“Rumah sakit bukanlah pabrik yang memproduksi keuntungan. Rumah sakit adalah institusi kemanusiaan yang membutuhkan keberlanjutan agar dapat terus menyelamatkan kehidupan.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya terdapat paradoks besar dalam ekosistem kesehatan Indonesia.
Di satu sisi, rumah sakit dituntut memberikan pelayanan yang semakin bermutu. Rumah sakit harus memenuhi standar Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), lulus akreditasi, memperkuat keselamatan pasien (patient safety), mengembangkan transformasi digital, serta memenuhi berbagai indikator mutu pelayanan.
Di sisi lain, biaya operasional terus meningkat. Harga alat kesehatan, obat-obatan, bahan medis habis pakai, energi, teknologi kesehatan, hingga biaya sumber daya manusia mengalami tekanan.
Sebagian alat kesehatan berteknologi tinggi juga masih bergantung pada impor sehingga perubahan nilai tukar rupiah turut memengaruhi biaya pelayanan.
Persoalannya, peningkatan biaya tersebut tidak selalu diikuti kenaikan pendapatan rumah sakit secara proporsional. Rumah sakit, terutama yang melayani peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), menghadapi tantangan pembiayaan yang tidak sederhana.
Mekanisme pembayaran berbasis Indonesia Case Based Groups (INA-CBGs), misalnya, harus terus berhadapan dengan dinamika biaya riil pelayanan kesehatan. Di sinilah persoalan sesungguhnya bermula.
Rumah sakit diminta terus meningkatkan mutu, tetapi ruang untuk membiayai peningkatan mutu justru semakin terbatas.
Mutu Tidak Lahir dari Slogan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menegaskan hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu, aman, efektif, dan terjangkau.
Amanat itu tentu harus dijaga.
Namun, mutu pelayanan kesehatan tidak lahir dari slogan. Mutu membutuhkan investasi.
Keselamatan pasien membutuhkan tenaga kesehatan yang kompeten. Pelayanan yang cepat membutuhkan peralatan yang andal. Transformasi digital membutuhkan sistem informasi yang kuat. Pelayanan yang nyaman membutuhkan lingkungan rumah sakit yang layak. Semua itu membutuhkan biaya.
Dalam perspektif mutu pelayanan kesehatan, terdapat tiga komponen penting: structure, process, dan outcome.
Structure mencakup gedung, peralatan, sumber daya manusia, sistem, dan pembiayaan. Struktur yang sehat akan menopang proses pelayanan yang baik. Proses yang baik pada akhirnya diharapkan menghasilkan outcome kesehatan yang optimal.
Karena itu, keberlanjutan finansial rumah sakit tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai persoalan bisnis. Ia merupakan salah satu fondasi mutu pelayanan.
Rumah sakit yang tidak sehat secara finansial akan kesulitan mempertahankan kualitas pelayanan dalam jangka panjang.
Efisiensi Bukan Sekadar Memotong Biaya
Dalam konsep Value-Based Health Care, tujuan pelayanan kesehatan bukan sekadar menekan biaya, melainkan menghasilkan nilai terbaik bagi pasien: luaran kesehatan yang optimal dengan penggunaan sumber daya yang efisien.
Di sinilah efisiensi harus ditempatkan secara proporsional.
Efisiensi bukan berarti memangkas biaya secara membabi buta. Efisiensi berarti menghilangkan pemborosan tanpa mengorbankan kualitas.
Jika efisiensi diterjemahkan hanya sebagai pemotongan tarif atau penekanan biaya pelayanan, maka yang muncul justru persoalan baru.
Rumah sakit mungkin dapat bertahan dalam jangka pendek, tetapi kapasitas pelayanan dapat tergerus dalam jangka panjang. Rumah sakit bertahan bukan semata-mata karena memiliki gedung yang megah.
Kekuatan utama rumah sakit berada pada dokter yang kompeten, perawat yang profesional, tenaga kesehatan yang terampil, budaya keselamatan pasien, teknologi yang memadai, sistem manajemen yang sehat, serta kepercayaan masyarakat.
Semua itu membutuhkan investasi. Ketika ruang keuangan semakin sempit, investasi tersebut menjadi hal pertama yang berisiko ditunda. Penggantian alat dapat ditangguhkan.
Rekrutmen tenaga kesehatan dapat dibatasi. Pelatihan dan pengembangan kompetensi dapat dikurangi. Inovasi dapat diperlambat.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi itu bukan lagi sekadar masalah keuangan. Ia dapat berubah menjadi ancaman terhadap mutu pelayanan.
Rumah Sakit Berada di Tengah Banyak Tuntutan
Rumah sakit menghadapi tekanan regulatif, normatif, sekaligus sosial secara bersamaan.
Ada regulasi pemerintah. Ada standar akreditasi. Ada tuntutan penyelenggara jaminan kesehatan. Ada harapan pasien dan keluarga.
Ada kebutuhan tenaga kesehatan untuk memperoleh penghargaan yang layak. Ada pula tuntutan masyarakat agar rumah sakit semakin cepat, aman, ramah, transparan, dan modern. Semua tuntutan itu sah.
Namun, semuanya membutuhkan sumber daya. Di sinilah rumah sakit menghadapi situasi yang bisa disebut sebagai mission impossible: dituntut menjadi lebih cepat, lebih aman, lebih digital, lebih ramah, lebih efisien, lebih transparan, dan lebih inovatif, tetapi tidak selalu dibarengi dengan pertumbuhan sumber daya yang sepadan.
Dalam perspektif manajemen organisasi, keadaan semacam ini dapat melahirkan organizational strain, yakni tekanan ketika tuntutan terhadap organisasi tumbuh lebih cepat daripada kapasitas sumber daya yang dimilikinya.
Persoalannya menjadi semakin kompleks karena rumah sakit bukan perusahaan biasa. Rumah sakit tidak bisa memilih hanya melayani pasien yang menguntungkan. Pasien gawat darurat tidak boleh ditolak hanya karena pertimbangan finansial.
Instalasi gawat darurat harus siap 24 jam. ICU harus tersedia. Oksigen harus tersedia. Obat-obatan dan darah harus disiapkan. Tenaga medis dan tenaga kesehatan harus siaga. Sistem keselamatan pasien harus berjalan setiap waktu.
Sebagian layanan tersebut tidak selalu menghasilkan margin finansial yang tinggi. Namun, rumah sakit tetap harus menyediakannya karena di situlah tanggung jawab kemanusiaan dan kewajiban pelayanan publik bekerja.
Jangan Sampai Sistem Menjadi Beban bagi Pelayanan
Ekosistem kesehatan yang sehat semestinya dibangun melalui prinsip shared value.
Pemerintah mendapatkan masyarakat yang sehat. BPJS Kesehatan menjaga keberlanjutan pembiayaan jaminan kesehatan.
Tenaga kesehatan memperoleh penghargaan yang layak. Industri kesehatan berkembang secara sehat. Sementara rumah sakit memiliki ruang yang cukup untuk berinvestasi dalam mutu dan keselamatan pasien.
Tidak semestinya satu pihak terus-menerus menanggung beban secara tidak proporsional. Rumah sakit tidak pernah meminta diperlakukan sebagai mesin pencetak laba.
Banyak rumah sakit di Indonesia, termasuk rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit yang lahir dari organisasi sosial dan keagamaan, tumbuh dari semangat pelayanan.
Orientasinya bukan semata-mata keuntungan, melainkan pengabdian kepada masyarakat. Tetapi pelayanan membutuhkan keberlanjutan.
Rumah sakit yang sehat secara finansial bukan berarti rumah sakit yang kaya. Rumah sakit yang sehat adalah rumah sakit yang mampu membeli obat tepat waktu, mengganti alat yang sudah tidak layak, memberikan penghargaan yang wajar kepada tenaga kesehatan, mengembangkan teknologi, menjaga keselamatan pasien, dan terus meningkatkan kualitas pelayanan.
Dengan kata lain, keberlanjutan finansial bukan lawan dari kemanusiaan. Justru keberlanjutan finansial adalah salah satu syarat agar pelayanan kemanusiaan dapat terus berlangsung.
Jangan Dimiskinkan oleh Sistem
Karena itu, kalimat “Rumah sakit tidak meminta diperkaya. Rumah sakit hanya berharap tidak dimiskinkan oleh sistem” seharusnya tidak dibaca sebagai keluhan. Kalimat tersebut adalah pengingat.
Sistem kesehatan hanya akan kuat apabila seluruh komponennya sama-sama sehat. Pemerintah membutuhkan rumah sakit yang kuat.
Masyarakat membutuhkan pelayanan yang bermutu. Tenaga kesehatan membutuhkan lingkungan kerja yang layak. Dan rumah sakit membutuhkan ekosistem pembiayaan yang memungkinkan mereka terus berinvestasi dalam pelayanan.
Jika rumah sakit terus dipaksa bertahan dengan napas yang semakin pendek, dampaknya pada akhirnya tidak berhenti di laporan keuangan. Yang terkena dampak adalah pasien.
Pasien yang menunggu alat diperbaiki. Pasien yang membutuhkan tenaga kesehatan kompeten. Pasien yang membutuhkan layanan cepat dan aman. Pasien yang berharap rumah sakit bukan sekadar tempat berobat, tetapi tempat terakhir untuk menggantungkan harapan hidup.
Maka, rumah sakit tidak sedang meminta privilege. Rumah sakit hanya meminta sesuatu yang jauh lebih sederhana: ekosistem yang adil dan berkelanjutan agar tetap mampu menjalankan amanat kemanusiaan.
Sebab, rumah sakit yang sehat bukan hanya kepentingan rumah sakit. Rumah sakit yang sehat adalah kepentingan pasien, masyarakat, dan sistem kesehatan itu sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments