dibangun untuk mengejar kemenangan di arena pertandingan semata.
Prestasi olahraga memang penting, tetapi bukan tujuan akhir. Tujuan yang lebih besar adalah melahirkan kader yang mampu membawa nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan ke dalam kehidupan masyarakat.
Seorang pesilat yang memiliki kemampuan tinggi tetapi kehilangan akhlak justru bertentangan dengan ruh yang melatarbelakangi berdirinya Tapak Suci.
Di sinilah letak kekuatan Tapak Suci. Organisasi ini berdiri di atas pertemuan antara nilai agama, kebudayaan, dan pendidikan.
Pertemuan tersebut menjadikan Tapak Suci bukan sekadar perguruan pencak silat, melainkan ruang kaderisasi yang menempatkan kekuatan fisik sebagai bagian dari pembentukan manusia yang berintegritas.
Ketika Prestasi Berhadapan dengan Budaya Sensasi
Setiap zaman membawa tantangannya sendiri. Generasi yang dihadapi Tapak Suci hari ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi enam puluh tahun lalu.
Perkembangan media digital menghadirkan ruang komunikasi yang nyaris tanpa batas. Informasi bergerak sangat cepat, begitu pula cara seseorang memperoleh pengakuan.
Perubahan ini melahirkan paradoks. Kesempatan untuk belajar semakin terbuka, tetapi godaan untuk mencari jalan pintas juga semakin besar.
Banyak anak muda lebih akrab dengan budaya viral daripada budaya belajar. Perhatian publik menjadi sesuatu yang diperebutkan, sehingga sensasi sering kali memperoleh ruang yang lebih besar dibandingkan prestasi.
Fenomena tersebut tidak dapat dipandang sebagai persoalan perilaku individu semata. Ia merupakan gejala perubahan budaya yang memengaruhi cara seseorang membangun identitas.
Ketika pengakuan dari luar menjadi ukuran utama keberhasilan, proses panjang membangun kapasitas sering dianggap kurang menarik.
Tidak sedikit yang rela mempertaruhkan etika, bahkan ketertiban sosial, demi memperoleh perhatian sesaat.
Perubahan seperti ini perlu dibaca dengan jernih oleh Tapak Suci. Ancaman terbesar organisasi bukan semata berkurangnya jumlah anggota atau ketatnya persaingan antarpaguron.
Ancaman yang lebih mendasar adalah apabila orientasi pembinaan ikut bergeser mengikuti logika sensasi.
Organisasi yang seharusnya menjadi ruang pendidikan karakter dapat kehilangan ruhnya apabila lebih sibuk mengejar popularitas daripada membangun kualitas kader.
Padahal, masyarakat tidak sedang membutuhkan lebih banyak tontonan. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak teladan.
Di tengah meningkatnya kekerasan remaja, penyalahgunaan media sosial, dan lunturnya etika pergaulan, keberadaan organisasi yang mampu membentuk disiplin, tanggung jawab, dan pengendalian diri justru semakin relevan.
Nilai inilah yang menjadi kekuatan utama Tapak Suci apabila terus dipelihara dan dikembangkan.
Merawat Ideologi, Memperbarui Cara Bergerak
Menjaga relevansi bukan berarti meninggalkan jati diri. Sebaliknya, perubahan hanya akan menghasilkan kemajuan apabila tetap berpijak pada fondasi yang kokoh.
Bagi Tapak Suci, fondasi tersebut adalah nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan yang sejak awal menjadi ruh organisasi.
Nilai itu tidak cukup dipahami sebagai identitas, tetapi harus menjadi orientasi dalam setiap proses kaderisasi, pembinaan, dan pengembangan organisasi.
Pada saat yang sama, cara menyampaikan nilai tidak boleh berhenti pada pola-pola lama.
Generasi muda hidup dalam ruang komunikasi yang berbeda. Mereka membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif, lebih komunikatif, dan lebih dekat dengan pengalaman hidup mereka.
Pemanfaatan teknologi digital, penguatan literasi media, penyajian konten edukatif, hingga pengembangan program pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda merupakan bagian dari ikhtiar memperbarui metode tanpa mengubah prinsip.
Pekerjaan besar tersebut tidak dapat dipikul oleh Tapak Suci seorang diri. Pembentukan karakter memerlukan ekosistem yang saling menguatkan.
Kolaborasi dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, serta seluruh Amal Usaha Muhammadiyah akan memperkuat proses kaderisasi yang berlangsung secara berkelanjutan.
Setiap unsur memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial.
Milad ke-63 menjadi pengingat bahwa warisan terbesar Tapak Suci bukanlah banyaknya jurus yang dikuasai atau panjangnya daftar prestasi yang pernah diraih.
Warisan yang paling berharga adalah keyakinan bahwa pencak silat dapat menjadi jalan untuk membentuk manusia yang bertanggung jawab terhadap dirinya, masyarakatnya, dan bangsanya.
Selama keyakinan itu tetap hidup, Tapak Suci akan selalu memiliki tempat dalam perjalanan bangsa.
Sebab organisasi yang mampu menjaga nilai sambil terus memperbarui cara bergeraknya tidak hanya bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga ikut menentukan arah perubahan itu sendiri.***





0 Tanggapan
Empty Comments