Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menguatkan Ukhuwah Meredam Amarah

Iklan Landscape Smamda
Menguatkan Ukhuwah Meredam Amarah
Oleh : Agus Rosid Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah Bubutan Barat Surabaya

Sebuah insiden yang terjadi beberapa hari lalu di wilayah Madura telah menimbulkan rasa keprihatinan mendalam. Sekelompok massa menggeruduk kantor cabang Muhammadiyah Karangpenang, Sampang, dengan membawa tuntutan yang disertai ancaman.

Ironisnya, tindakan tersebut tersulut oleh kabar burung dan informasi hoaks yang menyulut amarah.

Kejadian itu beruntung tidak sempat membesar berkat penjelasan yang disampaikan oleh Pimpinan Muhammadiyah setempat. Situasi yang semula memanas berhasil diredam tanpa gesekan fisik atau aksi main hakim sendiri.

Namun bagaimanapun, peristiwa ini tetap menyisakan trauma dan potensi berulang di masa depan. Ini menjadi peringatan keras bahwa fanatisme golongan kerap kali mengalahkan semangat ukhuwah Islamiyah.

Kasus dengan pola seperti ini bukanlah yang pertama. Kita sudah sering menyaksikan ketegangan yang berawal dari perbedaan “bendera”, lalu berujung pada pengerahan massa. Belum hilang dari ingatan kita insiden penurunan papan nama masjid milik Persyarikatan di Banyuwangi, hingga penolakan pembangunan tempat ibadah di Aceh.

Bagi Muhammadiyah, runtutan kejadian yang terus berulang ini adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika dakwah amar makruf nahi mungkar yang mesti dihadapi dengan prinsip kepatuhan pada hukum dan tidak membalas dengan kekerasan.

Dalam menyikapi hal ini, kita perlu bercermin pada tantangan yang dihadapi K.H. Ahmad Dahlan tatkala awal berdakwah. Sejarah mencatat adanya penolakan keras dari sebagian ulama keraton saat beliau bersama para santrinya meluruskan arah kiblat di Masjid Kauman.

Tragisnya, perselisihan itu berimbas pada pembakaran langgar yang beliau dirikan hingga rata dengan tanah. Belum lagi ancaman fisik yang harus beliau hadapi usai berdakwah di Banyuwangi.

Namun, semua halangan itu beliau hadapi dengan santun dan beradab. Beliau tidak mengerahkan santri untuk membalas secara fisik, tidak pula membalas ancaman dengan ancaman.

Inilah watak dasar yang diteladankan oleh para pemimpin Muhammadiyah dari masa ke masa: dakwah yang merangkul, bukan memukul. Ini bukan sekadar slogan manis di atas mimbar, melainkan sikap mental yang menjelma dalam amal nyata.

Melalui fondasi tiga pilar gerakan—iman, ilmu, dan amal—Muhammadiyah membangun peradaban. Ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, hingga panti asuhan didirikan di seluruh pelosok negeri. Semua fasilitas tersebut terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang asal kelompok, mazhab, ataupun latar belakang.

Sayangnya, tidak setiap langkah tulus itu disikapi dengan bijak oleh sebagian kalangan. Masih ada yang gemar mengungkit perbedaan hingga berubah menjadi kebencian.

Tentu ini bukanlah sikap resmi institusi, melainkan ulah oknum personal yang tidak ingin saudara seimannya mendapat tempat di hati masyarakat. Di berbagai panggung pengajian maupun peringatan hari besar, isu _furu’iyah_ (cabang agama) kerap digoreng kembali.

Padahal, perbedaan pandangan itu sudah ada sejak zaman para sahabat dan imam mazhab. Namun melihat saat ini, pendapat kelompok terkadang lebih didahulukan daripada semangat merawat persaudaraan.

Warga Muhammadiyah sendiri pada dasarnya tidak pernah alergi terhadap perbedaan. Dalam kehidupan bermasyarakat, mereka justru dikenal sangat inklusif.

SMPM 5 Pucang SBY

Mereka senantiasa hadir dalam kerja bakti, menjenguk tetangga yang sakit, memuliakan tamu, atau bergotong-royong membantu hajatan kampung tanpa harus merasa kehilangan identitas teologisnya.

Belum pernah ada cerita warga Muhammadiyah melakukan tindakan anarkis untuk membubarkan acara keagamaan pihak lain hanya karena beda paham. Prinsipnya tegas: menguatkan keyakinan sendiri tanpa merusak hubungan sosial.

Bahkan ketika bersentuhan dengan tradisi lokal yang tidak dipraktikkan dalam organisasi, kehadiran mereka tetap menjaga norma kesopanan dalam kehidupan bermasyarakat.

Itulah Muhammadiyah yang tidak pernah membalas tekanan dengan aksi anarkis. Dalam setiap kasus, Persyarikatan lebih memilih jalur dialog dan hukum ketimbang dendam. Sebab, dendam hanya akan memperpanjang rantai permusuhan yang tak kunjung usai.

Sikap ini bukanlah kebetulan, melainkan refleksi dari butir-butir Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Di dalamnya ditegaskan bahwa setiap anggota Muhammadiyah wajib memupuk jiwa toleransi, menghormati kebebasan orang lain, serta berusaha menyatu dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Maka tak mengherankan jika di banyak daerah, warga non-Muhammadiyah—bahkan non-Muslim—justru merasa paling nyaman menitipkan anaknya di sekolah Muhammadiyah, paling tenang berobat di RS Muhammadiyah, hingga percaya saat kematian anggota keluarga diurus tim Persyarikatan.

Patut disayangkan, adanya unggahan dan komentar miring di media sosial yang sering memutarbalikkan fakta ini. Persoalan yang belum jelas arah anginnya, malah dijadikan pemicu permusuhan.

Padahal di depan mata, kita memiliki kewajiban kolektif yang lebih nyata. Kemiskinan yang mencekik leher. Kebodohan yang memutus masa depan, serta bencana alam yang butuh aksi tanggap darurat. Semua itu memerlukan sinergi bersama tanpa harus melihat bendera organisasi ataupun mazhabnya.

Oleh sebab itu, sudah saatnya kita bergeser arah. Dari saling menyalahkan, ke saling menguatkan. Dari mengungkit perbedaan, ke menyelesaikan persoalan umat yang mendesak.

Semoga kejadian di Karangpenang Sampang menjadi pelajaran berharga. Dan ke depan, kita semua berjalan pada satu arah: memperkuat ukhuwah, bukan mendahulukan amarah.

Akhirnya, sebagai saudara seiman tidak pantas kiranya saling menjatuhkan, apalagi hanya karena perbedaan yang tidak substantif.

Wallahu a’lam bish shawab.

Revisi Oleh:
  • Satria - 31/07/2026 11:08
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu