Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004.” Diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, pada Juni 2005. PWMU.CO menerbitkannya secara berserial, dengan tetap mencantumkan halaman buku aslinya di setiap tulisan.
Buku ini ditulis oleh Tim Penulis yang terdiri: Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Sementara anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 3
***
(halaman 8)
Perkembangan awal Muhammadiyah sangat berkaitan dengan dunia bisnis. K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang kyai, khatib di masjid keraton Jogjakarta, muballigh dan pedagang. Seorang kyai yang berprofesi pedagang bukanlah asing, karena dari sudut pandang etika dan profesi keduanya bisa dilakukan bersamaan.
Tetapi seorang pejabat keraton yang merangkap pedagang mungkin kontroversial. Dalam pandangan hidup Jawa pada awal abad ke-20, seorang priyayi pejabat keraton tidak layak melakukan aktivitas perdagangan, seperti yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan.
Di sinilah sebenarnya letak jiwa reformismenya, yakni keberanian melakukan perubahan cara pandang masyarakat, yang pada umumnya masih menyatakan bahwa seorang priyayi tidak layak atau elok berdagang. Mungkin dalam pandangan K.H. Ahmad Dahlan, berdagang adalah sunnah Rasul, dan Islam pun yang pertama kali masuk ke Indonesia (Nusantara) dibawa oleh para pedagang.
Dalam dunia perdagangan sesungguhnya terdapat karakter petualangan, spekulasi, mobilitas dan rasionalitas. Barangkali untuk masa awal abad ke-20, bisnis merupakan profesi yang paling dekat dengan modernitas dibanding ambtenaar (pegawai pemerintah), kyai dan lain-lain. Jiwa usahawan ini kemudian pada perkembangannya ikut menentukan karakter Muhammadiyah yang modernis.
Di samping pedagang, para muballigh juga sangat berjasa dalam “menembus benteng tradisi”. Dikenallah tokoh-tokoh seperti Kyai Fanan, yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk melakukan pencerahan dan menanamkan kesadaran akan keterbelakangan umat.
Ada tiga hal yang patut diingat sehubungan dengan modal Muhammadiyah dalam “menembus benteng tradisi,” yakni pemikiran, amal usaha, dan figur pemimpin. Pada awal abad ke-20, pemikiran yang dikembangkan oleh Muhammadiyah adalah sesuatu yang masih asing di masyarakat. Pikiran-pikiran baru tentang pentingnya pendidikan modern, pertolongan untuk orang-orang yang lemah, dan ajakan untuk mengamalkan ajaran Islam secara murni, modern dan sungguh-sungguh telah menggugah kesadaran baru.
Muhammadiyah ibarat mercusuar di tengah lautan di malam hari yang gelap gulita. Orang membutuhkan mercusuar itu dan mengharapkannya menjadi awal pencerahan dan kebangunan umat.
(halaman 9)
Di samping itu, amal usaha juga menjadi daya tarik orang untuk masuk Muhammadiyah. Kombinasi antara kurikulum modern dan ajaran Islam dalam sekolah-sekolah Muhammadiyah dipandang sebagai alternatif pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan jaman, yaitu lahirnya kepribadian dan kemampuan yang maju dan pada saat yang sama mengamalkan ajaran Islam.
Di luar Muhammadiyah, sekolah agama cenderung anti-modernitas (konservatif), dan sekolah umum cenderung anti-agama (sekular). Demikian juga, figur tokoh ternyata menjadi daya tarik yang sangat kuat apalagi dalam kondisi masyarakat yang masih mengutamakan hubungan-hubungan yang bersifat personal.
Tokoh Muhammadiyah yang pedagang pasti telah memanfaatkan hubungannya dengan sesama pedagang atau pembeli untuk sosialisasi pikiran-pikiran dan gerakan Muhammadiyah. Tetapi yang lebih penting sebagai faktor pendorong konversi (masuk Muhammadiyah) ialah kepribadian sang tokoh. Seorang Muhammadiyah yang jujur, penolong, kaya, cerdas dan berpenampilan necis menyebabkan orang lain memiliki harapan bahwa jika masuk Muhammadiyah ia akan mengalami mobilitas sosial vertikal seperti tokoh itu.
Seorang pegawai kereta api sangat tertarik dengan K.H. Ahmad Dahlan dalam perjumpaannya di stasiun kereta api. Ia ingin membuktikan apakah kepribadian yang ia kesankan itu juga tercermin di rumahnya. Ia datang ke Jogja, dan kemudian semakin terkesan. Pada akhirnya ia masuk dan mendirikan Muhammadiyah.
(bersambung)





0 Tanggapan
Empty Comments