Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Konflik Menjadi Jalan Tajdid: Resolusi Konflik ala Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Ketika Konflik Menjadi Jalan Tajdid: Resolusi Konflik ala Muhammadiyah
Oleh : Ramliyanto Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Bukan kali ini saja Muhammadiyah menghadapi gesekan di tengah masyarakat. Beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diwarnai perbedaan pandangan terkait sebuah ceramah keagamaan.

Informasi yang beredar melalui media sosial berkembang begitu cepat hingga memunculkan beragam reaksi, bahkan mendorong sebagian masyarakat mendatangi kantor Muhammadiyah setempat untuk meminta penjelasan.

Syukurlah, situasi yang sempat menghangat tersebut dapat diselesaikan melalui dialog, klarifikasi, dan sikap saling menahan diri. Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa konflik bukanlah sesuatu yang baru bagi Muhammadiyah. Yang menarik bukanlah keberadaan konfliknya, melainkan bagaimana Persyarikatan yang telah berusia lebih dari satu abad menyikapi setiap dinamika tersebut.

Sejak berdiri pada tahun 1912, Muhammadiyah hadir sebagai gerakan tajdid. Hampir setiap gagasan pembaruan yang dibawa KH Ahmad Dahlan mengundang perbedaan pandangan.

Ketika beliau meluruskan arah kiblat, memperkenalkan pendidikan modern, mengajarkan pentingnya memahami Al-Qur’an secara kontekstual, hingga menghidupkan pesan Surah Al-Ma’un melalui pelayanan kepada fakir miskin, tidak sedikit pihak yang memberikan penolakan.

Namun, KH Ahmad Dahlan tidak memilih jalan konfrontasi. Beliau menjawab kritik dengan ilmu, keteladanan, dan amal nyata. Beliau meyakini bahwa gagasan yang baik akan menemukan jalannya melalui kesabaran dan kemanfaatan.

Pada masa kolonial, Muhammadiyah juga menghadapi berbagai tantangan administratif serta kecurigaan pemerintah Hindia Belanda terhadap organisasi-organisasi pribumi.

Respons Muhammadiyah bukanlah perlawanan tanpa arah, melainkan menempuh jalur hukum sekaligus membangun organisasi yang tertib, modern, dan akuntabel. Pilihan tersebut membuat Muhammadiyah memperoleh pengakuan hukum dan terus berkembang sebagai gerakan dakwah serta pendidikan.

Memasuki masa kemerdekaan, tantangan kembali berubah. Dinamika politik nasional membawa banyak organisasi Islam masuk ke dalam pusaran kepentingan politik.

Muhammadiyah memilih tetap menjaga jati dirinya sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid. Perbedaan pandangan politik di kalangan warganya tidak dibiarkan memecah Persyarikatan.

Musyawarah, disiplin organisasi, dan komitmen terhadap keputusan bersama menjadi fondasi utama dalam menjaga persatuan.

Memasuki era reformasi hingga era digital, bentuk konflik kembali mengalami perubahan. Perbedaan tidak lagi hanya terjadi di ruang-ruang pertemuan, tetapi menyebar dalam hitungan detik melalui media sosial.

SMPM 5 Pucang SBY

Informasi yang belum utuh kerap memicu kesalahpahaman bahkan memperbesar polarisasi di tengah masyarakat.

Namun, karakter Muhammadiyah tetap sama. Persyarikatan istiqamah mengedepankan tabayun, dialog, musyawarah, serta penjelasan yang jernih tanpa kehilangan keteguhan dalam memegang prinsip-prinsip Islam yang diyakini.

Benang merah dari perjalanan panjang Muhammadiyah menunjukkan bahwa Persyarikatan tidak pernah memandang konflik sebagai arena untuk mencari kemenangan atas pihak lain.

Konflik dipahami sebagai bagian dari dinamika dakwah yang harus dikelola dengan hikmah. Perbedaan diselesaikan melalui musyawarah, persoalan keagamaan dikaji melalui mekanisme tarjih yang berbasis dalil dan argumentasi, sedangkan keputusan organisasi diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.

Karena itulah energi Persyarikatan tidak habis dalam pertentangan. Sebaliknya, energi tersebut diwujudkan dalam ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah yang terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di tengah kehidupan bangsa yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan, pengalaman Muhammadiyah selama lebih dari satu abad menghadirkan pelajaran yang sangat berharga.

Keteguhan pada prinsip tidak harus melahirkan permusuhan. Perbedaan tidak harus berakhir dengan perpecahan. Justru di sanalah makna tajdid menemukan relevansinya, yakni mengubah setiap tantangan menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat persaudaraan, dan memperbesar kemanfaatan.

Barangkali, itulah salah satu warisan terbesar Muhammadiyah. Persyarikatan ini tidak dikenang karena tidak pernah menghadapi konflik, melainkan karena mampu mengelola konflik dengan kebijaksanaan, menjaga persatuan tanpa kehilangan prinsip, dan menjadikan setiap ujian sebagai jalan menuju tajdid.

Wallahu A’lam Bishawab.

Revisi Oleh:
  • Satria - 31/07/2026 11:04
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu