Siapa pun harus bersyukur mendapat nikmat lisan. Tak ternilai manfaat dari lisan. Di antara yang mudah disebut, dengan lisan kita bisa berkomunikasi dengan pihak lain.
Allah meminta kita agar selalu menggunakan lisan di jalan kebaikan. Perhatikan ayat ini: “….. ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, ….” (QS Al-Baqarah [2]: 83). Kemudian, di sebuah HR Tirmidzi, Rasulullah Saw mengajarkan supaya kita menjaga lisan. Jika hal tersebut tidak kita patuhi, bisa menjadi penyebab ketersungkuranke neraka karena apa yang diucapkan lisan itu.
Siapa saja, mesti menata lisan dengan baik saat berkata-kata. Semua punya kewajiban memenuhi aturan Islam itu, terlebih jika dia seorang pemimpin. Hal ini, karena sosok pemimpin potensial perilakunya ditiru oleh masyarakat yang dipimpinnya.
Agar Beruntung
Mari menunduk, hayati bahwa semua yang keluar dari lisan kita diabadikan oleh Malaikat. Resapilah ayat ini: ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS Qaaf [50]: 18).
Mari merenung! Ada tiga hal serangkai yang disebut Allah dalam sebuah ajaran mulia. Ketiganya adalah iman, takwa, dan perkataan yang benar. Hal tersebut, dapat kita simak di ayat ini: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” (QS Ahzab [33]: 70-71).
Kita harus menaati ayat di atas. Janji Allah, jika kita taati aturan itu maka pasti akan perbaiki amal kita.Pasti, Allah ampuni dosa kita. Keadaan yang seperti ini tergolong sebagai kemenangan yang besar.
Jangan Sembarangan!
Selalu berkata-katalah yang baik. Sebaliknya, jangan pernah pakai kata-kata yang sifatnya merendahkan orang lain. Simak ayat ini: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”(QS Al-Hujuraat [49]: 11).
Atas ayat di atas, ada penjelasan.Ayat ”Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri”,maksudnya ialah mencela antara sesama Mukmin karena orang-orang Mukmin seperti satu tubuh.
Lalu, ayat ”Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman”punya maksud bahwa panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari. Misalnya, panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti ”hai fasik”, ”hai kafir”, dan sebagainya.
Kapan pun kita tak boleh memakai gelaran atau sebutan yang mengandung ejekan.Lihat, ada judul berita di https://www.suara.com/ 26 Juni 2026: ”Prabowo Keceplosan ‘Ndasmu’ Lagi, Niatnya Guyon Tapi Kena Sindir Pakar Komunikasi”.
Hal senada, di situasi apa pun kita tak patut menggunakan ungkapan yang bisa bermakna merendahkan orang atau pihak lain.Lihat, ada judul berita di www.jpnn.com24 Juli 2026: ”Prabowo Tuding Masih Ada Londo Ireng di Indonesia, Jadi Jurnalis, Pengamat, hingga LSM”.
Empat Tepat
Umat Islam diminta untuk tidak melakukan hal yang tidak bermanfaat. Perhatikan petunjuk Rasulullah Saw ini:“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Terkait, kaum beriman senantiasa akan berkata-kata yang baik. Jika tidak bisa memenuhi hal itu, diam adalah sikap yang baik. Perhatikan arahan Nabi Muhammad Saw ini: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat, maka hendaklah berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari – Muslim).
Alhasil, setidaknya ada empat pelajaran yang harus selalu kita penuhi. Pertama,katakanlah perkataan yang benar.Kedua, jangan berkata-kata yang bernada merendahkan, terlebih lagi jangan mencela.Ketiga, jangan memanggil orang atau pihak lain dengan panggilan atau gelaran yang mengandung ejekan.Keempat, jika tak bisa berkata-kata yang baik maka lebih baik diam.
Asa Kita
Semoga kita selalu dilindungi Allah. Dilindungi, bahwa kita selalubisa berkata-kata yang baik. Dilindungi, bahwa jika kita tak mampu berkata-kata yang baik maka lebih baik bersikap diam.
Mudah-mudahan kita, termasuk para pemimpin, Allah beri hidayah sehingga mampu menjalankan perintah Allah dan memenuhi petunjuk Rasul-Nya. Semoga kita, termasuk segenap pemimpin, Allah beri pertolongan sehingga bisa menunaikan titah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah Saw. []





0 Tanggapan
Empty Comments