Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Selain KH Mas Mansur, Berikut Ketua Konsul Muhammadiyah se-Jawa Timur

Iklan Landscape Smamda
Selain KH Mas Mansur, Berikut Ketua Konsul Muhammadiyah se-Jawa Timur
KH Mas Mansur (x) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya di Jl Karang Tembok. Salah satu karya nyata Muhammadiyah dalam bidang Kesehatan. (foto: repro `pwm jatim)

Di Jawa Timur, bukan hanya KH Mas Mansur yang pernah menjabat sebagai Ketua Konsul Muhammadiyah. Mulai 1930-an sampai 1950-an, tercatat beberapa tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Konsul Daerah Muhammadiyah selama kepemimpinan ini belum dihapus.

Struktur kepemimpinan Muhammadiyah pada masa-masa awal masih sederhana. Hirarkinya pendek. Lebih mengutamakan dinamika organisasi, amal usaha, kemudahan komunikasi, dan koordinasi. Jumlah ranting dan cabang belum banyak.

Level paling bawah adalah ranting. Pernah disebut sebagai grup, dan pernah juga gerombolan, yang menjadi wadah bagi anggota. Di atasnya terdapat cabang yang langsung bisa berhubungan dengan Pengurus Besar di Yogjakarta (Hoofdbestuur) atau yang kini disebut Pimpinan Pusat.

“Sejak 1930, berbagai kegiatan Muhammadiyah di cabang-cabang dan ranting-ranting, mulai dirasakan perlunya pengelolaan dan kordinasi yang lebih baik. Untuk keperluan ini, berdasarkan keputusan Kongres ke-19 di Minangkabau pada 1930, Pengurus Besar mengangkat perwakilan di daerah-daerah,” begitu bunyi buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004.

Perwakilan itu disebut Consul Hoofdbestuur (Konsul Pengurus Besar) Muhammadiyah atau disingkat ‘Konsul Daerah’. Konsul Daerah itu bertanggung jawab melakukan pembinaan dan koordinasi berbagai kegiatan dan amal usaha Muhammadiyah di cabang-cabang dan ranting-ranting yang ada di daerah masing-masing.

Konsul Surabaya

Tokoh yang paling dikenal pernah menjabat Ketua Konsul Muhammadiyah di Jawa Timur adalah KH Mas Mansur. Putra asli Surabaya ini menjabat sebagai Konsul Daerah Surabaya mulai 1931 dan berakhir 1937. Ketika dia terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.

“Pada pertengahan periode ini, dibentuk pula Majelis Konsul yang terdiri dari KH. Mas Mansur sebagai Konsul, dan Mohammad Saleh, Usman Amin serta K.H. Fakih Usman sebagai anggota Majelis Konsul. Ajarsunyoto juga tercatat sebagai salah satu anggota Majelis Konsul Surabaya pada 1937.”

Kedudukan KH. Mas Mansur sebagai Konsul digantikan oleh K.H. Fakih Usman selama periode 1937-1944. Pada 1938, Majelis Konsul Surabaya terdiri dari KH. Fakih Usman (Konsul), Tamsi (Sekretaris), Wondowijoyo, M. Saleh Ibrahim, Wisatmo, dan Siti Aminah, masing-masing sebagai anggota majelis.

Konsul Madiun

Sementara itu, jabatan Konsul Daerah Madiun dipegang M. Alidiwiryo pada 1933. Setahun kemudian digantikan Prawirodimulyo. Selanjutnya pada awal 1940-an, Konsul Daerah Madiun adalah Abdul Mukti. Muhammadiyah Konsul daerah Madiun membawahi cabang-cabang dan ranting-ranting di wilayah Ponorogo, Magetan, Madiun, Ngawi dan Pacitan.

SMPM 5 Pucang SBY

Konsul Pasuruan

Di Daerah Pasuruan, A.R.C. Salim yang tinggal di Pasuruan menjabat Konsul pada 1934. Pada tahun 1937, jabatan tersebut dipegang K.M. Nur Yasin yang bertempat tinggal di Kota Malang.

Setelah K M. Nur Yasin, selama 1941-1943 Konsul Daerah Muhammadiyah Pasuruan adalah Atmonotorejo. Barulah pada tahun 1943, Ketua Konsulnya adalah KH Bedja Dermaleksana, yang tinggal di Malang. Pada masa-masa tersebut, Malang termasuk dalam daerah Pasuruan.

Konsul Madura

Konsul Daerah Madura pertama kali dijabat Notoamidarmo, selama 3 tahun (1931-1933). Periode selanjutnya dipimpin oleh tokoh yang Bernama Hasbullah pada 1933-1937, yang dibantu oleh Abdul Karim dan Wiryotruno sebagai anggota Majelis Konsul.

Sedangkan sejak 1938 Konsul Daerah Madura adalah Mohammad Syafi’i, dibantu Marzuki, Ronggodanukusumo, R. Mohammad Ali, dan Abdul Hamid Mudhary. Jabatan Muhammad Syafi’i sebagai Konsul berakhir sampai jabatan tersebut dihapus dari struktur organisasi, digantikan dengan struktur pimpinan daerah di tingkat kabupaten.

Konsul Besuki

Untuk Daerah Besuki, Konsul Daerah dijabat pertama kali oleh Suyono selama 4 tahun (1933-1937). Kemudian digantikan oleh M. Lukman pada 1937 yang bertahan selama 2 tahun.

Selama periode 1938-1940, Konsul Daerah Besuki adalah Ki Thahiruddin, dengan beberapa anggota Majelis Konsul. Yaitu A. Gani (sekretaris), Sosroseputro, Budiman, R. Moch Asyrah, dan Notoadikusumo sebagai anggota.

Pada periode 1941-1943, Konsul Besuki tetap dijabat oleh Ki Thahiruddin, dibantu Secoprawiro (sekretaris), Sosroseputro dan Kyai Mohammad Fanan (anggota)

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 20/05/2026 11:04
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡