Medali emas kembali menambah deretan prestasi siswa SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo (Smamuga). Kali ini, prestasi tersebut diraih Rohmany Diwantra Hiyangga Syahtikundi, siswa kelas X-E4 yang akrab disapa Sakty.
Sakty berhasil meraih Juara 1 sekaligus medali emas dalam ajang Surabaya Championship 2 yang berlangsung pada 11–13 September 2026 di GOR Hayam Wuruk Kodam V Brawijaya, Surabaya.
Prestasi tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Sakty yang baru duduk di kelas X. Namun, medali emas itu bukanlah hasil yang datang secara tiba-tiba. Di baliknya terdapat latihan panjang, kedisiplinan, dukungan keluarga, serta pengalaman bertanding yang telah ia jalani sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
PWMU.CO berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Sakty di lingkungan SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo, Rabu (16/9/2026).
Sakty merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia lahir di Sidoarjo dan berdomisili di Perumahan Citra Sentosa Mandiri.
Putra pasangan Kuncoro Didik Eko Setyono dan Ririn Suriyani ini sejak kecil telah mendapatkan dukungan keluarga untuk mengembangkan bakatnya.
Kedua orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai penjual kue keliling. Dari keluarga inilah Sakty mendapatkan dorongan untuk terus berlatih dan mengejar prestasi.
Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Sepande, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 3 Candi, sebelum akhirnya menjadi siswa kelas X-E4 Smamuga.
Sementara itu, untuk mengembangkan kemampuan pencak silat, Sakty berlatih di Pencak Organisasi Ranting Candi.
Ia mengaku mulai berlatih pencak silat sejak kelas V SD.
“Karena saya didukung keluarga,” jawab Sakty ketika ditanya alasan memilih olahraga bela diri pencak silat.
Bakat Sakty di dunia pencak silat semakin terlihat ketika memasuki jenjang SMP. Sejumlah kejuaraan berhasil diikutinya dan menghasilkan prestasi.
Di antaranya Juara 1 Surabaya Championship sebanyak dua kali, Juara 1 Kapolres Cup, Juara 1 Jayandaru Open, Juara 3 Surabaya Championship, Juara 2 Pasuruan Martial Art sebanyak dua kali, Juara 2 Unesa Cup, Juara 2 Kejurda Pencak Organisasi, serta Juara 3 Kejurnas Pencak Organisasi.
Pengalaman tersebut menjadi modal bagi Sakty ketika memasuki jenjang SMA.
Pada tahun ini, ia kembali menunjukkan kemampuannya dengan meraih Juara 1 tingkat kabupaten sebanyak dua kali, serta Juara 1 pada Surabaya Championship 2.
Ada hal menarik dari respons Sakty setelah memastikan dirinya menjadi juara.
Alih-alih larut dalam euforia kemenangan, ia justru melihat masih ada bagian dari permainan yang perlu diperbaiki.
“Cukup senang, tapi tidak terlalu senang karena permainan saya masih harus diperbaiki untuk Popda tahun ini,” ujarnya.
Partai semifinal menjadi pertandingan yang paling menegangkan baginya selama mengikuti kejuaraan tersebut.
“Lawan saat semifinal,” jawabnya singkat.
Rasa gugup pun tetap dirasakannya sebelum memasuki gelanggang.
“Pasti ada rasa gugup di awal,” katanya.
Namun, ia berusaha tetap fokus menjalankan instruksi pelatih.
Ketika sudah unggul poin, Sakty diminta memutari gelanggang untuk mengulur waktu. Sebaliknya, ketika tertinggal poin, pelatih memintanya untuk mengejar ketertinggalan.
Strategi tersebut menjadi salah satu bagian yang membantunya menghadapi situasi pertandingan yang sengit.
Menjadi siswa kelas X berarti Sakty juga harus beradaptasi dengan lingkungan dan ritme pembelajaran di SMA.
Di sisi lain, latihan pencak silat tetap harus dijalankan secara disiplin. Untuk menyiasatinya, Sakty mengerjakan tugas sekolah setelah pulang sekolah karena malam hari digunakan untuk latihan.
“Saya mengerjakan tugas sekolah setelah pulang sekolah, karena kalau malam saya harus latihan,” ungkapnya.
Ia juga mengakui bahwa proses latihan tidak selalu mudah. Pernah muncul rasa lelah dan keinginan untuk menyerah.
Namun, dukungan keluarga membuatnya kembali bangkit.
“Pernah, tapi saya terus disemangati keluarga karena Popda ini peluang saya untuk bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” jelasnya.
Menurut Sakty, bagian latihan yang paling menantang adalah menjaga kondisi fisik sekaligus berat badan agar tetap sesuai dengan kategori pertandingan.
“Fisik dan menjaga berat badan,” ujarnya.
Prestasi Sakty mendapat apresiasi dari Wali Kelas X-E4, Bandini Pegat Citro Bektiningati, S.Pd.
Bu Dini mengaku bersyukur dan bangga atas prestasi yang berhasil diraih anak didiknya tersebut.
“Saya, Bu Dini selaku wali kelas, mengucapkan rasa syukur dan bangga yang luar biasa atas prestasi yang diraih ananda kami Rohmany Diwantra Hiyangga Syahtikundi, yang akrab disapa Sakty,” tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan meraih medali emas dalam Surabaya Championship 2 bukan pencapaian yang mudah. Prestasi tersebut merupakan buah dari proses panjang yang melibatkan latihan, kedisiplinan, semangat juang, serta dukungan orang tua dan pelatih.
“Bagi saya, Sakty adalah sosok siswa yang tidak hanya kuat di gelanggang, tetapi juga memiliki semangat juang dan disiplin yang tinggi,” ungkapnya.
Bu Dini juga menilai prestasi Sakty telah membawa kebanggaan bagi kelas dan sekolah.
Ia berharap medali emas tersebut menjadi awal bagi Sakty untuk terus mengembangkan potensinya dan meraih prestasi di tingkat yang lebih tinggi.
“Semoga ini menjadi awal dari perjalanan panjangnya untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi hingga ke tingkat nasional. Kami semua bangga padamu, Sakty!” katanya.
Di balik ucapan selamat atas medali emas yang diraih Sakty, Bu Dini juga menyampaikan pesan agar prestasi tersebut diiringi dengan sikap rendah hati dan tanggung jawab sebagai pelajar.
“Selamat ya, Nak, atas medali emasnya! Bu Dini sangat bangga padamu. Bu Dini tahu perjuangan di balik medali ini pasti penuh keringat dan rasa lelah,” ujarnya.
Ia berpesan agar Sakty tetap rendah hati meskipun semakin banyak prestasi yang diraih.
“Semakin tinggi prestasi, harus semakin menunduk. Hormati orang tua, hormati pelatih, dan jangan pernah lupakan pelajaran di sekolah,” pesan Bu Dini.
Ia juga berharap Sakty mampu menjaga keseimbangan antara prestasi olahraga dan pendidikan.
“Jadilah juara di gelanggang silat, dan jadilah juara juga di kelas. Bu Dini akan selalu mendoakan dan mendukungmu,” tambahnya.
Tidak hanya memberikan pesan kepada Sakty, Bu Dini juga mengajak seluruh siswa X-E4 menjadikan keberhasilan tersebut sebagai inspirasi.
Menurutnya, setiap siswa memiliki potensi dan bakat masing-masing yang dapat dikembangkan melalui kedisiplinan dan keberanian untuk mencoba.
“Mari kita jadikan keberhasilan Sakty ini sebagai inspirasi. Kalau Sakty bisa membuktikan bahwa siswa kelas kita bisa menjadi Juara 1 di Surabaya, kalian pun pasti bisa dengan bakat kalian masing-masing,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa prestasi tidak lahir secara instan.
“Semua juara berawal dari disiplin dan keberanian untuk mencoba. Bu Dini tunggu prestasi-prestasi hebat kalian selanjutnya!” ujarnya.
Di balik keberhasilan Sakty, sosok ayah juga memiliki peran dalam menjaga semangat dan kondisi fisiknya.
Sakty bercerita, sang ayah sering mengingatkannya untuk melakukan latihan fisik di lapangan.
“Ayah sering mengingatkan saya untuk latihan fisik di lapangan untuk menjaga fisik saya,” katanya.
Kepada ayahnya, Sakty menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna.
“Terima kasih Ayah telah membantu dan mendukung saya.”
Kini, setelah berhasil membawa pulang medali emas dari Surabaya Championship 2, Sakty tidak ingin berhenti.
Target berikutnya sudah ia tentukan, yakni Popda tahun ini.
“Saya mengincar juara di Popda tahun ini,” tegasnya.
Cita-citanya pun cukup jelas. Sakty ingin menjadi TNI.
Untuk mencapai cita-cita tersebut, ia menyadari masih banyak proses yang harus dijalani. Latihan harus terus dilakukan, pendidikan tetap dijaga, dan setiap pertandingan harus dijadikan bahan evaluasi.
Sakty memiliki satu motto yang menjadi pegangan dalam perjalanan prestasinya:
“Jadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik.”
Motto tersebut seolah menggambarkan sikap Sakty setelah meraih emas. Ia tidak menganggap kemenangan sebagai akhir perjalanan.
Justru, medali emas Surabaya Championship 2 menjadi pengingat bahwa masih ada pertandingan berikutnya, masih ada kekurangan yang harus diperbaiki, dan masih ada cita-cita yang harus diperjuangkan.
Dari gelanggang pencak silat, Sakty kini membawa satu pesan penting untuk dirinya sendiri: terus berlatih, tetap rendah hati, dan menjadi lebih baik dari pertandingan sebelumnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments