Kesehatan mental remaja bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan kita. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak Indonesia. Dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining, 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sedangkan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (Kemkes.go.id, 2026).
Angka tersebut memang bukan diagnosis klinis, tetapi cukup menjadi alarm bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian sejak usia sekolah.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Pham et al. (2024) terhadap 2.161 remaja usia 16–18 tahun di Jakarta dan Sulawesi Selatan. Penelitian itu menemukan gejala depresi pada 12,6 persen remaja yang masih bersekolah dan 23,5 persen pada remaja yang tidak bersekolah.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental remaja hadir dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kita perlu mengenalinya dan memberikan dukungan sejak dini.
Remaja dan Pergulatan Menemukan Diri
Mengapa masa remaja begitu rentan? Pada fase ini, perubahan fisik, cara berpikir, emosi, hubungan sosial, dan pencarian identitas berlangsung hampir bersamaan. Remaja mulai bertanya tentang siapa dirinya, bagaimana orang lain melihatnya, dan apakah dirinya cukup berharga untuk diterima.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu mudah mereka jawab. Di sinilah harga diri menjadi bagian penting dalam perkembangan remaja.
Harga diri bukan sekadar keberanian untuk tampil atau kemampuan menunjukkan diri di hadapan orang lain. Harga diri berkaitan dengan cara seseorang menilai dirinya sebagai pribadi yang berharga dan mampu.
Meta-analisis Orth et al. (2018) menunjukkan bahwa harga diri cenderung stagnan pada rentang usia 11–15 tahun, setelah sebelumnya meningkat pada masa kanak-kanak. Fase tersebut menjadi penting karena cara remaja memandang dirinya dapat memengaruhi cara mereka menghadapi berbagai pengalaman sosial dan emosional.
Persoalannya tidak berhenti pada rasa minder. Sowislo dan Orth (2013), melalui meta-analisis penelitian longitudinal, menemukan bahwa harga diri rendah menjadi faktor kerentanan terhadap depresi, sementara hubungannya dengan kecemasan berlangsung dua arah.
Temuan Liu et al. (2021) melalui penelitian selama dua tahun terhadap 1.015 remaja awal turut memperkuat hubungan tersebut.
Harga diri rendah dapat memprediksi lebih banyak masalah kesehatan mental, sementara persoalan kesehatan mental pada saat yang sama dapat memengaruhi cara remaja memandang dirinya.
Dari mana remaja belajar melihat dirinya sebagai pribadi yang berharga? Salah satu jawabannya terletak pada relasi dengan orang tua, karena keamanan kelekatan berhubungan erat dengan pembentukan harga diri.
Pinquart (2023), melalui meta-analisis terhadap 202 penelitian dengan 81.485 partisipan, menemukan bahwa kelekatan yang lebih aman dengan orang tua berkaitan dengan harga diri yang lebih tinggi dan memprediksi peningkatannya dari waktu ke waktu.
Namun, menegaskan pentingnya keluarga bukan berarti menyalahkan orang tua. Tidak semua orang tua memiliki waktu, pengetahuan, atau keterampilan komunikasi yang sama.
Pada saat yang sama, tidak semua remaja mampu mengungkapkan perasaannya, bahkan kepada orang yang paling dekat dengan mereka. Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar mengandalkan satu lingkungan.
Ketika Remaja Membutuhkan Ruang Aman
Remaja membutuhkan lebih dari satu sumber dukungan. Mereka membutuhkan ruang aman, yaitu ruang yang memungkinkan mereka menyampaikan cerita tanpa langsung mendapat cap lemah, lebay, nakal, atau kurang bersyukur.
Ruang aman bukan tempat tanpa aturan dan nasihat. Sebaliknya, ruang ini memberi kesempatan kepada remaja untuk mengungkapkan perasaan sebelum orang dewasa menentukan apa yang harus mereka lakukan.
Ruang aman juga tidak menggantikan keluarga. Ia menjadi bagian dari ekosistem dukungan yang melibatkan keluarga, sekolah, teman sebaya, tenaga profesional, dan komunitas.
Setiap lingkungan memiliki peran yang berbeda dalam membantu remaja menghadapi persoalan. Ketika satu ruang belum mampu menampung kebutuhan mereka, ruang lain dapat menjadi jembatan untuk memperoleh dukungan yang sesuai.
Di tingkat komunitas, PASHMINA (Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul Aisyiyah) dapat menjadi salah satu ikhtiar.
PASHMINA mengembangkan model pendampingan remaja melalui pelatihan kader dan motivator, praktik layanan, evaluasi, serta pendampingan berkelanjutan. Program ini juga membekali pendamping dengan pengetahuan tentang psikologi remaja (Nasyiah Jatim, 2026).
Pusat pelayanan ini tentu bukan jawaban tunggal bagi seluruh persoalan kesehatan mental remaja. Nilainya terletak pada upaya mendekatkan pendampingan kepada kehidupan remaja.
Pendekatan yang dekat memungkinkan pendamping mengenali persoalan lebih awal dan membantu remaja memahami kapan mereka membutuhkan bantuan lebih lanjut. Dengan demikian, komunitas dapat menjadi pintu awal menuju dukungan yang lebih tepat.
Sebab, sebelum seorang remaja sampai pada layanan profesional, sering kali ada satu hal sederhana yang harus terjadi lebih dahulu: ia berani bercerita. Keberanian itu tidak muncul begitu saja.
Remaja membutuhkan pengalaman bahwa ketika mereka berbicara, seseorang akan mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Dari pengalaman itulah kepercayaan dapat tumbuh.
Dari Alarm Menuju Kepedulian
CKG membantu kita melihat alarmnya. Psikologi membantu kita memahami bahwa kesehatan mental remaja berkaitan dengan cara mereka memandang diri dan mengalami relasi dengan orang-orang terdekat.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Bagaimana menangani remaja yang bermasalah?” Kita juga perlu bertanya lebih awal: “Ketika seorang remaja menghadapi masalah, apakah ia memiliki seseorang yang dapat dipercaya untuk mendengarkan ceritanya?”
Menjaga kesehatan mental remaja tidak selalu dimulai dari nasihat panjang. Kadang, upaya itu justru bermula dari sesuatu yang sederhana: hadir dan mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Dari sana, seorang remaja dapat menemukan keberanian untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Ia tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.
Pada akhirnya, yang perlu kita bangun bukan hanya kemampuan untuk mengenali masalah, tetapi juga lingkungan yang membuat remaja merasa aman ketika menghadapi masalah. Agar seorang anak tahu: aku aman untuk bercerita, aku didengar, dan aku tidak sendirian.***





0 Tanggapan
Empty Comments