Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 1

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 1
Cover depan dan cover dalam buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004 (Foto: dok/PWMU.CO)

Tulisan di bawah ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004.” Diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, pada Juni 2005. PWMU.CO akan menerbitkannya secara berserial, dengan tetap mencantumkan halaman yang terdapat dalam buku aslinya di setiap tulisan.

Buku ini ditulis oleh Tim Penulis yang terdiri: Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Sementara anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

***

(halaman 1)

BAB I

PENDAHULUAN

Sejak awal masa bakti Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Periode 2000-2005, telah muncul keinginan agar produk intelektual ditingkatkan. Ini akan menjadi pertanda semakin kuatnya corak intelektual yang selama ini telah melekat pada gerakan Muhammadiyah. Semangat berijtihad untuk meningkatkan taraf hidup umat harus tercermin pula dalam perilaku dan cara berpikir aktivis Muhammadiyah.

Dalam periode ini lahir buku-buku hasil karya aktivis, yang sebagiannya telah diluncurkan pada tahun 2003 di Surabaya. Di samping itu, telah diterbitkan buku Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik, yang merupakan rekaman peristiwa kerusuhan di Jawa Timur menjelang jatuhnya Presiden Abdurrahman Wahid pada 2001, dan Pergumulan Tokoh Muhammadiyah Menuju Sufi, yang merupakan biografi dan rangkuman pemikiran Ustadz Abdurrahim Nur, mantan Ketua PWM Jawa Timur.

Tentu ini belum terhitung karya-karya intelektual yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah di Jawa Timur, baik berupa artikel maupun buku. Semua karya tulis itu menjadi pertanda dinamika internal di dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

Buku ini dirancang untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-45 yang diselenggarakan pada 2-8 Juli 2005 di Malang. Sejak Jawa Timur diputuskan menjadi tuan rumah, PWM Jawa Timur mulai berpikir untuk mengerahkan segala kemampuan untuk menjadikan muktamar itu berhasil dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan Persyarikatan mendatang.

Sekalipun dari sudut jumlah keanggotaan Muhammadiyah bukanlah mayoritas, tetapi tidak berarti kecil pula amal usaha dan kontribusinya terhadap perkembangan sumber daya manusia di Jawa Timur. Data tahun

SMPM 5 Pucang SBY

(halaman 2)

2004 menunjukkan bahwa di Jawa Timur secara resmi Muhammadiyah memiliki 879 lembaga pendidikan dasar dan menengah (113 Sekolah Dasar; 331 Madrasah Ibtidaiyah; 168 Sekolah Menengah Pertama; 82 Madrasah Tsanawiyah; 82 Sekolah Menengah Atas; 30 Madrasah Aliyah; 70 SMK; 3 SLB; 503 Taman Kanak-Kanak, 6 Universitas, 17 Sekolah Tinggi dan Akademi. Jadi total seluruhnya 1.405 lembaga pendidikan.

Di samping itu, di Jawa Timur terdapat 87 lembaga kesehatan (Rumah Sakit, Rumah Sakit Anak dan Bersalin, Balai Pengobatan, Rumah Bersalin dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak), 52 Panti Asuhan Anak Yatim, dan 1 Panti Wreda. Itu semua belum termasuk masjid, mushalla, dan taman pendidikan al-Qur’an, yang semua menjadi aset resmi Muhammadiyah.

Ada kecenderungan bahwa jumlah lembaga itu terus bertambah. Dilihat dari sudut amal usaha, memang tampaknya tidak ada sebuah organisasi kemasyarakatan apapun yang memiliki lembaga sebanyak yang dimiliki Muhammadiyah.

Penulisan buku Menembus Benteng Tradisi ini menjadi penting bukan saja bagi warga Persyarikatan, tetapi juga bagi masyarakat umum, karena tiga hal. Pertama, buku ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan gerakan Muhammadiyah di masa mendatang. Banyak kalangan aktivis organisasi dan pengelola amal usaha tidak memahami sejarahnya sendiri, kemudian gagal dalam menangkap ruh perjuangan Muhammadiyah dan dalam menggali kearifan yang selama ini menjadi sumber kekuatan organisasi.

Tentu, warga Muhammadiyah harus banyak belajar dari masa lalu, tetapi harus tetap berorientasi ke depan karena setiap jaman memiliki tantangannya sendiri. Kedua, buku ini akan menjadi sumber informasi. Banyak orang yang berminat meneliti Muhammadiyah, termasuk sejarahnya, membutuhkan informasi awal bagi penelusuran data-data yang diperlukan.

Ketiga, semakin segera sejarah itu ditulis akan semakin baik. Semakin panjang rentang waktu antara sebuah peristiwa tertentu dengan masa penulisannya, akan semakin sulit dilakukan rekonstruksi karena hilangnya sumber-sumber kunci. Menyadari keadaan itu bukan berarti mengabaikan sebuah kemungkinan bahwa informasi tentang sebuah peristiwa tertentu baru terungkap setelah melalui masa yang panjang.

(Bersambung) Buku Menembus Benteng Tradisi – 2

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 20/05/2026 23:52
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡